Tetesan kristal-kristal kecil sisa pembisan kabut semalam mulai mencair jatuh dari satu daun-daun pepohonan. Burung-burung kecil sungguh bebas berterbangan hinggap di ranting satu kesatu ranting lainnya sembari setiap patuk kecilnya mematuk serangga kecil dan segera kembali pulang kesarangnya untuk memberi makan pada keturunannya agar segera dua kepakaan sayapnya bisa terbang.
Sementara langit terlihat sungguh sedang berbahagia riang, dimana pijaran sinar kehangatan sedang menyinari semesta dari indungnya terlihat menguning bulat besar di ujung atas sana. Terasa sepi, tanpa ada suara-suara lantunan salawatan, suara guru-guru sedang mengajar, suara santriwati sedang tertawa kecil atau sedang bercengkerama. Lorong koridor asrama dan kelas terasa sunyi sepi, tanpa terdengar jejak-jejak derap langkah berjalan santriwati.
Hanya kursi dan meja teman setianya terjejer baris rapi kosong tidak satupun terisi ada yang menduduki di dalam kelas. Whiteboard masih terlalu putih, satupun tidak ada titik noda guratan-guratan spidol lafal-lafal arab yang mencoret whiteboard itu. Kelas sungguh terasa sunyi, sedikitpun tidak terdengar suara guru dan santriwati terdengar sedang mengumbar ilmu-ilmu agama kebenaran.
Sedangkan di sepanjang lorong koridor asrama, satupun tidak terlihat santriwati apalagi sepanjang barisan kamar asrama, semua pintu kamarnya tertutup serempak dan satupun tidak ada kamar yang pintunya terbuka. Terasa hening mencekam sungguh mengulik rasa keinginan tahuan bagi siapa ingin tahu tentang kemana dan keberadaan santriwati ketika siang hari.
Masih berdiri tegak Lafal Allah diatas kubah masjid, walau bangunannya sudah tidak lagi terlihat kokoh. Namun masjid itu masjid layak untuk di gunakan pada setiap hamba-hambanya untuk bermunajat dan melantunkan pujiian-pujian untukNya. Walau terasa bebas semilir angin dingin terasa basah keluar masuk masjid yang tidak memiliki daun jendela. Hamparan karpet hijau tidak lagi nyata warnanya terbentang di lantai, mungkin saja sudah lama ternoda dengan debu. Namun di balik mimbar kecil itu, tepatnya di lorong pendek masih jelas terpampang nyata kaligrai Allah tergantung pada dinding tembok.
Tidak lagi dua tangannya di gerak sembari putar-putarkan kebelakang dan kembali kedepan. Pandangannya kini hanya menatap kosong bagian luar bangunan masjid, mungkin saja benaknya saat ini sedang berbisik menatap kesunyian masjid yang berhadapan dengan pondok kecil pemilik pesantren.
Kemudian ia menoleh kiri dan kanan hanya terbentang sepi lorong koridor dan kelas yang di kelilingi perbukitan kecil beratap langit sedang bermain dengan awan-awan putih. Ia kembali lagi menatap seraya dua kakinya tidak ingin mendekati beranda depan masjid, sejenak ia menoleh kesamping masjid hanya ada kesepian saja.
"Pasti Mbak Lala?"
"Istrinya Mas Daus, dokter tampan itu?"
Dua gadis sudah berdiri di belakang Lala, berbalik tersenyum menatap wajah kurang tidur dua gadis yang sedang bertanya tapi seraya sedang berkelakar.
"Kalian santriwati yang tidur di pondok sebelah kamar saya?" jawabnya menahan tawa melihat dua pasang mata santriwati, bulatannya mata tampak menghitam, tanda semalam kurang tidur.
"Kenapa sepi sekali. Sejak dari tadi saya berdiri di sini, satupun saya tidak melihat santriwati. Apalagi tidak ada satupun guru yang mengajar saya temuin dan santriwatinya juga tidak ada?" jelas pandangannya hanya menatap lempengan besi di depan ujung kelas tidak ada yang mengetuknya. Lala sesaat menatap lagi wajah dua gadis saling melirik bingung ingin menjawab.
"Waktu kemarin kami berdua datangpun, kami sama tidak melihat satupun santriwati di pesantren ini."
"Benar Mbak Lala. Pesantren ini aneh. Lihat saja, sepi seperti kuburan."