Langit terasa sendu seraya terselimuti awan-awan kelabu mengusir jauh sinar terik matahari agar tidak menyinari semesta. Sedangkan dedaunan pepohonan sedang asyik menari dengan tiupan semilir angin terasa dingin namun tidak basah.
Pesantren Nur Islami terkesan sunyi sepi, seluruh bangunannya seraya hampa tiada penghuni. Tidak tahu kenapa saat siang datang hanya kesunyian berselimut mencekam yang terasa membangunkan buluk kuduk agar terjaga bangun. Namun ketika datang malam hari berselimut gelap tidak hanya membangunkan buluk kuduk harus terjaga dari ketakutan, tapi rasa mencekam yang kian terasa sungguh membuat sekujur tubuh akan bergidik ketakutan.
Bangunan pesantren itu terlihat berdiri seperti apa adanya tapi terkesan terbengkalai, mungkin benar kata orang setempat. Jika Pesantren Nur Islami di bangun diatas tanah setan, yang terkadang dengan penglihatan kasat mata bangunan pesantren itu terlihat bangunan utuh dan terkadang hanya reruntuhan bangunan saja.
"Langite peteng ndhedhet mbukak. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa. Nggawa, nggawa, bayi. Paring urip kanggo anakku loro. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa,"
Suaranya sungguh memekik ketakutan, suara lagu bernada pelan dengan lirik bahasa jawa di iringi dengan tabuan semilir angin dengan gerakan tarian rerimbunan dedaunan sungguh terasa menakutan dan terdengar aneh saja. Suara lagu berlirik jawa itu seraya terkandung makna seperti mantra jawi kuno yang sedang di lantunkan seseorang yang kasat mata. Sedangkan Pesantren Nur Islami itu hanya terlihat sepi saat siang belum berganti dengan malam.
***
"Kalian benar mau nyatri di sini?" tanya ragu seseorang lelaki tua, pandangannya menatap gerbang pintu masih tertutup sembari menyandarkan sepeda persis di depan pos jaga.
"Benar Pak, masa saya mau main-main di pesantren,"
"Iya, Pak. Pesantren Nur Islami ini jadi pilihan saya untuk jadi santriwati. Karena rumah saya juga tidak jauh dari pesnatren ini,"
Dua gadis itu menjawab yakin sembari perhatikan tampak depan bangunan pesantren setengah terhalang pintu gerbang cukup masuk untuk satu mobil.
"Tapi pesantren ini?"
"Yah?"
Baru saja lelaki tua ingin kembali menjelaskan, pintu gerbang sudah terbuka dan tampak keluar lelaki muda membawa sapu lidi.
"Kok sepi?"
"Lagi pada libur?"
Dua gadis berhijab putih bingung perhatikan sekitar bangunan pesantren tampak terlihat sepi sunyi hanya burung-burung kecil berterbangan terkadang mendarat di pelataran pesantren mencari ulat kecil untuk di makan.
"Atang, mereka sudah ayah kasih tahu. Tapi mereka tetap mau nyantri di sini," dari guratan wajah lelaki tua tampak ragu dan cemas menoleh pada dua gadis yang ingin sekali jadi santriwati.
"Saya Atang. Saya yang menjaga dan membersihkan pesantren ini. Ini Pak Rojak, ayah saya. Dia dulu yang jaga pesantren ini,"
"Ohh."
Lelaki muda berperawakan kurus mengenalkan dirinya dan lelaki tua, yang ia adalah ayah tentu di timpali singkat satu gadis berparas cantik pandangannya kembali menatap pada pondok kecil terapit bangungan pesantren dan masjid.
"Kalian benar mau nyantri di sini?" Atang masih ragu dengan keinginan dua gadis itu.