"Mungkin saja, pasien gawat darurat yang kamu tolong waktu itu. Dia korban tabrak lari yang aku tabrak. Salah aku, jika sudah terlalu banyak memberikan kasih sayang dan perhatian pada Tiar dan Endar, yang sesungguhnya mereka sangat butuh kasih sayang dan perhatian dari kamu, Daus! Sampai-sampai ayahmu tidak mau membantu, salah jika aku juga membakar pesantren ini?!"
Setelah Lala bercerita memberitahukan kejadian sebenarnya pada Daus lagi-lagi dua kakinya tidak sanggup berdiri untuk menopang sekujur tubuhnya yang kian terasa lemas. Daus kembali terduduk dan menatap sedih dua anaknya masih terbaring tidur.
"Hancur sudah, tiada lagi harapan seorang ibu yang selama ini sudah mengandung dan membesarkan dua anaknya yang sudah tiada! Mereka kini hanya mayat hidup, yang selalu aku bangunkan dengan terompet keong dan buku mantra itu. Aku lebih baik menjadi sesat, dari pada aku kehilangan dua anakku, Daus. Semua berawal dari kamu. Kamu yang selalu sibuk dan mengutamakan pasien-pasien kamu, ketibang dua anak itu!" tersenyum sinis seraya menahan kesedihan menuding suaminya.
"Iya aku bersalah! Aku punya alasan kenapa aku sampai kurang memperhatikan Tiar dan Endar. Aku melakukan semua ini, karena demi masa depan Tiar dan Endar. Sekarang apa yang aku rasakan dan kamu rasakan. Hancur sudah, tidak ada lagi harapan. Karena kedua anak kita sudah mati! Akhhhhh ...!!!"
"Prangg!"
"Tidak ...!!!"
Meradang marah menuding istrinya, Daus berteriak lantang membanting terompet keong kelantai jadi pecah dua bagian.
"Cukup. Cukup Daus! Jangan! Jangan ...!!!"
Tidak peduli, dokter tampan itu kian meradang marah dan menyobek buku walau istrinya memohon.
"Kuburkan Tiar dan Endar!" masih kurang puas suaminya mendorong istrinya hingga terjatuh tersungkur di lantai.
"Tiar. Endar ..." Daus makin tidak kuasa hanya berdiri menatap dua anaknya dan berteriak untuk meluapkan kesedihan.
"Kullu nafsin za iqatul maut, wa innama tuwaffauna ujurakum yaumal-qiyamah, fa man zuhziha 'anin-nari wa udkhilal-jannata fa qad faz, wa mal-hayatud-dun-ya illa mata'ul-gurur,"
Yang artinya: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya,"
Pintu terbuka lebar, terdengar lantunan ayat-ayat suci dari ruangan tengah di sertai artinya. Lala hanya tertelungkup sedih menatap sobekan lembaran buku dan pecahan terompet keong di lantai, seraya ia sudah benar-benar pasrah hancur berkeping-keping tidak ada lagi harapan untuk kembali bisa bersama dua anaknya.