Sudah lama kedua santriwati menunggu dalam kelas, hanya berdua saja tiada guru dan santriwati lainnya. Tentu hanya perasaan sepi sunyi, terkadang keduanya menoleh keluar kelas walau jelas terlihat dari jendela jika di luar kelas sangat sepi. Lorong koridor kelas satupun tiada ada santriwati, tidak terdengar suara kicauan-kicauan guru-guru bersiul merdu mengularkan ilmu-ilmu pasti tentang kadiah-kadiah ajaran untuk menjadikan santriwati kuat menghadapai tantangan global yang penuh intrik dan persaingan .
Perasaan sunyi sepi kian berkecamuk tergurat pada paras kedua santriwati kadang saling melirik kebingungan, kadang tergurat kecemasan. Hatinya saling bertanya kemana santriwati lainnya kenapa belum masuk kedalam kelas, atau benar santriwati di kalah siang hari tidak akan terlihat dan hanya tampak pada malam hari saja.
Kursi hanya berteman setia dengan meja menanti kapan datang santriwati yang sejak tadi di tunggu namun tidak kunjung datang. Sedangkan whiteboard saja belum ternoda oleh gerakan-gerakan jemari lentik guru yang selalu mengurat ujung spidol pada permukaan whiteboard menulis indah lafal-lafal arab. Begitu juga kursi sang pengular ilmu agama masih terasa sunyi kosong belum ada yang menduduki.
Semakin bergidik ketakutan, semakin hatinya terkulik kecemasan sampai keduanya sudah menunggu lama dalam kelas masih saja belum ada satupun santriwati yang datang masuk kelas. Makin kesini makin gelisah, duduknya saja mulai mengajak ingin segera beranjak keluar dari kelas. Apalagi kedua kakinya sejak tadi sudah gemetar ketakutan ingin mengajak dua mata kakinya agar tetap selalu waspada.
"Lan, kok sepi. Padahal udah mau sore?"
"Iya Wor. Lihat tuh jam dinding. Udah mau setengah enam sore. Tapi guru, apalagi satupun santriwati belum pada nonggol," keduanya saling berguman di sertai kegelisahan dan ketakutan sembari menatap jam dinding tepat di hadapan barisan kursi dan meja kosong dan jelas di lihat dua pasang mata santriwati baru, jika jarum detiknya semakin berputar kearah kanan mengajak jarum pendek dan panjang untuk segera berpindah keangka berikutnya.
"Bruaaggg! Bruaaggg! Bruaaggg! Bruaaggg!"
Makin bergidik ketakutan, deguban suara jantung berdebar kencang sejenak saling menatap wajah tergurat ketakutan saling bertanya dalam hati ketika terdengar suara daun pintu terbuka serempak begitu saja terbentur dengan dinding tembok kelas.
Pintu-pintu kelas sudah terbuka lebar seraya tanda menanti masuk santriwati yang sebentar lagi akan memadati kekosongan kelas sejak tadi. Sampai-sampai dua wajah menoleh kearah luar lagi masih terasa sunyi sepi mencekam tapi rasa ketakutan makin mengulik membuat keduanya semakin ingin bergegas keluar dari dalam kelas.
"Kita keluar aja yuk."
"Perasaan gua kok nggak enak ya, Wor?
Berat sekali kedua santriwati untuk beranjak bangun dari duduk serasa ada sesuatu yang menindih seperti mahluk tak kasat mata sedang menganduli keduanya. Sudah berdiri keduanya, tapi masih di belakang meja seraya dua mata kakinya berteriak ketakutan tidak mau mengajak segera berjalan keluar dari kelas.
"Teng ... Teng ... Teng ..." lempengan besi terdengar tiga kali di benturkan batang besi.
Makin terkejut, makin bergidik ketakutan baru saja dua kakinya akan mengajak berjalan. Lagi-lagi saling menoleh menatap bingung jelas dua wajah santriwati baru semakin tercekam ketakutan. Baru saja dua pasang kaki akan berjalan meninggalkan kursi, sontak saja dua santriwati di buat terkejut dan makin bergidik ketakutan seraya kembali dua mata kakinya terpejam.
Wanita bertubuh tambun, wajahnya pucat kertas, dua matanya seraya akan melompat jatuh keluar dari kelopak matanya dan pergelangan dua tangannya hitam gosong seperti habis terbakar sudah masuk kedalam kelas. Lantih dan Wori kembali saling menoleh, tentu saja benaknya kian terhujam di sertai banyak pertanyaan dan semakin terkulik ketakutan kembali berdiri membelakangi kursi berhadapan meja.
"Wori?" gemetar bibir kecilnya seraya meminta temannya untuk menyapa wanita tambun sejak datang hanya berdiri menghadap whiteboard dan membelakangi kedua santriwati baru.
"Bu. Bu?!"