Diatas Tanah Setan

Herman Siem
Chapter #19

Kemarahannya Sampai Terbakar

Sama sekali ia tidak membalas senyuman santriwati-santriwati berjalan berpapasan dengannya. Hanya tatapan dingin bercampur kesedihan yang tidak mau beranjak pergi dari raut wajah menantunya. Apalagi membalas senyuman ayah dan ibu mertuanya saat berpapasan bergegas jalan ke kelas, dimana santriwati sudah menantinya. Lala kembali menatap dingin penuh rasa kecewa pada mertuanya, mungkin benaknya sedang berkecamuk dalam kesedihan kenapa dua anaknya secepat itu sampai meninggal dunia. Semua berawal dari kesibukan suaminya yang selalu mengutamakan pasien ketibang perhatian pada dua anaknya. Di tambah makin kecewanya pada ayah dan ibu mertua yang tidak membantu kesulitan yang sedang di hadapinya.

Sepi terasa sunyi, hanya sayub terdengar suara-suara lantunan ayat-ayat suci yang sedang di bacakan santriwati dari dalam kelas. Sementara langit diatas sana sedang bermuram durja, seraya sedang ikut bersedih memayungi istri dokter yang sedang berjalan. Ia berhenti menatap tampak depan pondok, diatas fasad depan atas rumah masih terpampang nama "Pengurus Pesantren Nur Islami"

Dari kejauhan sembari berpura-pura menyapu halaman, tatapan sembunyi lelaki yang kerjanya bersih-bersih pesantren sempat perhatikan istri dokter masih berdiri di depan pondok. Sontak kembali berpura-pura menyapu halaman pesantren setelah ia ketahuan sedang memperhatikan istri dokter yang tidak lagi terlihat. Tidak tahu kemana langkah jalannya mengajak wanita itu pergi, padahal tadi di lihat Rojak masih berdiri di depan pondok.

***

Pintu perlahan di dorongnya kedalam kebetulan ruangan baca tidak terkunci pintunya. Masih tergurat jelas raut wajah kesedihan bercampur rasa kecewa. Ia sudah masuk kedalam ruangan baca, pandangan matanya seperti mencari sesuatu yang di carinya. Ia kemudian berjalan di antara rak buku, wajahnya menoleh kiri-kanan perhatikan susunan buku dalam rak.

Tersenyum wajahnya walau hatinya masih terluka rasa kecewa, jelas dua bola matanya menatap kotak kecil tergeletak di ujung rak kayu sedikit terhalang susunan buku. Ia makin tersenyum seraya hatinya tidak lagi terkulik kesedihan saat dua tangannya sudah meraih kotak kecil. Kotak kecil sudah dalam pelukannya seraya hatinya kian berbisik, jika niat dan keinginannya sebentar lagi akan terwujud. Nyatanya keberadaan kotak kecil di pesantren tidaklah hanya candaan dan gurauan santriwati. Keberadaan kotak kecil berisi buku jawa kuno dan terompet keong nyatanya benar memang ada.

Hati kecilnya makin berbisik melawan mengusir niatnya agar segera kembalikan kotak kecil pada tempat, namun hati besarnya menolak seraya yakin akan niat dan keinginannya akan segera terwujud walau tidak sepaham dengan hati nuraninya. Makin tersenyum Lala, saat dua matanya terbelalak lebar melihat kebenaran isi dalam kotak kecil. Buku kecil usang dan terompet keong terbaring nyaman dalam kotak. Kotak kecil segera kembali di tutupnya dan kembali dalam pelukannya. Dua kakinya cepat mengajak bergegas keluar dari ruangan baca, takut kalau-kalau ada yang melihat dirinya sudah berhasil mencuri kotak kecil itu.

Ternyata sejak tadi sepasang mata melihatnya dari luar jendela samping pondok. Jelas sepasang mata itu melihat menantu pemilik pesantren sudah berhasil menemukan apa yang sedang di carinya. Wajahnya sontak menepi minggir di luar sisi kanan jendela saat Lala menoleh kebelakang padahal jemari kanannya sudah menarik daun pintu kedalam. Terdiam sesaat Rojak berdiri di balik luar jendela, ia takut ketahuan. Pintu sudah tertutup, di beranikan kali ini ia sudah terlihat berdiri di luar jendela perhatikan ruangan baca. Rojak cepat bergegas berbalik dan berjalan pergi.

***

"Tolong ... Tolong ... Kebakaran! Kebakaran ..."

Panik dan berhamburan berlari keluar dari lorong koridor kelas dan asrama, wajah dan tubuh santriwati meronta sudah terbakar.

"Mbak Lala! Mbak Lala jangan!" lerai Rojak berusaha merampas dirigen minyak dari tangan Lala.

Lihat selengkapnya