Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #1

Prolog

Nada punya wajah yang bisa meluluhkan hati siapa saja. Senyum tipis menggoda, mata yang tahu kapan harus menunduk, bibir yang selalu selektif bicara, dan kecantikan ala pemain film papan atas yang memukau. Belum ditambah tubuh molek yang membuat lawan bicaranya berdecak kagum. Fisik yang sudah membantunya menipu.

Wajah itu sudah sukses menutup mulut-mulut yang seharusnya berteriak meminta keadilan. Paras itu juga yang membuatnya mendapatkan aliran pundi-pundi uang dan membuka pintu-pintu kesempatan. Nama suaminya jadi kartu akses. Semua rapi. Semua sempurna.

Nada bukan tipikal penipu yang canggung atau ceroboh. Semua direncanakan dengan hati-hati. Teliti. Tanpa celah. Dia mempelajari kebiasaan orang seperti membaca buku pada setiap lembarnya. Perempuan itu tahu kapan sebuah kebaikan palsu harus diberikan, kapan harus pura-pura menangis, kapan harus menyeret empati sampai sudah tak mungkin ditarik kembali. Ia belajar bagaimana menampung rasa bersalah orang lain, lalu menukar rasa itu dengan tanda terima, dengan kontrak, dengan uang dalam rekening.

Malam itu, Nada duduk di sofa kulit di ruang tamunya yang terlalu nyaman untuk berada dalam kesunyian. Televisi memuntahkan episode sinetron yang rutin ia tonton beberapa bulan terakhir. Kiara, antagonis perempuan sinetron itu, menangis di bawah lampu sorot. Kiara kini telah diazab. Wajah Kiara hangus dan sekujur badannya lumpuh. Tokoh kejam di cerita yang pada akhirnya akan diatur untuk hidup menderita. Sesuatu yang membuat rating naik dan komentar emak-emak bergejolak di aneka platform media sosial.

Nada menguap. Tangannya memegang gelas, memutar jus yang sudah dingin. Ia tertawa kecil menonton adegan flashback di layar.

Dia melihat Kiara berdehem, menyembunyikan dokumen, berkata setengah memelas tentang keputusan terbaik.

Nada meniru suaranya, meremehkan. “Drama,” gumamnya, tetapi matanya tetap menatap. Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menoleh. Apakah karena akting pemeran Kiara yang hebat? Atau mungkin … sesuatu yang lain. Rasa familiar yang aneh, seperti melihat bayangan di cermin yang menatap balik. Namun, dirinya tidak akan seperti Kiara. Setiap rencana licik telah dia susun dengan sangat hati-hati. Tanpa cela! Sempurna!

Di bawah meja, ponsel Nada bergetar. Pesan masuk dari klien. Tiga puluh juta untuk mengurus izin. Uang yang akan mengalir ke rekening yang tepat. Nada menutup mata sejenak. Tiga puluh juta. 

Satu tarikan napas. Dua tarikan napas. 

Lihat selengkapnya