Banyak pasang mata menatap dingin dokter tampan sejenak duduk di balik kemudi setir mobil. Ragu rasanya ia ingin turun dari mobil melihat pasang mata begitu menatap padanya. Dari kaca spion bagian luar kanan tampak lelaki tua dan anaknya sudah berdiri di samping mobil sesaat di lihatnya dari dalam mobil. Ia kali ini tidak lagi ragu untuk turun dari mobil, walau ia sesaat melempar senyuman pada wajah-wajah warga tetap saja membalasnya dengan senyuman dingin.
"Pak Dokter, tadi saya sudah kasih tahu sama ayah, kalau Pak Dokter ingin mencari tahu tentang kebenaran apa yang tengah terjadi di pesantren," kata penjaga pesantren menoleh pada ayahnya setengah mengangguk.
Pelan lengan kanan lelaki tua menepuk pundak anak pemilik pesantren berjalan mengiringi langkah anaknya sudah berjalan ke beranda teras rumah. Atang kemudian menarik kursi untuk mempersilahkan dokter tampan segera terduduk. Sedangkan ayah kandung dari anak penjaga pesantren sudah terduduk menyamping menoleh pada wajah Daus seraya berharap, jika malam itu ia bisa mengetahui sesungguhnya yang sudah terjadi di pesantren. Sedangkan warga terduduk di lantai wajahnya menatap dingin dokter tampan berusaha untuk tenang.
"Semoga saja Pak Dokter dapat menerima setelah ayah menceritakan semuanya," ujar Atang menatap sendu raut wajah Daus, hatinya mulai tercekam kecemasan.
"Warga di sini sudah tahu tentang pesantren itu. Mereka sebenarnya hanya aneh saja melihat kedatangan Pak Dokter dan keluarga datang ke pesantren, apalagi menginap," Daus menoleh dan menatap wajah-wajah warga tidak lagi tergurat dingin sedikit ada senyuman.
"Pesantren itu sesungguhnya sudah hancur luluh lantah, semua bangunannya sudah terbakar habis. Setelah kejadian itu, saya tidak lagi menjaga dan mengurus pesantren. Saya meminta pada Atang untuk menggantikan saya. Atang juga bingung dengan keinginan Lantih dan Wori, mereka kekeh mau nyantri di pesantren, terlebih kedatangan Pak Dokter. Jelas bangunan pesantren itu sudah hancur menyatu rata dengan tanah, tapi hanya bangunan masjid masih berdiri kokoh walau tidak lagi memiliki daun pintu dan jendela."
"Semua bangunan pesantren terbakar. Lantas pondok tempat ayah dan ibu saya, bangunan kelas dan asrama santriwati saya perhatikan masih berdiri kokoh?"
Begitu saja Daus menyela karena tidak percaya dengan penuturan Rojak, ia sempat berhenti berbicara menatap guratan raut wajah anak pemilik pesantren yang sesungguhnya tidak percaya.
"Pak Dokter pasti bingung. Semua bangunan pesantren hancur rata dengan tanah dan hanya bangunan masjid saja yang masih berdiri kokoh. Itu jikalau Pak Dokter lihat pada malam hari. Dua mata Pak Dokter sudah di butakan oleh arwah-arwah santriwati yang menjadi korban tewas terbakar saat itu. Sebenarnya apa yang Pak Dokter lihat semua itu hanya kamuflase saja, itu tidak nyata," Rojak berusaha meyakinkan Daus agar ia mempercayai ceritanya.
"Malam itu?" lelaki tua sempat berhenti bicaranya, ia kembali menatap dalam dokter tampan perlahan mulai terhanyut ikut dalam cerita. Sedangkan Atang dan warga terdiam seraya menyimak cerita kelanjutan yang pastinya membuat Daus akan menerima kenyataan yang sudah terjadi di pesantren.
Malam Sebelum Terjadinya Musibah Kebakaran ...
"Ikhlaskan kepergian Tiar dan Endar," kata wanita tua, istri pemilik pesantren seraya ia ikut bersedih dan berdoa hanya berdiri depan pintu menatap kedua cucunya terbaring di ranjang dalam kamar sudah tidak bernyawa.
"Yah, bantu saya. Saya tidak ingin berpisah dengan Tiar dan Endar," memohon sambil terduduk bersimpuh, wajahnya tergurat kesedihan yang tidak ingin beranjak pergi dari ibu, dua anaknya yang anaknya sudah tiada.