Perlahan pintu terbuka, dua kakinya ingin sekali masuk mencari tahu kedalam kamar. Ia lalu bergegas masuk kedalam kamar, hatinya semakin ingin mencari tahu sember suara terompet yang sempat tadi di dengarnya dari dalam kamar.
"Bruaaggg!"
Baru saja dua kakinya mengajak masuk kedalam, wajahnya setengah menoleh kebelakang tapi hatinya memanggil untuk bergegas masuk kedalam. Pintu kamar ayah dan ibunya sudah kembali tertutup lagi. Terasa hening sunyi sepi di ruangan tengah, walau sinar indungan kehangatan di biarkan masuk kedalam ruangan tengah.
Sumber suara terompet itu tidak tahu berasal dari mana, walau ia sudah berada dalam kamar. Tapi suara terompet itu tidak lagi terdengar, hanya suara kicauan burung terdengar dari luar kamar di iringi dengan tabuan semilir angin menggerakan dedaunan pepohonan.
Hatinya semakin bertanya dari mana sumber suara terompet, yang tadi jelas-jelas kupingnya mendengarnya dari luar kamar. Ia berdiri perhatikan sekitar kamar terasa sepi, benak kecil selalu bertanya mencari dan dua kupingnya ingin mendengar lagi suara terompet namun suara terompet itu hilang seraya di telan bumi. Ia hanya perhatikan istri dan dua anaknya terbaring tidur di ranjang, sungguh beratap sayangnya seorang ibu pada dua anaknya. Lengan kanannya memanjang sedang merangkul memeluk dua anaknya agar selalu nyaman tidur dalam pelukannya.
Semakin yakin, semakin membuatnya otak terkuras untuk berpikir mencari jawaban. Ia terduduk membelakangi meja walau semilir hempasan angin bebas masuk mengajak main lembaran koran sejak tadi tergeletak diatas meja. Pandangan curiga dokter tampan melihat pintu lemari sedikit menyundul terbuka seperti terganjal sesuatu dari dalamnya.
Ia beranjak bangun di barengi dengan semilir angin kembali mengajak lembaran koran sontak terjatuh kelantai. Ia sudah berdiri depan lemari, jelas dalam cermin lemari terlihat wajahnya sedikit menunduk kebawah, jelas ada sesuatu yang menyundul dari dalam lemari. Jemari kirinya ingin menyentuh hendle lemari tapi ragu, wajahnya menoleh kebelakang masih terbaring lelap istri dan anaknya terbaring tidur di ranjang.
Tidak lagi jemari kirinya ragu sudah yakin dan mencengkram handle lemari sudah terbuka. Dua bola matanya sesaat tertegun menatap kotak kecil usang yang tergeletak hampir jatuh dan menghalangi pintu lemari tidak bisa tertutup rapat. Hatinya semakin bertanya, apa isi kotak itu dan sebelumnya ia tidak melihat kotak kecil itu di dalam lemari. Atau jangan-jangan kotak kecil itu milik istrinya, yang ia bawa diam-diam masukan kedalam tasnya saat berkemas saat akan pergi tanpa di ketahui siapa-siapa.
Ia tidak lagi berdiri sudah terduduk jongok, wajahnya kembali lagi menoleh kebelakang takut-takut istri dan anaknya terjaga bangun. Diam-diam tangan kirinya sudah meraih kotak kecil dan ia sembari berdiri. Pandangannya jelas menatap kotak kecil usang dan benak kecilnya semakin ingin mencari tahu tentang isi dalam kotak kecil itu.
"Kotak apa ini?" hatinya berbisik pelan takut terdengar.
Kotak kecil kemudian di letakan pada permukan meja, pandangannya melihat koran terjatuh di lantai tapi hanya di biarkan saja tergeletak. Hatinya semakin ingin mencari tahu apa isi di dalam kotak kecil itu. Jelas dua bola matanya melihat bayangan terompet keong kecil dan buku usang tergeletak nyaman dalam kotak yang sudah di bukannya.
Jemari kanannya ragu untuk mengambilnya hanya mengelus-ngelu saja. "Terompet keong? Buku? Buku apa ini?" kali ini semakin ingin mencari tahu tidak lagi mengelus-ngelus, jemari kanannya sudah memegang buku.