Hanya terdiam, tidak ingin segera beranjak bangun dari duduknya Daus menatap wanita muda sudah menggendong anak lelaki kecilnya. Kelihatan ketakutan raut wajah wanita muda seraya ingin bergegas pergi dari pondok, tapi sepertinya ia tidak enak hati.
"Dokter?"
"Terima kasih. Ibu sudah menceritakan pada saya," beranjak bangun Daus sedikit tersenyum sesaat menatap anak kecil masih tertidur dalam gendongan ibunya. Tentunya wanita muda itu semakin merasakan tidak enak hati pada lelaki, anak pemilik pesantren tetap berusaha untuk tersenyum walau benaknya merasa terpukul dengan kebenaran cerita yang baru saja ia dengar.
"Sudah kamu periksa anakmu?" tanya lelaki tua, ia berdiri membelakangi dokter tampan berbalik.
"Sudah Pak Rojak," jawab wanita muda sesaat menatap kembali wajah tertegun sendu dokter tampan yang sudah mengobati anaknya.
"Ayo?"
"Pak Rojak tunggu."
Baru saja lelaki tua, pernah bekerja di pesantren akan beranjak jalan tidak jadi. Dua matanya berkaca-kaca menatap raut wajak lelaki tua yang sesaat melirik pada wanita muda mengajak pulang namun tertahan.
"Pak Rojak, saya pamit. Tidak apa-apa saya pulang duluan," kata wanita muda, akhirnya ia pulang sendiria dan begitu saja berjalan pergi.
Wanita muda sudah berjalan pergi, lengan kirinya menahan anaknya dalam kain gendongan, sedangkan jemari kanannya menenteng kantong plastik kecil berisi obat. Pandangannya hanya tegak lurus kedepan, sekalipun ia tidak berani menoleh kiri-kanan bangunan pesantren. Semakin cepat langkah jalannya, sedikit melirik saja tidak mau melihat kearah bangunan masjid. Tidak lagi wanita muda itu terlihat oleh pandangan dua pasang mata masih berdiri di beranda depan pondok.
"Kalian?"
Daus menoleh pada dua santriwati baru sudah siap-siap bergegas jalan baru keluar dari dalam pondok.
"Kok Mas Daus bingung gitu?"
"Inikan hari pertama kami nyantri?"
Lantih dan Wori bingung perhatikan gelagat dokter tampan, mungkin saja hatinya cemas karena baru saja mendengar cerita tentang kebenaran pesantren.
"Kalian mau kekelas?" gelagat lelaki tua ikut bingung dan panik, lihat saja ia jadi serba salah perhatikan dua santriwati baru yang sudah siap-siap.