Dua pedal sepeda terus di kayuh kaki lelaki penjaga pesantren, ia malam itu tidak biasanya pulang sudah selarut malam itu. Baru pertama kali ini ia pulang sampai selarut malam, wajahnya sudah bebas bermain peluh dingin, deguban jantungnya semakin terdengar berteriak karena di cekam rasa ketakutan. Tentu saja dua tangannya gemetar tidak lepas mencengkram dua stang sepeda yang terus di tahannya dalam genggamannya agar sepeda tetap terkendali tidak oleng saat berjalan.
Gelap gulita sama sekali tidak ada satu penerangan di tepian kiri-kanan jalan, apalagi perkampungan rumah warga masih terlalu jauh terlihat. Pandanganganya hanya kedepan, itupun hanya terlihat gelap sejak tadi. Sedangkan kiri-kanan jalan hanya terlihat semak belukar dan pepohonan berdaun lebat.
Sinar rembulan malam itu terasa masih mengantuk tidak ingin menyinari alam semesta ini. Apalagi pijaran kedipan bintang, satupun tidak ada yang mengedipkan mata walau hanya sebentar untuk membangunkan indung rembulan malam agar segera terjaga bangun untuk menyinari semesta.
"Hiih, jadi pulang kemalaman! Gara-gara dua anak itu!" kesalnya sampai tidak tertahan. Dua kaki Atang semakin cepat mengayuh pedal sepeda berjalan. Dua rodanya terkadang melindas jalan yang tidak beraspal, kadang melindas kerikil-kerikil kecil yang tajam. Wajahnya semakin di keroyok peluh dingin karena saking ketakutan.
"Lagian kenapa mau nyatri di pesantren itu? Tuhkan pesantren? Hehhh. Hehhh! Aduh!"
"Kedebruggg!"
Masih kurang saja rasa kesal, sampai ia tidak tahu jika roda ban sepeda melindas batu koral besar. Sepeda jadi terjatuh, saking dua tangannya tidak bisa mengendalikan laju jalan sepeda.
"Aduh sakit," siapa yang mau menolong malam-malam di tengah jalan. Sepedanya terjatuh menindih badan kurusnya segera berusaha bangun sembari mengangkat sepeda.
"Astagfirullahaladzim!" buru-buru naik sepeda, tapi kaki kanannya baru saja akan mengayuh pedal sepeda malahan sandalnya terjatuh.
"Hiih, nih sandal pake jatuh lagi!"
Cepat turun dan sepeda kembali di biarkan saja terjatuh, kaki kanannya sasar-susur mencari sandal sebelah kanan. Padahal jantungnya makin berteriak ketakutan dan pandangannya wajahnya menoleh kearah kiri jalan. Jelas terlihat segerombolan cahaya api obor sedang berjalan kearahnya. Tentu makin panik, makin ketakutan sampai salah pakai sandal, sampai jepitan tengah sandal tidak masuk terapit jari jempol telunjuk kakinya.
"Astagfirullahaladzim!"
Makin ketakutan, makin tidak berani melihat segerombolan cahaya api obor makin mendekat. Mulutnya sambil komat-kamit tidak tahu ayat apa yang sedang bersenandung dalam hatinya, dua tangannya sudah mengangkat sepeda.
"Aduh!" tapi lagi-lagi sepeda yang tadinya sudah berdiri kini kembali di biarkan terjatuh lagi dan batang sepeda terjatuh menindih seluruh jari-jari kakinya yang sontak berteriak menahan rasa kesakitan.
Segerombolan cahaya api obor makin mendekat ternyata yang membuat takut Atang, penjaga pesantren. Cahaya api obor itu di bawa oleh santriwati-santriwati yang memang setiap malam sehabis pulang dari rumah masing-masing melewati jalan itu menuju pesantren. Tapi lagi-lagi wajah santriwati itu menunduk kebawah, padahal jalan hanya tersamar penerangan cahaya obor saja. Makin membuat penjaga pesantren tidak berani menatap, apalagi melihatnya.
Jelas kini barisan santriwati berjalan persis di hadapannya, kaki-kaki tidak menapak pada jalan, serempak wajahnya menoleh seram pada Atang semakin menutup dua matanya saking tidak berani melihatnya. Tapi tidak pada satu santriwati, ia malahan berhenti dan berdiri di hadapan penjaga pesantren itu.
"Mas Atang," suaranya terdengar kecil namun terasa mencekam sembari menghembuskan hawa dingin dari mulutnya yang membiru pucat.