Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #10

Chapter #10

Selepas makan siang, ruang tengah di rumah Dani mendadak diselimuti atmosfer yang mencekam. Ayah duduk berdampingan dengan ketiga anaknya, berkumpul demi membicarakan sepotong harapan terakhir: kemajuan kabar mengenai investor yang rencananya ingin ditemui oleh Dani. Di sudut sofa, kondisi Dyan masih begitu rapuh. Gadis itu masih sering terdiam, mengunci mulutnya rapat-rapat dengan tatapan kosong yang mengarah ke lantai. Sementara itu, gurat-gurat di wajah Dani tampak kian hari kian mengusut. Tidur nyenyak telah menjadi kemewahan yang mustahil baginya sejak badai besar menimpa sang adik. Pikiran yang semrawut dan saling tumpang-tindih di kepalanya tergambar jelas dari tampangnya yang berantakan—rambut acak-acakan dan kantung mata hitam yang menebal. Siapa pun yang melihat penampilannya saat ini pasti akan langsung didera rasa iba.

Perasaan yang sama juga berkecamuk di dalam dada Raya. Di samping rasa khawatir atas mental Dyan, batin Raya justru paling tersayat melihat kondisi abangnya itu. Dani seolah sedang dikutuk; nasib buruk menghantamnya bertubi-tubi tanpa ampun. Belum kering luka batinnya akibat ditipu mentah-mentah oleh sahabat dekatnya sendiri yang menyisakan lubang kerugian besar, kini ia harus kembali memikul batu ujian baru akibat kesalahan fatal adik bungsunya. Rentetan kemalangan yang terus-menerus datang mendera ini membuat Raya tak tega menatap sang abang berlama-lama.

Melihat Dani yang tampak kelu dan kesulitan menguraikan kata-kata, Ayah akhirnya mengambil alih situasi dan memulai pembicaraan. Dua hari telah berlalu dalam kesunyian, dan Dani belum mengeluarkan sepatah kata pun mengenai perkembangan kerja sama dengan investor tersebut.

"Bagaimana, Nak, mengenai investor yang ingin kerja sama dengan kamu seperti yang kamu katakan kemarin?" tanya Ayah langsung, terang-terangan tanpa basa-basi lagi.

Dani terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dan ketegaran yang tersisa di dalam dadanya sebelum menjawab perlahan, "Entahlah, Yah. Ini juga yang membuat Dani pusing semalaman."

Alis Ayah bertaut rapat. "Kenapa, Nak? Apa terjadi sesuatu?"

"Dani baru dapat kabar... investor yang ingin Dani temui itu mengalami kecelakaan parah, Yah," sahut Dani, suaranya terdengar lirih namun berdentum berat di telinga mereka semua. "Sekarang dia sedang dirawat intensif di rumah sakit."

Mendengar kabar yang mengejutkan itu, Ayah langsung tertegun. Pikirannya mendadak buntu, tak habis mengerti bagaimana bisa nasib buruk berputar di lingkaran keluarga mereka tanpa jeda.

"Lalu bagaimana selanjutnya, Bang?" tanya Raya, tak kalah kaget mendengar kabar buruk yang baru saja meluncur dari bibir abangnya.

"Abang masih usahakan untuk berkomunikasi dengan asisten pribadinya. Tapi lukanya cukup berat. Sepertinya akan membutuhkan waktu yang sangat lama sampai dia bisa kembali pulih dan menemui kita," jawab Dani seraya mengembuskan napas berat, mencoba berdamai dengan kenyataan yang pahit. "Padahal Dani sudah deal-deal-an dengan orang itu, Yah. Dia sudah berjanji mau bekerja sama dan memberikan suntikan modal untuk Dani. Arrrgh!" Dani menggosok dan meremas rambut di kepalanya berkali-kali dengan frustrasi, seolah-olah sedang berusaha mengguncang seluruh isi kepalanya yang kian memanas.

"Sepertinya kita harus segera mencari opsi lain sebelum waktu sebulan berlalu," potong Ayah dengan nada tegas. Kegusaran mulai merayap di dada pria paruh baya itu, meragukan rencana Dani yang kini berantakan. Tenggat waktu satu bulan bukanlah waktu yang lama, sementara jumlah uang yang harus mereka kumpulkan terlampau raksasa.

"Sudah, Yah, tenang saja. Dani pasti coba cari cara lain untuk mengurusi masalah ini. Dani sudah coba hubungi semua koneksi yang Dani punya," sergah Dani cepat.

Di balik kalimat penenang itu, ego Dani sebenarnya mulai goyah dan retak. Jauh di lubuk hatinya, ada ketakutan purba yang mendadak bangkit kembali—ketakutan jika Ayah akan menatapnya dengan pandangan merendahkan, memandang dirinya sebagai anak lelaki yang tidak becus. Dani menolak keras jika Ayah harus kembali turun tangan, merebut kendali, dan mendikte hidup serta rencananya seperti tahun-tahun yang lalu.

Dani masih ingat betul bagaimana rasanya menjadi anak laki-laki yang selalu disetir. Dulu, setiap pilihan hidupnya—mulai dari jurusan kuliah, tempat magang, hingga keputusan karier pertamanya—selalu dirampas oleh ketegasan Ayah yang otoriter dengan dalih 'demi kebaikan Dani'. Bertahun-tahun Dani hidup di bawah bayang-bayang keputusan Ayah, merasa kerdil dan tidak pernah dianggap sebagai laki-laki dewasa yang mandiri. Butuh perjuangan berdarah-darah dan pembuktian panjang di kota ini sampai akhirnya Ayah mau melepas kendali itu dan mulai menghormatinya.

Alasan itulah yang membuat Dani tak berhenti bergerak sejak hari pertama Dyan tertimpa masalah. Ia terus-menerus menempelkan ponsel ke telinga, menghubungi setiap rekan kerja dan kenalan yang ia miliki demi meminjam uang untuk membayar denda. Namun, meski sudah menelepon ke sana kemari hingga energinya terkuras habis, hasilnya tetap nihil. Dani tahu betul, tidak akan pernah mudah bagi siapa pun untuk meminjamkan uang dalam jumlah sebesar itu dalam sekejap mata.

Namun, sekeras apa pun dani mencoba memalsukan ketegaran melalui kata-kata, guratan di wajahnya tidak bisa berbohong. Ayah masih bisa menangkap binar gamang yang bergetar di sepasang mata anak lelaki tunggalnya itu—sebuah ketakutan samar yang sengaja Dani sembunyikan di balik topeng keberaniannya. Ayah menatap Dani lama, mencari sisa-sisa keraguan di mata anak lelakinya itu. Namun yang ia temukan hanyalah harga diri seorang laki-laki yang menolak untuk bertekuk lutut pada masalah. Dengan berat hati, Ayah akhirnya mengangguk pelan.

“yah lebih baik ayah, raya dan dyan kembali saja ke kampung untuk urusan ini biar dani yang urus semuanya.” Dani kembali melanjutkan dengan pernyataan yang semakin membuat ayah bingung, apa rencana yang akan dia rancang sendirian.

Lagi, Ayah tidak langsung menjawab. Beliau menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang sesak dipenuhi udara. Sepasang matanya yang mulai merabun menatap lekat-lekat wajah anak sulungnya itu. Ada rasa bersalah yang amat besar mengiris hatinya; sebagai seorang kepala keluarga, ia merasa gagal karena harus membiarkan Dani menanggung beban seberat ini sendirian. Namun apa daya anaknya begitu amat bersikeras untuk tetap tidak goyah menurunkan ego dan meminta pertolongan kepadanya.

Perlahan, Ayah menyentuh punggung tangan Dani yang tercengkeram di lututnya. Tangan tua yang bergetar itu terasa dingin.

"Kamu yakin, Dani?" suara Ayah terdengar parau, sarat akan keraguan yang menggelayuti hatinya. "Ini bukan uang yang sedikit. Ayah tidak tenang kalau harus membiarkanmu menghadapi orang-orang kantor itu sendirian tanpa ada keluarga di sampingmu."

“Justru karena Dani yang paling mengenali orang-orang di kantor itu, Yah. Dani yang tahu cara menghadapi mereka. Jadi, Ayah tidak perlu khawatir,” ucap Dani, berusaha keras mengunci suaranya agar tetap terdengar kokoh.

Lihat selengkapnya