"Sus, suntikan triamcinolone 10 cc untuk menahan rasa nyerinya dan suntikan 10 cc dexametashone untuk mengurangi peradangan nyerinya."
"Baik dok."
Wajahnya lebam, sekujur tubuhnya masih membiru seraya habis terbentur. Pasien lelaki itu masih terbaring belum siuman di bangsal ruangan IGD, dia korban tabrak lari yang sampai detik ini pelaku masih di buru aparat setempat. Sarung tangan karet di buangnya kedalam tong sampah, sesaat dokter perhatikan suster sedang menusukan ujung jarum {syringe} berisi cairan yang terlihat ada 20 cc, kombinasi dua obat yang sudah di suntikan kedalam botol infusan yang tergantung di tiang besi infusan.
Itulah seorang dokter, walau ia mengingkari janjinya namun jiwanya selalu bersemayam untuk selalu ada menolong pasien. Sungguh sulit bagi seorang dokter, walau ia harus mengorbankan perhatian pada anaknya, ia juga harus di tuntut untuk tetap menyelamatkan pasien.
"Dokter kalau mau pulang, pulang saja. Biar nanti saya minta Dokter Irwin untuk menghandle pasien ini," di buangnya kedalam tong sampah suntikan yang sudah kosong oleh suster sesaat ia menatap guratan wajah seorang dokter, jelas wajahnya tergurat ada rasa bersalah.
"Ya sudah sus, saya balik dulu ya," jawabannya saja tidak terdengar jelas, seperti ada sesuatu yang semakin membuat dokter itu semakin merasa bersalah walau ia sudah berhasil menyelamatkan pasien.
Suster hanya tersenyum kecil menoleh pada dokter yang dua kakinya mengajak keluar dari ruangan IGD, yang kebetulan siang menjelang senja hanya satu bangsal yang terisi pasien emergency.
***
"Koran ... Koran ..."
"Bang beli korannya, sini!"
Kebetulan siang menjelang senja, mobil berhenti di dalam garis putih. Sedangkan baru berapa saat saja lampu merah masih menyalah. Wanita berhijab coklat muda memanggil tukang koran yang setiap hari menjajahkan korannya di lampu merah tepian jalan.
Sedangkan dua anaknya masih saja merasa gusar pada ayahnya, yang sejak tadi ponsel jadul juga masih belum terdengar panggilan suara deringnya. Andai saja ponsel itu berdering, mungkin mobil akan berbalik arah, kearah jalan restoran dimana mereka akan bertemu dengan ayahnya.
"Makasih bang," ujar wanita itu menerima koran dari penjual koran sempat melihat dua anak terduduk di barisan jok belakang mobil.
"Kalian baca saja koran itu, biar kalian jangan kesel terus sama ayah."
"Malas aku baca koran!. Aku masih kesal sama ayah yang selalu tidak menepati janji!"terdengar ketus jawaban anak gadis kecil menerima koran dari ibunya. Koran di lempar kesamping, cepat di ambil kakaknya. Lampu sudah menyalah hijau, mobil kembali berjalan.
Sinar matahari terasa hangat, tidak lagi terasa panas seperti tadi siang. Langit perlahan mulai tertutup awan-awan kelabu yang terhempas menutupi indung panas sinar matahari sebentar lagi akan tenggelam.
"Bu, baca koran ini deh?"
"Ibu lagi nyetir mobil, gimana ibu bisa baca koran. Emang apa berita koran itu Ndar?"
"Pesantren kebakaran, bu. Santriwati dan pemilik pesantren semuanya tewas kebakaran."
"Tin ... Tin ... Tin ..."