Lantih dan Wori seraya tidak peduli dengan rasa ketakutan dan rasa panas api makin berkobar, keduanya berusaha ingin menolong dua jasad anak kecil itu agar tidak terbakar.
"Lantih! Wori!" sambil sekali kaki kanannya menendang wajah istrinya, sempat terlepas cengkraman dua tangannya tidak lagi mencengkram dua kaki suaminya.
Api makin menjalar makin bebas melahap bale panjang. "Wori cepatan angkat Tiar!" sempat tersengat jilatan lidah panas api pada lengan kanan gadis berparas hitam manis, namun ia sudah berhasil membopong jasad anak gadis kecil berhasil keluar dari kobaran api.
"Lantih cepatan angkat Endar!" teriak Wori panik melihat api makin bebas membakar. Api makin bebas membakar, sedangkan lelaki tua dan istrinya begitu saja menembus kobaran api seraya tidak membakar tubuhnya.
"Atang cepat angkat Endar!" begitu saja datang tiba-tiba lelaki tua dan anaknya cepat menerobos kobaran api.
"Pak Rojak cepat!" di teriaki Lantih panik.
"Langite peteng ndhedhet mbukak. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa. Nggawa, nggawa, bayi. Paring urip kanggo anakku loro. Langite peteng ndhedhet mbukak. Ayo, teka setan sing njaga alam jiwa. Hahahahahaha ..."
Lagi-lagi suara lirik mantra jawa terdengar memecah kepanikkan di sertai suara tawa. Lala tersenyum seraya tidak peduli jika anak sulungnya itu akan terbakar kobaran api.
"Ayah, gimana ini? Saya tidak bisa keluar dari kobaran api ini?" panik Atang padahal sudah berhasil membopong Endar, tapi ia terjebak dalam kobaran api yang sudah merambat menjalar naik keatap dan atas fasad pondok.
"Bruaaggg!" terjatuh terbakar papan nama sempat di lirik Daus tidak peduli.
Dari belakang terlihat segerombolan cahaya api obor berjalan, mungkin itu arwah-arwah santriwati yang datang karena terpanggil lirik mantra jawa kuno.