Diatas Tanah Setan

Herman Siem
Chapter #7

Tengah Malam Makin Mencekam

Wajahnya tergurat pucat seperti kertas, ia hanya menatap kosong sembari terduduk sendirian di dalam ruangan baca. Terasa sunyi sepi hanya di biarkan bebas semilir angin masuk lewat jendela terbuka lebar, sementara di luar gelap seraya semakin mencekam berselimut kabut tebal. Tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya sejak tadi, ia sendirian hanya berteman dengan buku-buku dan kitab-kitab suci yang menemani.

Ia beranjak bangun sesaat berdiri membelakangi kursi kayu, kembali lagi pandangannya menatap kosong yang kali ini menatap rak buku terbuat dari kayu. Ia kemudian berjalan kearah jendela, dua tangannya sudah meraih daun jendela maksud hatinya ingin segera menutup jendela tetapi tidak jadi. Pandangannya menatap keluar jendela, segerembolan cahaya api obor tampak terlihat sedang berjalan. Segerembolan cahaya api obor semakin mendekat, semakin jelas di lihat lelaki tua pemilik pesantren.

Pandangan lelaki tua jelas melihat batang-batang obor yang di bawa santriwati berjalan, jelas dua kakinya tidak menginjak tanah beralas rerumputan kecil seraya nyaman tidak terjaga bangun nyenyak terlelap tidur. Sungguh aneh dan tidak merasa takut lelaki tua berwajah pucat dengan santriwati berwajah pucat sama sekali tidak menoleh padanya. Tidak lagi terlihat oleh dua mata lelaki tua, tidak lagi terlihat cahaya api obor di depan jendela. Santriwati yang membawa obor semakin hilang di telan gelap malam saat berjalan kearah lorong koridor asrama. Kini dua tangannya tidak lagi ragu untuk menutup daun jendela, ia berbalik setelah menutup daun jendela.

Sedikitpun tidak ada takut atau terkejut lelaki tua itu perlahan mengajak dua kakinya untuk menghampiri istrinya sejak tadi sudah berdiri di depan meja, dua tangannya sedang memegang kotak kecil. Wajahnya sungguh pucat, andai dua gadis santriwati yang baru saja di terima, mereka berdua melihat istri, lelaki tua pemilik pesantren. Tentunya dua gadis santriwati akan terkejut dan ketakutan, tapi kenapa tidak dengan lelaki tua itu.

Lihat saja pergelangan dua tangannya, seperti gosong habis terbakar saat meletakan kotak kecil di permukaan meja. Tidak banyak kata, satupun kata tidak terucap dari bibirnya yang pucat. Lantas begitu saja wanita tua itu beranjak pergi setelah meletakan kotak kecil pada permukaan meja. Sesaat wanita tua berdiri membelakangi suaminya saat jemari pucatnya mengelus permukaan atas kotak kecil. Pintu sudah tertutup, istrinya hanya begitu saja datang tanpa kata dan pergi setelah meletakan kotak kecil di meja.

Penutup kotak kecil sudah terbuka, dua bola matanya jelas terbayang buku kecil kusam dan terompet keong dalam kotak kecil. Ia menghela napas seraya hatinya berpacu untuk di paksa kembali mengenang sesuatu kejadian yang telah menimpa dirinya dengan keberadaan buku kecil kusam dan terompet keong. Sontak saja jemari kanannya menutup kotak kecil, tidak lagi buku kecil kusam dan terompet keong terlihat. Rasanya lelaki tua itu tidak ingin menguntai kembali kenangan yang sudah terjadi dengan pikirannya di paksa saat melihat buku kecil kusam dan terompet kecil. Kotak kecil itu kemudian di letakan di rak buku, tepatnya pada ujung atas rak buku.

Ia sekali lagi menghela napas sesaat menatap kotak kecil seraya hatinya sedikit yakin dengan ia sudah menyimpan kotak kecil pada tempatnya. Lampu sempor kemudian di bawanya, tadinya ruangan baca di terangi cahaya lampu sempor. Kini ruangan baca terasa gelap gulita saat lampu sempor di bawa keluar lelaki tua.

***

"Daus?"

"Pak Dokter?"

Dokter tampan itu cepat memapah bangun penjaga pesantren menahan rasa sakit perutnya yang terbentur stang sepeda.

"Mas Atang?"

"Ayah sudah tabrak Mas Atang?"

Dua anaknya sudah turun, mereka tahu siapa yang habis di tabrak mobil di kemudikan ayahnya. Penjaga pesantren cepat mendirikan sepeda saat ibu dari dua anak itu sudah turun dari mobil dan menghampirinya.

"Bu, ayah sudah nabrak Mas Atang! Gimana si ayah nyetir mobilnya!"

Lagi-lagi anak sulung itu makin jengkel dengan ayahnya makin merasa bersalah.

"Ayahkan tidak sengaja Tiar," cepat ibunya menyelah menarik mundur anak gadis kecilnya berdiri di sampingnya agar tidak bertambah kesal dengan ayahnya.

"Mas Atang, pesantren kakek baik-baik sajakan?" tanya Endar pada Atang sontak bingung ingin menjawabnya.

"Tang, kamu kenapa?"

"Pak Dokter, saya pamit."

Penjaga pesantren sudah naik sepeda dan dua kakinya sudah siap mengayuh pedal sepeda sembari menatap pada Daus, yang ia tahu adalah anak pemilik pesantren.

Lihat selengkapnya