Diary untuk Langit

sabrini Hardini
Chapter #14

Chapter #14 Halaman Terakhir untuk Langit

Ayah duduk di meja kerjanya, sebuah lampu duduk menyala redup, melempar pendar kuning yang samar ke penjuru ruangan. Kursi kosong di sebelahnya masih ada di sana—kursi yang selalu Ayah tatap tiap kali beliau punya waktu untuk menumpahkan cerita untuk almarhumah Ibu.

Di luar, hujan turun pelan, mengetuk kaca jendela dengan ritme yang lambat. Untuk pertama kalinya, tangan tua Ayah kelihatan gemetar saat membuka halaman terakhir dari buku diary usang itu.

Bu…

Hari ini rumah terasa lebih tenang. Anak-anak kita akhirnya menemukan jalan mereka masing-masing.

Anak sulungmu sudah bisa tersenyum lagi bersama keluarganya.

Anak tunggal laki-laki kita, Dani juga sudah mulai menata kariernya kembali. Pak Hartono bersedia menerima kerja sama dengan Dani, dan semua urusan ganti rugi pun sudah bisa diselesaikan dengan baik.

Anak tengah kita, Raya. Sekarang dia lagi tekun ikut les memasak. Kemarin Raya sempat bikin bolu pandan yang dulu sering banget Ibu bikin. Rasanya sungguh tidak kalah enak dari buatan Ibu.

Dan si bungsu… Dyan sudah balik kerja lagi di kantor lama Ayah. Ceria anaknya sudah kembali. Akhirnya dia berhasil melewati masalah hidupnya yang sempat pelik kemarin.

Aku rasa, tugasku di sini sudah selesai.

Goresan pena Ayah berhenti. Beliau meletakkan pulpennya, lalu mengalihkan pandangan ke kursi kosong di sebelahnya.

Lihat selengkapnya