Diatas Tanah Setan

Herman Siem
Chapter #9

Tidak Seperti Biasanya

"Yah?"

"Atang tidak sampai malam di pesanatren ini. Dan ayahnya tidak lagi menjaga pesantren ini. Kalian diam saja di sini, ayah akan buka pintu gerbang itu."

Cemas gelisah mengulik raut wajah sulung pada ayahnya tahu apa yang sedang di pikirkan anaknya. Lantas ayahnya begitu saja lekas turun dari mobil. Tiga pasang mata tidak terlalu jelas perhatikan dokter tampan yang malan itu tidak sedang mengenakan seragam putih kebanggaannya. Sorot lampu mobil menyinari belakang tubuhnya sedang menggeser membuka pintu gerbang, jelas kini pandangan ketiga pasang mata hanya melihat samar gelap cahaya rembulan malam menerangi bangunan pesantren sulit rasanya mengusir pekat malam.

"Langite peteng ndhedhet mbukak. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa. Nggawa, nggawa, bayi. Paring urip kanggo anakku loro. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa,"

Sayup samar suara itu terdengar seraya memecah gelap keheningan malam berselimut kabut tipis terasa basah. Lirik bahasa jawanya seraya mengulik relung hati sampai membangunkan buluk kuduk agar segera terjaga bangun.

"Bu, itu suara apa?"

"Kok liriknya seperti suara mantra jawa-jawa gitu?"

Dua anak itu bertanya pada ibunya hanya terdiam seraya dua matanya terbelalak lebar, jantungnya berdegub kencang dan dari cara ia terduduk seperti terkurung rasa kegelisahan.

"Tiar, Endar kamu kenapa?"

Jelas sekali dua matanya ayah menoleh sedikit kebelakang melihat dua anaknya tiba-tiba pertanyaannya tidak di jawab ibunya, dua anaknya itu hanya terdiam seribu kata dan dua matanya hanya terbelalak lebar seram. Sepasang roda depan mobil mengajak sepasang lagi roda belakang segera ikut berputar kedepan. Mobil semakin mendekati pondok, jelas lampu sorotnya lambat namun pasti menerangi pondok kecil dimana pemilik Pesantren Nur Islami tinggal.

"La, anak-anak kenapa?"

Ia menengok lagi kebelakang sembari menepak jemari kirinya pada istrinya agar tidak berdiam diri saja. Sontak istrinya terjaga, terkejut bingung seperti sesaat baru sadar tidak tahu apa yang sedang menguras pikirannya.

"Tiar, Endar!" jemari kanan Lala menyentuh paha dua anaknya sembari menyolek dua pipinya.

"Tiar! Endar!" makin panik ayahnya sudah turun dari mobil berdiri di samping mobil, ia setengah membungkukan badannya kedalam mobil dan dua tangannya ikut panik cemas menampar pelan pipi kedua anaknya.

"Ayah! Hiih!

"Ayah sudah sampai?"

Tetap saja anak bungsu tidak suka jika pipinya di sentuh ayahnya, mungkin anak keduanya itu masih menyimpan rasa kemarahan pada ayahnya. Tapi tidak dengan Endar yang sepertinya sudah terjaga bangun sempat bingung kenapa pipinya di jembel-jembel. Kedua anaknya itu sempat bikin ayahnya bingung, karena memang tidak biasanya sikap kedua anaknya seperti itu. Sempat bikin hati ayah kalut, ketar-ketir dan bingung barusan saja saat memasuki areal pesantren, dua anaknya bersikap aneh dan tidak biasanya.

Pandangannya kosong perhatikan sekitar pesantren sesaat berhenti jelas dua dua matanya menatap dalam Lafal Allah berdiri tegak diatas kubah masjid. Sungguh aneh sikapnya, ia kini berdiri persis di depan pondok kecil sembari hatinya membaca papan nama yang berada di fasad atas depan rumah"Pesantren Nur Islami" Kini ia menoleh kearah sepi sunyi lorong koridor asrama yang hanya berselimut gelap malam gulita.

"Yah, kok gelap. Di sini tidak pakai lampu listrik?

"Iya, gelap sekali."

Lihat selengkapnya