Malam itu, setelah makan malam yang sunyi dan sarat ketegangan bersama keluarga, Dani memilih menarik diri. Ia duduk sendirian di teras rumah yang remang, menatap kosong ke arah kegelapan halaman. Seumur hidupnya, Dani terbiasa mengubur masalahnya sendiri. Baginya, meminta bantuan Ayah—atau bahkan sekadar mengadu—adalah bentuk kelemahan. Ia selalu percaya bahwa ia cukup kuat untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
"Bagaimana kabarmu, Nak?"
Suara berat itu memecah keheningan, membuat Dani sedikit terlonjak. Ia menoleh dan mendapati Ayah sudah mengambil posisi duduk di kursi plastik tepat di sampingnya. Kehadiran yang tiba-tiba itu membuat atmosfer teras mendadak terasa begitu kaku dan mencekat.
Dani kebingungan. Otaknya berputar cepat mencari kata-kira yang pas untuk merespons pertanyaan basa-basi itu. Bagi orang lain, pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Dani dan Ayah—dua laki-laki yang selama bertahun-tahun hanya bicara seperlunya tentang cuaca atau kabar kesehatan yang normatif—pertanyaan ini terasa begitu asing.
Ada pergolakan batin yang hebat di dada Dani. Di satu sisi, ia ingin berbohong, memasang topeng tangguh seperti yang biasa ia lakukan agar Ayah tidak perlu mencampuri urusan pribadinya. Di sisi lain, bayang-bayang utang tiga miliar itu terlalu besar untuk disembunyikan. Dani juga tahu, Ayah bukanlah tipe orang yang pandai memancing anaknya untuk terbuka. Ayah adalah sosok konvensional yang jarang mendengarkan pendapat anak-anaknya, lebih sering mendikte, atau justru memilih diam dan membiarkan ego masing-masing membangun tembok pembatas.
Mengutarakan isi kepala kepada Ayah terasa seperti menyeberangi jembatan rapuh yang siap runtuh kapan saja. Dani cemas jawabannya justru akan memicu kritik, atau lebih buruk lagi: keheningan yang menghakimi.
Pada akhirnya, Dani memilih untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahnya kelu. Ia hanya mampu menoleh lirih, membalas tatapan canggung Ayah dengan sebuah anggukan lambat dan segaris senyum tipis yang getir. Sebuah senyuman tanpa suara yang menjelaskan segalanya—bahwa ia sedang hancur, namun egonya masih terlalu tinggi untuk mengeja kata 'tolong' di depan laki-laki tua itu.
Anggukan kaku dan senyum getir Dani dibalas Ayah dengan tatapan yang tak kalah canggung. Pria tua itu berdeham, lalu mengalihkan pandangan ke arah jalanan sepi. Keheningan di antara mereka kembali menebal, menciptakan jarak tak kasat mata yang sebenarnya sudah terbangun sejak belasan tahun lalu.
Pikiran Dani mendadak terlempar ke masa remaja, ke sebuah malam di mana tembok pembatas di antara mereka pertama kali didirikan.
Saat itu Dani baru lulus SMA. Dengan mata berbinar dan dada penuh ambisi, ia membawa brosur akademi seni ke hadapan Ayah. Dani ingin menjadi arsitek atau desainer—ia ingin melukis masa depannya sendiri. Namun, Ayah bahkan tidak melirik brosur itu. Dengan satu dobrakan meja dan suara bariton yang tak membantah, Ayah memutuskan sepihak: "Ambil jurusan akuntansi. Laki-laki harus realistis. Seni tidak bisa memberimu makan."
Ketika Dani mencoba membela diri dan menyuarakan pendapatnya, Ayah langsung memotongnya dengan kalimat yang membekas hingga hari ini: "Kamu tahu apa soal hidup? Cukup turuti kata Ayah kalau mau sukses."
Sejak malam itu, sesuatu di dalam diri Dani mati. Ia berhenti berbagi cerita. Ia mengikuti kemauan Ayah, kuliah akuntansi, lalu bekerja di bidang keuangan—jalur yang ironisnya kini justru membawanya ke jurang kehancuran tiga miliar ini. Dani bersumpah sejak hari itu bahwa ia akan menyelesaikan setiap masalah hidupnya sendiri, tanpa pernah melibatkan Ayah lagi. Baginya, melibatkan Ayah hanya berarti satu hal: penghakiman dan pendiktean.
Kembali ke masa kini, Dani mengepalkan tangannya tersembunyi di dalam saku celana. Rasa perih dari masa lalu itu bergesekan dengan rasa frustrasinya saat ini.
Ayah menghela napas panjang, memecah kilas balik di kepala Dani. Pria tua itu meraba saku kemejanya, mengeluarkan sebungkus rokok yang sudah agak remuk—kebiasaan yang sebenarnya sudah lama ia tinggalkan karena faktor usia. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Ayah menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya membubung di antara mereka.
"Ayah tahu..." suara Ayah terdengar serak, memecah kesunyian teras. "Kamu pasti berpikir Ayah datang ke sini hanya untuk menyalahkanmu lagi, kan?
Dani menatap asap rokok Ayah yang bergerak lambat tertiup angin malam. Pertanyaan Ayah barusan terasa menelanjangi ego yang selama ini ia rawat dengan rapi. Alih-alih melunak, pertahanan diri Dani justru otomatis bangkit. Ia menegakkan punggungnya, memperlebar jarak duduk mereka.
"Dani nggak berpikir begitu, Yah," sahut Dani. Suaranya terdengar datar, namun ada nada dingin yang defensif di setiap penekanan kata.
Ia mengalihkan pandangan dari Ayah, memilih menatap lurus ke arah kegelapan halaman. "Lagi pula, ini masalah Dani. Faisal yang berbuat curang, dan Dani yang kurang hati-hati sebagai kepala bagian. Jadi, ini tanggung jawab Dani sepenuhnya. Dani bisa menyelesaikannya sendiri."
Ayah menoleh pelan, menatap profil samping wajah putranya yang tampak mengeras. "Tiga miliar dalam tiga puluh hari, Dani. Bagaimana caramu menyelesaikannya sendiri?"
Dani terkekeh sinis, sebuah tawa getir yang dipaksakan untuk menutupi kepanikan yang sebenarnya sedang mencengkeram dadanya. "Dani punya koneksi di Riau. Teman-teman kuliah, relasi kerja, beberapa vendor perusahaan. Dani akan cari pinjaman, atau kalau perlu Dani jual mobil dan mengambil over kredit rumah ini. Dani sudah dewasa, Yah. Bukan anak SMA lagi yang harus didikte ke mana harus melangkah atau jalan mana yang harus diambil."
Kalimat terakhir Dani meluncur begitu saja, tajam dan sarat akan sindiran masa lalu. Teras rumah mendadak terasa makin dingin. Dani tahu ia terdengar kasar dan angkuh di hadapan pria tua yang sudah jauh-jauh datang dari luar provinsi demi dirinya. Namun, rasa trauma karena selalu dianggap tidak mampu membuat Dani menolak untuk terlihat lemah di mata Ayah. Ia ingin membuktikan bahwa tanpa campur tangan sang Ayah, ia bisa keluar dari lubang jarum ini.
Ayah terdiam lama. Beliau menghisap dalam-dalam rokoknya, lalu mengembuskannya perlahan. Alih-alih marah karena ucapan defensif Dani, guratan lelah di wajah tua itu justru tampak semakin kentara.
"Kamu memang sudah dewasa, Dan," ucap Ayah lirih, suaranya terdengar begitu tenang namun justru memukul telak ego Dani. "Tapi dewasa bukan berarti kamu harus menanggung semuanya sendirian sampai hancur."
Dani tetap bersikeras. Ia kembali menimpali perkataan ayah.
"Benar, Yah. Dani sudah punya jalan keluar," potong Dani cepat, nadanya meninggi seolah sedang membangun benteng kokoh untuk melindungi harga dirinya yang mulai terkikis.
Dani membasahi bibirnya yang kering, Dani melanjutkan, mencoba membuat suaranya terdengar seprofesional mungkin di hadapan Ayah. "Bahkan sebelum masalah Dyan ini meledak, Dani sudah punya janji dengan salah satu investor. Kami sudah bertemu beberapa kali dan mencapai kesepakatan. Dia bersedia bergabung dan memberikan pinjaman modal."
Ayah tidak menyela. Beliau hanya menatap Dani dari balik kepulan asap rokok, mendengarkan dengan saksama, seolah sedang membaca apa yang sebenarnya tersembunyi di balik mata putranya.
"Dia akan masuk sebagai salah satu pemodal di proyek perusahaan Dani berikutnya. Begitu Dani menang tender lagi, dia akan langsung dapat bagian keuntungan yang besar. Memang... perjanjian awalnya tidak sebanyak itu, karena Dani sama sekali tidak menyangka Dyan akan terseret masalah ini. Tapi Dani akan berusaha memohon. Dani akan yakinkan investor ini agar mau menambah dana bantuan dari kesepakatan awal kami."
Dani mengembuskan napas panjang, lalu menatap Ayah lurus-lurus, mencoba mengusir keraguan yang menggantung di teras itu. "Jadi, Ayah tenang saja. Bantu doa dari rumah supaya semuanya berjalan lancar. Dani bisa urus ini."
Kalimat itu terdengar seperti sebuah final—sebuah garis batas tegas yang ditarik Dani agar Ayah tidak melangkah lebih jauh ke dalam wilayah pribadinya. Namun, di dalam hatinya sendiri, Dani tahu ia sedang berjudi dengan waktu. Menyakinkan seorang investor untuk menaikkan angka pinjaman secara mendadak demi menutup kasus penggelapan bukanlah perkara mudah. Itu adalah rencana yang rapuh, namun egonya menolak untuk runtuh di depan sang Ayah.
Ayah menurunkan rokoknya, mengetukkan abunya ke pinggir lantai teras. Beliau menatap Dani lama, tatapan seorang pria tua yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, yang tahu persis beda antara keyakinan sejati dan keputusasaan yang sedang menyamar.
Namun, Ayah tidak mengatakan apa pun. Tidak ada bantahan, tidak ada rentetan pertanyaan skeptis, apalagi kalimat penghakiman yang selama ini selalu Dani takuti.
Pria tua itu hanya mengangguk pelan. Guratan tegas di wajahnya melunak, digantikan oleh sorot mata yang teduh namun sarat akan kelelahan. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Ayah memilih untuk menurunkan egonya, menahan diri untuk tidak mendikte, dan mencoba menaruh kepercayaan penuh pada keputusan anak laki-lakinya.
Ayah mematikan puntung rokoknya pada aspal di tepi teras, lalu berdiri dengan bertumpu pada lututnya yang mulai linu. Beliau menepuk pundak Dani sekali lagi—kali ini lebih lembut, seolah menyalurkan sisa kekuatan yang ia miliki.
"Baiklah kalau begitu. Ayah pegang kata-katamu," ucap Ayah lirih, hampir menyerupai bisikan di tengah angin malam. "Masuklah, sudah malam. Istirahat yang cukup karena besok kamu butuh energi besar untuk menemui investormu."