Diatas Tanah Setan

Herman Siem
Chapter #23

Tudingan Mengancam Kematian

Tergurat cemas raut wajahnya sampai mengluar kedalam hati semakin merasa bersalah sudah memberitahukan tentang kejadian sebenarnya dengan apa yang terjadi saat ini di Pesantren Nur Islami. Sejak tadi ia berjalan kiri-kanan di beranda rumah, terkadang berhenti sejenak menatap halaman rumah terlihat gelap tersamar cahaya penerangan lampu tergantung menjuntai di bawah dahan pohon.

Bisikan hati kecilnya sejak tadi berkali-kali sudah mengajak untuk segera menemui dokter tampan di pesantren, bisikan itu selalu mengatakan resah jika takut terjadi sesuatu. Sekali ia menoleh kebelakang pintu rumah sedikit terdorong keluar dan terlihat anak lelakinya akan menghampirinya.

"Yah, apa kita ke pesantren saja?" anaknya, tahu jika ayahnya sedang merasakan kecemasan.

Rojak sesaat perhatikan sepeda sejak tadi menanti kapan dua pedalnya di kayuh. "Pikiran ayah kenapa jadi bercabang, Tang. Ayah takut Pak Dokter berbuat macam-macam dengan istrinya," sahut lekaki tua itu pada anaknya ikut cemas sudah berdiri di sampingnya.

"Kita lebih baik ke pesantren saja, yah. Ayo yah," ajak anaknya sudah duduk di sepeda, dua kakinya siap mengayuh pedal sepeda. Bergegas ayahnya duduk boncengan sepeda berjalan meninggalkan rumah berteman dengan sepi.

"Ayah tidak salahkan, Tang sudah menceritakan semua kejadian sebenarnya pada Pak Dokter?"

"Ayah tidak salah. Saya tahu yang ayah sekarang pikirkan, ayah merasa cemas dan resah saja. Ayah takut kalau-kalau Pak Dokter berbuat macam-macam dengan istrinya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa."

Suara ayah dan anaknya terdengar memecah gelap malam, sepeda semakin cepat berjalan di kayuh dua kaki Atang, raut wajahnya malam itu juga tampak cemas. Segerembolan cahaya api obor terlihat di belakang yang kemudian berhenti sesaat. Wajah-wajah seram pucat gosong santriwati menatap tajam kearah sepeda semakin terus berjalan memecah gelap malam, kiri-kanannya sama sekali tidak ada lampu penerangan jalan.

***

Hanya masjid dan pondok tempat tinggal pemilik pesantren masih berdiri dan masih terlihat di kelilingi gelap malam menyelimuti reruntuhan tumpukan puing-puing pesantren. Hati kecilnya sesungguhnya tidak tega dan tidak ingin meninggalkan istrinya masih berada di dalam pondok itu.

"La. Lala ..."

"Tok ... Tok ..."

"Buka pintunya! Aku tahu, kamu melakukan semua ini karena rasa cinta pada Tiar dan Endar. Aku juga tahu kamu kecewea marah denganku! Aku hanya ingin kamu sadar, apa yang kamu lakukan salah. Buka pintunya, La. Kita kuburkan sama-sama jasad anak kita,"

Percuma saja ia sejak tadi memanggil dan berteriak dari luar sambil mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari istrinya. Daus menghela napas sesaat masih berdiri depan pintu dan menoleh kesamping, kedua jasad anaknya masih terbaring di bale panjang.

"Mas Daus, gimana kalau kita kuburkan saja Tiar dan Endar sekarang?"

Lihat selengkapnya