Nada punya wajah yang bisa meluluhkan hati siapa saja. Senyum tipis, mata yang tahu kapan harus menunduk, bibir yang selalu selektif bicara, dan kecantikan ala pemain film yang memukau. Belum ditambah tubuh molek yang membuat lawan bicaranya berdecak kagum. Fisik yang sudah membantunya menipu. Wajah itu sudah menutup mulut-mulut yang seharusnya berteriak meminta keadilan. Paras itu juga yang membuatnya mengalirkan pundi-pundi uang. Pintu-pintu terbuka. Nama suaminya jadi kartu akses. Semua rapi. Semua sempurna.
Dia bukan tipikal penipu yang canggung atau ceroboh. Semua direncanakan dengan hati-hati. Teliti. Tanpa celah. Dia mempelajari kebiasaan orang seperti membaca buku pada setiap lembarnya. Dia tahu kapan sebuah kebaikan palsu harus diberikan, kapan harus pura-pura menangis, kapan harus menyeret empati sampai sudah tak mungkin ditarik kembali. Dia belajar bagaimana menampung rasa bersalah orang lain, lalu menukar rasa itu dengan tanda terima, dengan kontrak, dengan rekening.
Malam itu, Nada duduk di sofa kulit di ruang tamunya yang terlalu nyaman untuk berada dalam kesunyian. Televisi memuntahkan episode sinetron yang rutin ia tonton beberapa bulan terakhir. Kiara, antagonis perempuan sinetron itu, menangis di bawah lampu sorot. Kiara kini telah diazab. Kiara hangus wajahnya dan lumpuh sekujur badan. Tokoh kejam di cerita yang pada akhirnya akan hidup untuk menderita. Sesuatu yang membuat rating naik dan komentar emak-emak bergejolak.
Nada menguap. Tangannya memegang gelas, memutar jus yang sudah dingin. Ia tertawa kecil menonton adegan di layar. Kiara berdehem, menyembunyikan dokumen, berkata setengah memelas tentang “keputusan keluarga”. Nada meniru suaranya, meremehkan. “Drama,” gumamnya, tetapi matanya tetap menatap. Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menoleh. Apakah teknik akting Kiara yang hebat? Atau mungkin … sesuatu yang lain. Rasa familiar yang aneh, seperti melihat cermin yang menatap balik. Namun, dirinya tidak akan seperti Kiara. Setiap rencana licik telah dia susun dengan sangat hati-hati. Tanpa cela!
Di bawah meja, ponsel Nada bergetar. Pesan masuk dari klien. Tiga puluh juta untuk ‘mengurus’ izin. Uang yang akan mengalir ke rekening yang tepat. Nada menutup mata sejenak. Tiga puluh juta.
Satu tarikan napas. Dua tarikan napas.
Dia berkhayal bagaimana angka itu menambah emas kecil di lemari. Kelak akan dijual untuk jalan-jalan ke luar negeri. Lalu matanya kembali ke layar, ke Kiara yang terbaring di ranjang dengan perban di sekujur tubuh. Di sampingnya seorang lelaki berdiri. Panji, si pejabat, wajah yang tidak menunggu surat dosa untuk menjadi legenda jahat.