Diatas Tanah Setan

Herman Siem
Chapter #8

Wajah-Wajah Menyeramkan

Laju jalan mobil tidak terlalu cepat, terkadang keempat roda bannya melindas jalan tidak rata tentunya membuat penumpang di dalam mobil ikut naik dan turun walau tidak sampai membuat kepalanya terbentur kabin langit mobil. Sepanjang jalan terasa sepi sama sekali penerangan lampu rumah warga tidak ada, itupun terbantu cahaya sorot lampu mobil yang cahayanya tidaklah terlalu terang menerangi sepanjang perjalanan.

"Bu, kenapa aku dari tadi kepikiran tentang pesantrennya kakek? Bu!"

Walau wajahnya sudah kedepan, tepatnya di samping wajah ibunya hanya terdiam saja, walau Endar sekali nada memanggilnya sedikit kencang. Tetap saja ibunya hanya duduk terdiam, rasanya sungguh ada beban berat yang sedang di pikirkan ibunya tidak menjawab.

"Kamu tuh terlalu baper, Ndar. Udah kamu duduk saja. Ibu lagi tidak mau kamu tanya kali."

"Tapi benar Tiar. Sejak aku baca koran yang di beli sama ibu waktu di lampu merah. Aku jadi kepikiran tentang pesantrennya kakek."

Dokter tampan hanya menatap dari kaca spion tengah sembari kemudikan setir mobil, dua anaknya kini terduduk saling diam-diaman kesal menatap keluar jalan.

"Semoga pesantrennya kakek baik-baik saja. Kalian tidur saja, nanti kalau sudah sampai. Ayah bangunkan kalian," kata ayahnya tidak melihat lagi dari kaca spion tengah ia sesaat menoleh kebelakang. Sedangkan Lala hanya duduk terdiam, sama sekali wajahnya tidak ingin berpaling menoleh melihat wajah tampan suaminya yang sejak tadi berusaha selalu ingin menatapnya.

Dari belakang mobil dari kejauhan terlihat segerembolan cahaya api obor berjalan sempat di lihat dokter tampan dari sisi kanan kaca spion kanan. Mobil kini berjalan pelan, semakin dekat segerembolan cahaya api obor mendekat. Bingung anak sulung melihat ayahnya kemudikan mobil berjalan pelan. Sedangkan adiknya sudah kembali ia terlelap dalam tidurnya, kepalanya menyandar di bahu kiri kakaknya.

Sedangkan ibunya tidak lagi kedua matanya terjaga menatap keluar jalan, kini kedua mata Lala sudah terpejam seraya lelah sejak tadi dua matanya di paksakan untuk melihat keluar jalan.

"Yah?"

"Endar, kamu lebih baik tidur?"

"Yah, di belakang mobil kita?"

Makin jelas sekali pandangan mata dokter tampan melihat kaca spion bagian kanan, tentu benaknya mulai terkulik rasa kecemasan dan ketakutan sembari meminta pada anak bungsunya untuk segera memejamkan dua matanya. Tapi malahan anak bungsunya sengaja untuk mengusir rasa ketakutannya, ia sudah berbalik dan menolehkan wajahnya kebelakang.

"Yah, mereka siapa?"

"Ndar, kamu jangan lihat."

Jelas segerembolan cahaya api obor jelas menerangi wajah-wajah menyeramkan santriwati semakin cepat berjalan mendekati belakang mobil.

Tetap saja dua mata anak bandel itu tidak mau di pejamkan, dua matanya semakin sengaja melihat lagi dengan jelas kebelakang. "Yah, cepat jalan! Aku takut!"

Kali ini dua mata Endar jelas melihat wajah-wajah menakutkan dan sangat seram sekali wajah santriwati itu semakin dekat seraya mengejar di belakang mobil. Gemetar dan bergidik ketakutan kaki kanan Daus menginjak dalam pedal gas mobil berjalan cepat. Wajah-wajah menyeramkan tidak lagi mengejar, santriwati-santriwati hanya berdiri di tengah jalan menatap mobil semakin cepat laju jalannya.

***

Lihat selengkapnya