Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #12

Chapter #12 Dua Minggu Hitung Mundur

Pendar cahaya biru dari layar laptop menerangi wajah Dani yang kuyu di dalam kesunyian kamar kerjanya yang mencekam. Dani menerima email peringatan mengenai pengembalian kerugian dana. Email peringatan seolah melompat keluar, menjelma menjadi seutas tali tak kasat mata yang menjerat lehernya hingga ia kesulitan bernapas. Kata-kata seperti PHK tidak hormat, Polda, dan Penyitaan Aset terus berputar-putar di dalam kepalanya, menguliti sisa-sisa ketegaran yang semalaman ini ia pertahankan dengan susah payah.

Dani menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Kamar yang beralaskan ubin dingin itu mendadak terasa begitu sempit dan mengimpit. Waktu tiga puluh hari yang tertulis di sana tidak lagi terasa sebagai jangka waktu, melainkan hitung mundur menuju eksekusi mati bagi karier dan seluruh harga diri yang telah ia bangun bertahun-tahun.

Kepanikan yang masif perlahan merayap naik, membakar logikanya. Jantung Dani berdentum liar menabrak dinding dada. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyambar ponselnya yang tergeletak pasrah di atas meja. Jemarinya bergerak cepat, membuka riwayat panggilan, lalu menekan satu-satunya nama yang menjadi jangkar harapan terakhirnya: Asisten Pak Handoko (Investor).

Ia menempelkan benda pipih itu ke telinga, menahan napas dengan mata terpejam rapat.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan…”

Suara operator wanita yang datar itu terdengar seperti sebuah ejekan yang kejam bagi Dani. Ia menjauhkan ponselnya, menatap layar dengan tatapan tidak percaya, lalu menekan tombol panggil ulang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hasilnya tetap sama. Sambungan telepon itu mati, persis seperti harapan-harapannya yang perlahan mulai runtuh menjadi abu.

Frustrasi mulai mengambil alih akal sehatnya. Dani menggeram lirih, cengkeramannya pada ponsel kian mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. "Ayo angkat… tolong angkat, jangan bercanda sekarang," bisiknya dengan suara serak, memohon pada kekosongan sinyal.

Di sela-sela keputusasaannya, Dani mencoba mengirimkan rentetan pesan singkat lewat aplikasi chat. Jarinya mengetik dengan kecepatan yang memburu.

Selamat pagi, Pak. Maaf mengganggu waktunya kembali. Saya Dani Ramadhan. Mengenai kelanjutan draf investasi dan penambahan modal darurat yang kita bahas tempo hari, apakah hari ini saya bisa mendapatkan kabar kepastiannya pak? Tolong hubungi saya segera jika Bapak sudah senggang.

Dani mengirimkan pesan tersebut. Namun, saat dua centang abu-abu tak kunjung berubah warna—bahkan tanda centang dua pun tidak muncul—dada Dani terasa kian lowong.

Dani melempar ponselnya kasar ke atas kasur. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, membiarkan helaan napas frustrasi berembus panjang di sela-sela jarinya. Ego laki-laki dewasanya yang kemarin menolak mentah-mentah bantuan Ayah kini mulai goyah, dihantam oleh realitas dingin bahwa koneksi-koneksi yang ia kenal ternyata tidak ada satu pun yang bisa menolongnya keluar dari lubang jarum ini.

Pikirannya mendadak buntu, menyisakan ketakutan akut akan hari esok yang kian merayap mendekat seperti bayangan hitam yang siap menelannya bulat-bulat.

Sementara itu, di sudut lain dari badai ini, Seiring dengan kalender yang terus menipis, detak jarum jam terasa kian memburu dengan kejam; tanpa terasa, tenggat waktu dari perjanjian manajemen kantor sudah berjalan dua minggu penuh. Debar di dada Ayah kian menggila, memompa kecemasan yang tak keruan ke seluruh aliran darahnya. Demi menyelamatkan anak-anaknya, harga diri tua yang selama ini ia rawat rapat-rapat akhirnya runtuh juga. Berhari-hari kaki rentanya melangkah tanpa lelah, mengetuk satu per satu pintu rumah sanak saudara hingga rekan-rekan lama demi mengemis pinjaman.

Dunia mendadak berubah menjadi panggung yang dingin; setiap ketukan hanya berbalas penolakan halus, jabat tangan canggung, atau pintu yang tertutup rapat. Hasil nihil itu berbalik menghantam batin Ayah, menimbun rasa resah dan putus asa hingga ke titik tertinggi yang nyaris membuatnya gila. Namun hal ini tidak membuat Ayah putus asa, jalan terbaik adalah terus melangkah dan menemukan satu saja orang yang mau mengulurkan tangan membantu mereka.

Puncak dari segala pergulatan batin Ayah adalah ketika ia harus mengetuk pintu rumah seorang sahabat lama, yang kebetulan juga merupakan atasannya. Selama bertahun-tahun, Ayah selalu merasa sungkan dan enggan berurusan dengan pria itu. Dulu, karena Faktor usia atasannya yang jauh lebih muda daripadanya kerap kali memicu percikan ego di dalam dada Ayah untuk meminta bantuan.

Pikiran Ayah mendadak berputar mundur. Dahulu, saat Dani berhasil naik jabatan menjadi Kepala Bagian Keuangan dengan karir yang cemerlang dan gaji yang lebih dari cukup, Ayah adalah orang pertama yang membusungkan dada. Dani bisa hidup mapan dan nyaman di kota merantau, dan kenyataan itu membuat Ayah kerap kali menyanjung serta memamerkan pencapaian Dani dengan bangga di hadapan teman-temannya. Ia merasa telah berhasil mendidik anak lelaki tunggalnya menjadi pria sukses. Namun sekarang, kasus raksasa ini tentu akan mencoreng nama baik yang selama ini ia banggakan.

Meski begitu, tidak ada lagi waktu untuk berpihak pada rasa malu. Duduk diam meratapi nasib di kursi teras jauh lebih menyiksa batin Ayah ketimbang harus menelan bulat-bulat rasa malu akibat ego tuanya yang terluka. Ayah tidak lagi mempedulikan pandangan sinis atau bisik-bisik menghakimi dari orang-orang mengenai apa yang sedang ia lakukan sekarang.

Untungnya kali ini gayung bersambut kata berjawab. Kerja keras Ayah perlahan mulai membuahkan hasil. Atasan sekaligus teman lamanya, Pak Hartono, akhirnya bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dengan Dani. Pria itu bahkan mengaku amat menantikan pembicaraan ini karena ia mendeteksi adanya potensi bisnis yang luar biasa besar jika bisa berkolaborasi dengan Dani. Di kalangan kolega lama Ayah, reputasi Dani memang bukan rahasia lagi; ia berulang kali memenangkan tender-tender raksasa yang membuat banyak orang takjub sekaligus segan pada kemampuannya.

Di tengah secercah harapan yang baru saja dinyalakan oleh Ayah, sebuah notifikasi tiba-tiba berdenting serentak di ponsel seluruh anggota keluarga.

Dani mengirimkan sebuah foto. Gambar dirinya yang sedang duduk di dalam dek bus antarkota dengan sebuah ketikan singkat: “Otw.”

Pesan singkat itu seketika mengirimkan gelombang kejut ke dada semua orang. Tanpa ada aba-aba, tanda-tanda, atau kabar pemberitahuan terlebih dahulu, Dani tiba-tiba memutuskan untuk berbalik arah dan pulang ke kampung halaman. Ada kepedihan yang ganjil dalam kepulangannya kali ini; Dani melangkah sendirian, tanpa didampingi anak dan istrinya seperti yang biasa ia lakukan saat berlibur lebaran dengan tawa yang riuh.

Meski keputusan itu diambil secara mendadak, seluruh anggota keluarga paham betul apa arti di balik langkah tunggal tersebut. Kehadiran Dani tanpa pelukan hangat anak-istrinya adalah tanda bahwa Dani telah mengibarkan bendera putih di kota rantaunya. Egonya yang setinggi langit akhirnya runtuh berkeping-keping; ia memilih kembali ke satu-satunya tempat terakhir untuk mengaduh dan berserah, menjemput kembali sisa kekuatan batin serta dukungan moril yang sempat hilang.

Melihat pesan itu, Ayah langsung mengetikkan balasan dengan jemari tuanya yang kaku. “Hati-hati, Nak,” tulis Ayah pendek. Sebuah kalimat singkat yang sarat akan ketulusan seorang kepala keluarga yang tidak pandai merangkai kata manis, namun menyimpan kerinduan serta doa mendalam demi keselamatan sang anak lelaki tunggal.

Laras, sebagai kakak pertama yang selalu menjadi peneduh di rumah, ikut mengirimkan doa tulusnya di dalam grup. “Hati-hati di jalan dek ku, semoga lancar dalam perjalanan. Jangan lupa makan dan tidur yang cukup di jalan.”

Tak mau kalah, Dyan yang didera rasa bersalah juga ikut menyambut kehadiran abangnya dengan balasan singkat. “Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan, Bang.”

Namun, di tengah kebisingan ruang obrolan keluarga yang mendadak riuh itu, sebuah keheningan yang hampa datang dari Raya. Ia sama sekali tidak menyentuh keyboard ponselnya, menolak memberikan respons apa pun atas kepulangan Dani.

Lihat selengkapnya