Diatas Tanah Setan

Herman Siem
Chapter #12

Bingung

"Tok. Tok. Tok."

"Ibu, ayah bangun sudah siang."

Terasa sunyi tanpa jawaban, raut wajahnya mulai terbalut kecemasan sejak tadi ia berdiri depan pintu berkali-kali kepalan tangan kanannya mengetuk pintu dan memanggil. Hatinya mulai di geluti banyak pertanyaan, sungguh tidak biasanya dengan kedua orang tuanya jikalau ia datang bersama anak dan istrinya, tentu ada sambutan hangat dan senyuman sumringah. Sejak sedari semalam benak perasaan dokter tampan itu semakin curiga tidak yakin dengan perasaan, yang membuatnya kini semakin terkekang banyak pertanyaan.

"Ayah, ibu bangun sudah siang?"

Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam kamar, pandangannya sesaat menoleh kearah kamar yang berhadapan dengan kamar ayah dan ibunya masih saja tertutup pintu. Sementara dua anaknya juga masih terbaring, lelap sekali tidurnya.

"Tok! Tok! Tok!"

"Ayah! Ibu bangun sudah siang!"

Saking tidak sabaran, nada suaranya kali ini sedikit kencang dan kepalan tangan kanannya terlalu kencang ketukannya.

Tidak lagi memanggil dan mengetuk pintu, rasanya ia tidak ingin lagi membangunkan ayah dan ibunya. Mungkin saja ia sadar jika ayah dan ibunya tidak hanya sebagai pemilik pesantren yang harus banyak mengurus semua keperluan santriwati, namun mereka berdua mengajar dan mungkin juga semalam mereka berdua habis sholat malam.

Ia sekarang sudah terduduk hanya menatap pintu kamar masih tertutup dan sekali lagi ia menoleh lagi kearah kamar dimana dua anaknya masih terbaring lelap tidur. Tiar dan Endar masih terbaring tidur di ranjang, tentu pandangan raut wajah seorang ayah semakin cemas dan gelisah. Padahal ia mengajak dua anaknya datang kepesantren milik kakek dan nenek, semata-mata ia hanya ingin membayar kesalahannya. Tapi nyatanya, saat sampai di pesantren apa yang di harapkan tidak sesuai harapan.

Sementara di dalam kamar, terbaring tidur sepasang suami-istri berselimut dalam kegelapan. Dalam kamar yang gelap sama sekali tidak ada cahaya sinar matahari berani masuk melewati celah-celah lobang. Sungguh sangat gelap gulita dalam kamar, sampai-sampai terasa pengap dan terasa hampa mencekam. Sepasang suami-istri tidurnya sangat lelap sekali, sejak tadi serasa tidak peduli dengan suara ketukan pintu dan suara panggilan dari pelan sampai nadanya kencang tetap saja tidak membuat dua pasang mata itu terjaga bangun.

"Ayah, ibu bangun," kali ini terdengar samar pelan suara anaknya memanggil tanpa mengetuk pintu. Sesaat sunyi tidak lagi terdengar suara panggilan dari luar. Sontak berbarengan dua pasangan mata mendelik seram, dua bola matanya menghitam seram menoleh kearah pintu kamar tertutup.

***

"Endar, Tiar bangun nak sudah siang."

Sudah berdiri di depan ranjang sembari menatap dua anaknya terbaring tidur lelap. Mungkin ia tidak lagi ingin membangunkan ayah dan ibunya. Kini ia mencoba membangunkan dua anaknya, lihat saja sinar matahari bebas masuk dari jendela yang terbuka lebar.

Lihat selengkapnya