Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #13

Chapter #13 Pulang ke Pelukan yang Sama

Pesan singkat dari Dani berdering tepat di sela kesibukan sore Raya, mengantarkan sebaris kalimat yang terasa formal sekaligus asing: “Kita ketemu di kafe dekat pelabuhan, Dek, setelah magrib.”

Begitu melangkahkan kaki melewati pintu kaca tempat yang disepakati, riuh rendah suara ombak dan aroma air laut langsung menyambut Raya. Sepasang matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya terkunci pada sosok Dani. Abangnya itu duduk menyendiri di sudut paling tepi, menatap lurus ke arah cakrawala laut yang mulai temaram ditelan malam. Punggung Dani yang tampak sedikit merosot membuat pria itu begitu larut dalam lamunannya, hingga sama sekali tidak menyadari jika sang adik sudah berdiri tepat di belakangnya.

“Sudah lama, Bang?”

Dani sedikit tersentak menoleh ke arah sumber suara. Raya melemparkan seulas senyum tipis, lalu menarik kursi untuk mengambil posisi tepat di samping abangnya tersebut.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Dani, suaranya terdengar agak serak, mencoba mengusir kekakuan yang mendadak merayap di antara mereka.

“Kopi cappuccino saja, Bang, seperti punya Abang.”

Dani hanya mengangguk pelan, lalu bangkit berdiri menuju meja kasir untuk memesan minuman yang diinginkan Raya. Setelah ia kembali ke meja, keheningan yang pekat dan canggung mendadak menyergap mereka berdua. Bunyi klik cangkir yang beradu dengan meja kayu seolah mempertegas sunyi. Raya memilih menahan diri untuk tetap bungkam; ia tidak akan membuka obrolan sebelum Dani sendiri yang memulai bersuara.

"Dyan udah cerita semua soal kamu dan Ayah," ucap Dani, mencairkan kecanggungan yang sempat membekukan meja mereka. Ia menatap Raya dalam-dalam, menunggu reaksi adiknya. "Kamu masih marah sama Ayah?"

Raya sempat terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang kalimat yang pas sebelum akhirnya mendesah pelan.

"Raya sebenarnya nggak marah-marah banget sama Ayah. Ya, ada sih keselnya dikit. Cuma waktu itu Raya emosi banget karena lihat Dyan yang apa-apa manja," aku Raya jujur.

Dani sengaja mengunci mulutnya. Ia memberikan adiknya waktu dan kebebasan untuk menumpahkan seluruh isi hatinya yang terpendam.

"Rasanya semuanya serba mudah kalau buat Dyan. Dia baru aja kehilangan kerjaan, Ayah langsung pasang badan buat masukin dia ke kerjaan baru. Sementara Raya? Dari awal harus ngerintis dan berjuang keras sendirian."

Dani mengangguk-angguk kecil, tanda bahwa ia sepenuhnya menangkap maksud tersembunyi dari amarah Raya. Ia tidak menyangkal, tidak juga menghakimi keluhan itu.

"Abang ngerti kok posisi kamu, Ray. Kalau Abang jadi kamu, Abang juga pasti bakal ngerasa kesel dan ngerasa nggak adil," ujar Dani, mencoba memvalidasi perasaan adiknya terlebih dahulu sebelum melangkah ke tengah.

Raya terdiam, menanti kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulut abangnya.

"Tapi di sisi lain, Abang juga coba ngerti posisi Ayah," sambung Dani dengan nada bicara yang netral. "Ayah itu kadang nggak sadar kalau keputusannya bikin salah satu anaknya terluka. Di mata Ayah, Dyan itu anak yang perlu terus dituntun karena gampang jatuh. Sedangkan kamu, Ayah terlalu bangga sama kemandirianmu, sampai dia lupa kalau kamu juga anak perempuan yang sesekali pengin dimanja."

Kata-kata Dani sukses mengunci mulut Raya. Logikanya membenarkan, Selama ini Ayah memperlakukannya seperti orang dewasa karena Raya memang selalu menunjukkan bahwa ia bisa mengatasi segalanya sendiri.

Raya mengembuskan napas panjang, bahunya yang semula tegang kini tampak melorot rileks.

"Emang agak egois sih kalau Raya mikirin diri sendiri terus," gumam Raya pelan, mulai membuka diri untuk menerima keadaan. "Tapi ya gimana, Bang. Ada masanya Raya ingin ngerasa disuapin juga kayak Dyan, nggak musti nyari makan sendiri terus."

Dani terkekeh kecil, lega melihat adiknya sudah bisa diajak berpikir jernih. "Wajar, Ray. Nanti kalau ada waktu yang pas, kita obrolin ini bareng-bareng sama Ayah, ya? Pelan-pelan."

Senyuman akhirnya terbit di wajah Raya, membuat Dani merasa bebannya malam itu berkurang separuh.

"Ngomong-ngomong, kamu tahu alasan Abang mendadak pulang ke rumah?" tanya Dani memecah keheningan yang baru.

Lihat selengkapnya