Pakaian basah yang tadi di pakai kedua anaknya sudah di gantikan ayahnya, tidak terasa dingin basah lagi, kini pakaian kering sudah melekat terasa hangat pada tubuh dua anaknya. Sejenak ayahnya menatap wajah pucat sendu wajah kedua anaknya, bibirnya membiru seraya menggigil kedinginan namun tidak ingin sepatah katapun terucap.
Ujung lempengan logam stetoskop mulai mendarat di dada anak lelakinya, ia hanya terdiam sembari menatap dua bola matanya ayah berputar kecil seraya hatinya kecilnya terkulik rasa kecemasan.
"Yah, aku tidak sakitkan?" ujar anak bungsunya menoleh pada adiknya sudah duduk di ranjang, adiknya itu tidak mau di periksa ayahnya. Rasanya masih tersimpan kemarahan dalam benak kecil anak sulung itu pada ayahnya hanya berdiri tersenyum menatap wajah mungilnya berhijab putih.
"Kalian mau makan, biar ayah suapin?"
"Tidak, aku tidak lagi lapar!"
Lagi-lagi ketus jawaban anak sulung pada ayahnya yang segitunya ingin sekali membayar kesalahan pada dua anaknya itu, sampai-sampai ayahnya itu mengambil cuti dari rumah sakit.
"Ayah sudah baca koran ini?" tanya Endar, ia sudah berdiri di hadapan meja, pandangan dua mata tidak berkedip membaca koran yang tergeletak di permukaan meja.
"Sudah, tapi ayah tidak tahu ujung terakhir judul koran itu. Kamu perhatikan, sulitkan untuk di bacanya. Karena di text terakhir judul koran itu sulit di bacanya,"
"Tiar, ayah yang sudah menumpahkan air kekoran itu. Jadi sulit di baca. Yah, aku kok khawatir ya dengan pesantren kakek?"
Pandangan kakaknya menatap adiknya sudah kembali tidur menyamping membelakangi. Tidak bisa bohong ada kerutan kecemasan di kening ayahnya sesaat menatap anak bungsunya dan kemudian terduduk menatap anak sulungnya, mungkin ia sudah terlelap tidur.
"Yah," singkat ucapan anak bungsu sembari memeluk ayahnya sedang terduduk membalasnya dengan pelukan hangat. Dua matanya merona memerah berkaca-kaca menahan deraian air mata, dua tangannya memeluk erat terasa dingin sekujur tubuh anaknya. Naluri seorang dokter begitu yakin, jika anak yang sedang di peluknya merasakan sakit. Sikap kedua anaknya juga tidak seperti biasanya, pikirannya semakin berusaha untuk tidak berpikiran macam-macam. Tapi pelukan itu semakin di rasakan, semakin terasa dingin dan tentunya semakin mengulik banyak pertanyaan dalam benak seorang ayah yang merasakan ada sesuatu tengah terjadi pada dua anaknya, namun sulit terjawab.
"Yah, aku mau tidur." tidak lagi memeluk ayahnya, Endar cepat naik keranjang dan terbaring tidur walau ayahnya sempat sesaat melihat dua mata anaknya masih terjaga dan secepat itu dua matanya sudah terpejam.
"Pak Dokter. Pak Dokter!" suaranya terdengar dari luar pondok.
Bergegas Daus beranjak jalan keluar, suaranya sepertinya tidak asing dan di kenali ayah dari dua anak yang keduanya sudah kembali tidur lagi.
***
"Pak Rojak?" Tanya bingung Daus bercampur panik melihat kedatangan wanita muda menggendong anak.
"Dokter tolong. Dari semalam anak saya demam," jawab wanita muda cemas.
"Pak Rojak, bantu ibu ini baringkan anaknya di bale panjang itu."
Daus cepat masuk kedalam sesaat. Lelaki tua itu membantu membaringkan anak lelaki kecil, tentu saja ibunya sejak tadi di cekam kecemasan dan kepanikan sesaat menunggu dokter tampan sedang masuk kedalam.
"Loh, Pak Rojak kemana, bu?"
Daus sudah keluar dari dalam membawa stetoskop melihat kiri-kanan dan pelataran halaman pondok.