Diatas Tanah Setan

Herman Siem
Chapter #13

Apa Sebenarnya Yang Terjadi

Bingung dan banyak pertanyaan dalam benak dua santriwati baru yang siang itu berjalan di depan pintu kamar asrama, sepanjang lorong koridor asrama sungguh hanya terasa sunyi dan sepi. Satupun santriwati tidak terlihat mondar-mandir, atau sekedar terdengar suara kelakarnya dari dalam kamar, apalagi satupun tidak terlihat santriwati sedang mencuci atau sedang menjemur pakaiannya.

Dua gadis yang baru saja di terima sebagai santriwati, mereka berdiri di tengah lorong koridor asrama terapi pintu-pintu kamarnya tertutup, satupun pintunya tidak ada yang terbuka. Bingung dan saling melirik, walau langkah jalan keduanya pasti hanya ingin mencari tahu dimana santriwati berada.

"Lan, anehkan?"

"Iya Wor, gua bingung kemana santriwati-santriwatinya. Kok sepi-sepi aja?"

Keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar, dari tadi kepalan tangan kiri gadis berparas hitam manis dengan hijab hitamnya ingin sekali mengetuk pintu tapi ragu.

"Wor, coba ketuk pintunya!"

"Loe aja Lan."

Gadis berparas cantik dengan hijab putihnya, siang itu ia mengenakan gaun panjang warna terang sudah berdiri depan pintu kamar. Dari kerutan raut wajahnya, ia semakin penasaran dan ingin mencari tahu keberadaan santriwati yang berada di dalam kamar. Wajahnya di menempel kearah jendela, tapi sayangnya tertutup tirai dari dalam.

"Nggak kelihatan."

"Loe gimana si Lan, udah tahu tuh jendela di tutup pake gorden dari dalam. Loe mau ngintip. Ya nggak kelihatan. Minggir loe, biar gua yang ketuk aja pintunya."

Lagi-lagi wajahnya Lantih di dekatkan pada kaca jendela, bikin gusar Wori menarik minggir temannya.

"Tok. Tok. Tok."

Pelan sekali suara ketukan pintunya dan tidak ada yang menjawab dari dalam kamar.

"Apa mereka lagi tidur?" ujar Wori makin bingung mau mengetuk pintu lagi tidak jadi.

"Iya kali Wor, mereka masih ngantuk. Mungkin juga mereka habis tadarusan terus nyambung tahajud dan terus sholat subuh. Udah yuk, kita mandi aja terus kita kelas,"

"Benar juga kata loe."

Keduanya berbalik dan sudah membelakangi pintu kamar, keduanya sekarang malahan main lirik-lirikan dan dua kakinya mereka berhenti tidak lagi melanjutkan jalan. Dua mata mereka saling berkedip seraya melirik kearah pintu yang sudah terbuka walau tidak lebar. Padahal tadi mereka berdua berkali-kali memanggil dan mengetuk pintu, pintu sama sekali tidak terbuka.

Pintu kamar sudah terbuka walau tidak lebar, di dalam kamar hanya terlihat gelap dan berantakan.

"Permisi?"

Wori dan Lantih sudah berbalik, wajahnya melongok kedalam hanya melihat gelap.

"Gelap?"

Lihat selengkapnya