Malam seraya masih panjang untuk segera bergegas pergi, langit saja terlihat gelap tidak sedang bermain dengan cahaya indung rembulan malam. Sepi sunyi mencekam sungguh terasa membangunkan buluk kuduk untuk berteriak ketakutan. Beda saat siang hari terasa sepi seperti kuburan berteman dengan kesunyian, namun ketika malam datang pastinya membuat semua penghuni pesantren terasa bebas berkeliaran seraya bangkit dari kematian mengumbar ketakutan.
Lorong koridor asrama dan kelas serta masjid terasa sunyi sepi mencekam berselimut gelap malam. Sungguh kehidupan yang aneh terasa hanya saat gelap saja mulai datang semua aktivitas pesantren terlihat. Sepi pelataran halaman pesantren, tiada penerangan cahaya lampu listrik hanya ada berapa titik lampu cahaya lampu sempor menerangi beranda pondok tempat tinggal pemilik pesantren.
"Langite peteng ndhedhet mbukak. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa. Nggawa, nggawa, bayi. Paring urip kanggo anakku loro. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa,"
Lirik suara itu terdengar dari dalam pondok sungguh nadanya semakin membuat buluk kuduk berdiri berteriak ketakutan seraya sedang membangunkan kematian agar segera terjaga bangun. Tadinya sepi sunyi, kini terlihat segerombolan cahaya api obor seperti berjalan tanpa ada yang membawanya.
"Teng ... Teng ... Teng ..."
Makin membuat buluk kuduk bergidik ketakutan di tambah suara lempengan besi terbentur tiga kali di tengah malam buta.
Segerombolan cahaya api obor itu terlihat dari ujung lorong koridor kelas berjalan kearah pelataran halaman pemilik pesantren. Wajah-wajah seram pucat gosong santriwati menatap tampak depan pondok, jemari kanannya erat memegang batang obor dengan pandangan dua matanya tajam melotot sama sekali tidak berkedip.
Pintu pondok terbuka lebar hanya terlihat samar cahaya dari dalam ruangan tengah masih tampak gelap gulita. Seperti cahaya lampu semakin mendekat di sertai suara lirik mantra jawi kuno semakin jelas terdengar dari dalam pondok.
"Langite peteng ndhedhet mbukak. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa. Nggawa, nggawa, bayi. Paring urip kanggo anakku loro. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa,"
Suaranya kembali terdengar jelas, semakin mengusik tidur panjang agar segera terjaga bangun walau sesungguhnya telah melanggar kodrat.
Cahaya samar cahaya lampu sempor makin jelas membelah kegelapan dan berhenti persis berhenti di depan pintu. Jelas wajahnya terlihat, dua wajah menua pucat seram gosong terpapar cahaya lampu sempor hanya menatap santriwati-santriwati sejak tadi hanya berdiri menatap kosong. Sekali mengangguk dan memegang lampu sempor, istri pemilik pesantren seraya mengusir semua santriwati agar segera beranjak jalan pergi. Benar saja semua santriwati berjalan pergi meninggalkan pemilik pesantren masih berdiri depan pintu pondok. Pelataran halaman pondok kembali gelap gulita sesaat berangsur-angsur tidak lagi terlihat segerombolan cahaya api obor sudah berjalan kearah lorong koridor asrama.
"Langite peteng ndhedhet mbukak. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa. Nggawa, nggawa, bayi. Paring urip kanggo anakku loro. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa,"
Terdengar lagi suara mantra lirik jawi kuno dari dalam kamar, sempat dua wajah menua seram pucat gosong saling menatap. Sepasang suami-istri masih berdiri depan pintu pondok, seraya keduanya sedang menunggu anaknya yang belum kembali pulang.
***
Ia terduduk bersila dalam keheningan malam membelakangi kedua anaknya terbaring tidur di ranjang. Jelas wajah pucat dua anaknya terpapar cahaya samar lampu sempor bersebelahan dengan koran dan stetoskop tergeletak di meja. Dua matanya semakin jelas dan yakin saat membaca setiap kata tulisan jawi kuno pada lembaran buku dengan lambang terompet keong. Benak kecilnya semakin bergelut dengan keyakinan, keyakinan akan niatnya sebentar lagi segera terwujud. Sempat ia menoleh kebelakang masih terbaring tidur dua anaknya di ranjang, kali ini benak semakin terkuliti ketidak yakinan. Kesal ia membuka hijab warna hitamnya dan begitu saja di lempar kelantai.
"Langite peteng ndhedhet mbukak. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa. Nggawa, nggawa, bayi. Paring urip kanggo anakku loro. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa,"
Bibirnya semakin lantang membaca mantra itu, raut wajahnya semakin bergulat dengan peluh dingin dan benaknya semakin terbawa aura kesesatan sebenarnya agar mendorongnya kejurang dosa.