Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #11

Chapter #11

Seminggu telah berlalu, namun waktu terasa bergulir dengan cara yang kejam bagi Ayah dan seluruh keluarga. Setiap kali pagi menyapa, fajar tidak lagi membawa kehangatan, melainkan teror bisu tentang tenggat waktu vonis yang kian merayap mendekat. Beban tiga miliar itu tidak berkurang satu sen pun; ia justru menjelma menjadi monster yang tumbuh semakin raksasa, menggilas ketenangan mereka hari demi hari.

Seiring dengan kalender yang terus menipis, debar di dada Ayah kian menggila, memompa kecemasan yang tak keruan ke seluruh aliran darahnya. Demi menyelamatkan anak-anaknya, harga diri tua yang selama ini ia rawat rapat-rapat akhirnya runtuh juga. Berhari-hari kaki rentanya melangkah tanpa lelah, mengetuk satu per satu pintu rumah sanak saudara hingga rekan-rekan lama demi mengemis pinjaman. Namun, dunia mendadak berubah menjadi panggung yang dingin; setiap ketukan hanya berbalas penolakan halus, jabat tangan canggung, atau pintu yang tertutup rapat. Hasil nihil itu berbalik menghantam batin Ayah, menimbun rasa resah dan putus asa hingga ke titik tertinggi yang nyaris membuatnya gila.

Kabut kegusaran yang pekat yang tengah mengurung Ayah dan Dani rupanya berimbas hebat pada Dyan. Menaksikan dua laki-laki pelindungnya hancur perlahan, membuat jiwa Dyan kian runtuh dan terpuruk ke dasar jurang yang paling kelam. Sebagai dalang dari seluruh petaka ini, Dyan menyadari satu kenyataan yang paling menghancurkan batinnya: ia sama sekali tidak punya daya sekecil apa pun untuk memperbaiki keadaan yang sudah telanjur porak-poranda.

Pagi itu, kabut tipis Riau mulai menguap berganti terik yang membakar, namun atmosfer di pekarangan rumah Ayah justru terasa membeku. Saat Raya melangkah masuk, hatinya langsung mencelos melihat tanaman-tanaman di kebun yang semula dirawat Ayah kini dibiarkan mati mengering, kecokelatan dipanggang matahari. Rumah tua itu seolah kehilangan jiwanya; sebuah gambaran visual yang sempurna tentang betapa porak-porandanya isi dalam rumah sejak badai masalah tiga miliar itu meledak.

Kini Ayah tidak lagi sendiri. Ada Dyan yang sementara waktu tinggal bersama untuk menemani. Namun, tabiat si bungsu yang manja dan sama sekali tidak paham urusan rumah membuat Raya tidak punya pilihan selain tetap datang, menjinjing rantang berisi makan siang untuk Ayah dan adiknya.

"Ayah mana, Dek?" tanya Raya, melongok ke dalam kamar Dyan yang remang. Gadis itu masih meringkuk di atas kasur, seolah enggan menghadapi dunia.

"Ayah pergi ke kantor pagi-pagi sekali, Mbak," jawab Dyan dengan suara parau, tanpa merubah posisinya.

Raya mengernyitkan dahi, menatap jam di dinding. "Biasanya Ayah cuma absen sebentar, jam segini paling sudah di rumah. Kok ini masih belum pulang? Apa Ayah ada titip pesan sesuatu?"

Dyan hanya menjawab dengan gelengan pendek yang pasrah.

Melihat respons dingin adiknya, Raya menghela napas panjang, mencoba menahan gejolak jengkel di dada. Ia beranjak meninggalkan kamar Dyan dan melangkah menuju kamar Ayah. Berniat memastikan apakah ruangan itu sudah dibersihkan, langkah Raya mendadak terhenti di ambang pintu. Kamar itu berantakan. Seprai kasur sudah terlepas dari sudut-sudutnya, kusut masai persis seperti pikiran pemiliknya. Dyan benar-benar tidak menyentuh pekerjaan rumah sama sekali, batin Raya dengan rahang yang mengeras jengkel.

Sembari menggerutu lirih, Raya mendekati ranjang, menarik ujung seprai dan merapikannya dengan sentakan-sentakan kesal. Namun, gerakan tangannya mendadak membeku saat sepasang matanya menangkap pemandangan di atas meja kerja kayu milik Ayah di samping ranjang.

Meja yang biasanya rapi itu kini riuh oleh tumpukan berkas yang berserakan.

Raya melangkah mendekat, rasa penasarannya terusik. Jemarinya menyusuri dokumen-dokumen itu dengan saksama. Di sana, di antara map-map kusam, tergeletak sertifikat tanah rumah tua mereka dan beberapa dokumen penting milik Dyan. Jantung Raya mulai berdegup tidak keruan. Untuk apa gerangan Ayah mengeluarkan benda-benda keramat ini dari lemari besi? Apa yang sedang direncanakan orang tua itu?

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Raya membuka lembar demi lembar berkas tersebut. Detik berikutnya, sebuah kenyataan pahit menghantam dadanya hingga buntu: Ayah berniat menjual rumah ini. Rumah tua penuh kenangan peninggalan almarhumah Ibu, tempat di mana dinding-dindingnya merekam tawa dan tangis masa kecil mereka.

Ayah mau menjual rumah ini? Sanubari Raya menjerit tidak percaya. Bukankah Ayah amat sangat mencintai tanah ini? Bahkan dulu, setiap kali anak-anaknya membujuk Ayah untuk tinggal di kota, beliau selalu menolak mentah-mentah karena tidak ingin meninggalkan sejumput pun memori tentang Ibu. Namun sekarang, demi menutup lubang kesalahan, Ayah rela melepaskan harta paling berharganya?

Mata Raya bergulir, kembali terpaku pada tumpukan dokumen di sebelah sertifikat tanah. Itu adalah berkas ijazah dan transkrip nilai milik Dyan.

Seketika itu juga, dada Raya terasa sesak, bergemuruh oleh amarah yang siap meledak kapan saja. Di sana, tergeletak semua dokumen penting milik adiknya yang telah dipersiapkan sang Ayah secara diam-diam demi memasukkan si bungsu ke perusahaan tempatnya bekerja.

Lihat selengkapnya