Langkah dua kakinya berjalan senyap mendekati ranjang. Ia berdiri, pandangannya sendu bercampur sedih melihat kedua anaknya sedang tertidur. Seperti biasa lengan kanan seorang ibu selalu memberikan kehangatan dan selalu memeluk pada dua anak tersayangnya. Rasanya ia tidak terduduk walau sesaat untuk mengelus wajah istrinya, ada guratan kebingungan pada raut wajah dokter tampan itu. Mungkin benak kecilnya bertanya, kenapa istrinya tidak lagi mengenakan hijab. Ia sedikit menghela napas kesabarannya, mungkin saja hijab itu sengaja di lepaskan karena sedang berada di dalam dan sedang tidak di pakainya.
Ia sudah mengambil hijab di lantai, tadi di lempar begitu saja oleh istrinya kelantai. Hijab itu kemudian di gantungkan pada kastop di belakang pintu. Hatinya semakin terkulik banyak pertanyaan dan kecemasan, mungkin saja sudah bersarang cerita dari penjaga pesantren tentang keadaan sebenarnya. Jelas wajah tampannya tergurat kecemasan, sungguh jelas terlihat dari cermin lemari. Ia berdiri membelakangi ranjang, dimana istri dan kedua anaknya terlihat dari cermin lemari sedang terlelap tidur.
Kemudian ia berbalik dan kini sudah membelakangi cermin, tatapan kedua matanya kian terasa sendu menatap kedua anaknya. Ia merasa sesungguhnya memang ada keanehan dengan sikap dua anaknya setelah dirinya tidak menepati janji. Terlebih dengan sikap istrinya berapa hari ini seperti benar sedang menyembunyikan sesuatu tentang kedua anaknya.
"Ayah tahu yang sudah menimpa kalian berdua. Maafkan ayah," gumannya pelan sekali.
Ia kembali berbalik, wajah tampannya makin jelas sudah terpapar amukan kemarahan terlihat dari cermin lemari. Ia sejenak setengah membungkukkan badan saat jemari kanannya sudah menarik handle pintu lemari. Tanpa ia sadari, dua pasang anaknya sudah mendelik seram menatap langit atap plafon kamar seraya terusik apa yang akan di ambil dari ayahnya dalam lemari.
"Ayah ikhlas jika kalian berdua sudah tidak ada. Ayah tidak ingin kalian jadi begini! Hidup dalam bayang-bayang kematian," gumannya tidak lagi pelan, ia sudah memegang kotak kecilb dan dua pasang mata anaknya kembali terpejam lagi.
Kotak kecil di letakan diatas meja, jemari kanannya lalu mengambil stetoskop sesaat di pandangannya dan kembali di letakan. Ia kemudian mengambil koran namun dua matanya tidak ingin membaca. Malahan dua matanya seraya sudah mengundang kesedihan, dua matanya merona memerah menahan derain tangisan. Mulai mengular rasa kemarahan, dua tangannya meremas-remas koran dan menyobeknya sampai terlihat lembaran-lembaran kecil dan setelah itu di biarkan saja sobekan koran menutupi stetoskop.
"Kembalikan kotak itu," suaranya terdengar dari ranjang.
Daus tersenyum sinis sudah memegang buku kecil dan terompet keong. Wajahnya tidak mau menoleh kearah sumber suara itu, walau ia tahu sumber asal suara itu dari istrinya yang sudah terjaga bangun dan terduduk di ranjang membelakangi kedua anaknya masih terlelap tidur.
"Hanya gara-gara ini! Kamu sampai membakar pesantren ini! Kamu sudah membunuh ayah dan ibu serta santriwati pesantren ini, Lala!" Daus berbalik sambil menuding dan dua tangannya seperti mengancam akan membanting terompet keong dan membanting buku kecil kelantai.
"Aku tahu, Tiar dan Endar sudah mati! Kenapa kamu tidak beritahu aku, La?!" ketakutan istrinya saat dua tangan suaminya akan melempar terompet keong dan buku kecil kelantai. Sedih bercampur marah suaminya terduduk di kursi. Sedikit tenang Lala saat terompet keong dan buku kecil mendarat di pangkuan suaminya saat sudah terduduk.
"Kenapa kamu korbankan ayah dan ibu dan membakar pesantren ini? Wajar ayah dan ibu tidak ingin membantumu! Di pesantren ini sama sekali tidak mengajarkan kesesatan. Setahuku, aku memang pernah mendengar jika ayah pernah menyimpan buku dan terompet keong ini. Tapi ayah dan ibu sama sekali tidak pernah memakai buku ini dan terompet keong ini! Bodohnya aku waktu itu, kenapa aku biarkan saja ayah menerima kotak ini dari adiknya yang sekarang sudah tiada. Harusnya waktu itu aku larang ayah agar tidak menerima dan menyimpan buku dan terompet keong pemberian adiknya, ia seorang penganut ilmu hitam! Justru sekarang kamu yang menggunakan buku ini dan terompet ini untuk membangkitkan jasad Tiar dan Endar yang sudah mati! Aku pasrah Lala, jika kedua anakku memang sudah tiada! Kuburkan Tiar dan Endar."