"Assalamualaikum," suaranya bergetar seraya ketakutan sekali menoleh kebelakang sudah terlihat gelap gulita.
"Kok lama bangat, dari tadi belum ada yang bukain pintunya," ujar gadis berwajah hitam manis, ia makin bingung dari tadi berdiri depan pintu.
"Mas Atang, kemana pemilik pesantrennya? Kok dari tadi nggak di bukain pintunya! Mas Atang kenapa, kok kayak orang ketakutan gitu?"
Lantih, berparas cantik merasa bingung melihat penjaga pesantren dan tukang bersih-bersih. Dua kakinya gemetar ketakutan, terkadang dua matanya terpejam seraya tidak ingin melihat sesuatu, sedangkan jantungnya kian berdegub kencang.
"Langite peteng ndhedhet mbukak. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa. Nggawa, nggawa, bayi. Paring urip kanggo anakku loro. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa,"
"Lan, loe dengar? suara itu kayak dari dalam pondok ini dehh?"
"Gua dengan Wor. Kok liriknya gitu ya. Kayak ada lirik setan, setannya gitu?"
Kini tidak hanya lelaki penjaga pesantren, tapi dua gadis itu mulai merasakan ketakutan ketika mendengar lirik lagu berbahasa jawa dari dalam pondok. Lagi-lagi pintu belum di buka, sedangkan lelaki penjaga pesantren sejak tadi juga sudah berkali-kali memanggil dan mengucapkan salam, tapi tidak ada tanda-tanda pintu di buka dari dalam.
"Teng ... Teng ... Teng ..."
Suara lempengan besi terdengar tiba-tiba memecah keheningan malam.
"Aduh, itu suara apa lagi?"
Makin ketakutan penjaga pesantren, wajahnya menoleh kiri-kanan makin terasa gelap mencekam.
Sementera dari ujung kegelapan, tepatnya di depan lorong koridor kelas sudah berdiri sosok wanita bertubuh tambun, wajahnya pucat menatap kosong langit gelap. Jemari kanannya masih memegang batang besi sudah tiga kali memukul lempengan besi.
"Saya pulang ya?"
"Apaan si Mas Atang!"
"Iya nih Mas Atang. Kita aja masih belum tahu di terima apa nggak sama pemilik pesantren ini. Hehh, ini Mas Atang mau ninggalin kita gitu aja!"
Sontak saja penjaga dan tukang bersih-bersih pesantren makin tercekam ketakutan, rasanya ia tahu apa yang bakalan sebentar lagi akan terjadi. Justru dua calon snatriwati itu makin gusar, sedangkan mereka saja belum bertemu dengan pemilik pesantren yang sejak tadi belum kelihatan batang hidung dan bentuk model orangnya bagaimana. Ini penjaga pesantren begitu saja ingin segera pulang.
Sungguh mencekam ketakutan rasanya semakin ada aura ketakutan yang sampai membangunkan paksa buluk kuduk penjaga pesantren, tapi kenapa ia tidak ingin berterus terang pada dua gadis itu ada apa sebenarnya.
"Mas Atang kenapa?"
"Lantih, kok perasaan gua jadi nggak enak si?"
Satu gadis bertanya pada penjaga pesantren, sedangkan satu gadis mulai merasakan ketakutan menoleh kiri-kanan hanya terasa gelap gulita mencekam.
"Nih pesantren apa kuburan, kok gelap bangat?" Bingung dan menggerutu gadis berparas hitam manis semakin mendekati sahabatnya yang juga mulai ketakutan.