Diatas Tanah Setan

Herman Siem
Chapter #10

Terjaga Bangun Karena Rasa Takut

"Kakek, kamar ini terkunci?" dua kali jemari kanannya Endar menggerakan hendle pintu memang terkunci dari dalam.

"Kalian tidur di kamar sebelah itu. Di kamar itu ada santriwatinya."

Lelaki tua tidak menjawab, samar sekali wajah pucatnya di terangi cahaya lampu sempor yang di pegang istrinya sambil menjawab masuk kedalam kamar yang memang seperti biasanya anak, mantu dan cucunya selalu tidur di kamar itu jika datang menginap.

"Santriwati?" balik tanya rasa bingung menantu pada ibu mertuanya tidak menjawab berdiri di dalam kamar sembari meletakan lampu sempor di meja bersebelahan dengan ranjang.

Mundur makin bingung bercampur ketakutan dua anak itu melihat wajah pucat neneknya saat keluar dari kamar tidak lagi memegang lampu sempor. Makin bingung Lala saat menoleh kesamping kamar, mertua lelakinya sudah berjalan masuk kedalam kamar, kamar itu saling berhadapan.

"Mungkin saja di asrama sudah penuh. Jadi ayah dan ibu menempatkan santriwati di pondok ini. Mungkin untuk menemani ayah dan ibu," tutur suami pada istrinya, tapi guratan wajahnya makin bingung lagi-lagi menoleh kesamping sudah tidak lagi melihat ibu mertunya, malahan pintu kamar sudah tertutup.

Di lihat lagi saking penasaran, memang pintu kamar sudah tertutup. Ia hanya berdiri sendirian di ruangan tengah, saat suami dan dua anaknya sudah masuk kedalam kamar. Makin bingung, makin terkulik banyak pertanyaan dalam benaknya dengan apa yang baru di lihatnya. Dua mata kakinya sudah merasa kantuk yang sangat berat sekali ingin segera mengajak dua kakinya terbaring santai di ranjang.

Tapi dua kaki Lala tidak masuk kedalam kamar, dimana di dalam kamar dua anaknya sudah terbaring di ranjang karena saking lelahnya seharian di perjalanan hanya duduk dalam mobil saja. Sedangkan suaminya meletakan tas ransel di lantai dan mengambil koran dari dalam tas.

"Yah, letakan saja koran itu di meja. Aku belum selesai membaca," terdengar suara Endar dari dalam kamar.

Dua mata Lala menatap handle pintu, jemari kanan rasanya ingin sekali menyentuhnya.

"Terk. Trek!"

Benar memang pintu itu terkunci dari dalam dan pastinya santriwati sedang tertidur.

***

"Lantih," jelas suara handle pintu ada yang menggerakanya dari luar. Dua kali Wori membangunkan Lantih terbaring tidur miring membelakanginya.

"Lan, Lantih bangun," di bangunkannya lagi karena Lantih tidak mau bangun.

"Trek. Trek,"

"Lantih bangun,"

"Wori, gua masih ngantuk ahhh. Ada apaan si?"

Sembari menggerutu dan mengucek dua matanya, gadis berparas cantik itu sudah terjaga bangun sembari perhatikan temannya sudah turun dari ranjang dan mendekati pintu sambil membawa lampu sempor.

Lihat selengkapnya