Sudah 12 jam aku berada di dunia sinetron azab. Pagi itu, aroma kopi luwak menusuk hidungku. Bau yang dulu hanya kucium dari cangkir restoran kelas atas yang kukunjungi dan bukan dari cangkir kristal berukir emas di meja ruang keluarga mewah ini. Aku selalu berpikir aku sudah sangat kaya. Hidup bergelimang harta. Namun, ternyata Kiara jauh lebih segalanya. Mungkin wajah dan tubuh ini juga mengalami rekonstruksi besar-besaran hingga begitu cantik dan sempurna.
Jiwaku yang terjebak dalam tubuh Kiara, kini duduk kaku di sofa kulit yang lebih dingin dari hatiku. Di layar TV, wajah-wajah kotor itu kembali mengisi layar. Anak kecil berlumpur memeluk boneka compang-camping, warga menangis di tenda pengungsian kumuh. Dan di tengahnya, dia berdiri dengan gagah. Panji. Suamiku. Atau tepatnya suami Kiara.
Dia berdiri penuh percaya diri di depan kamera, matanya menatap tajam ke sekeliling. Perut buncitnya menyembul sedikit walau sudah ditutupi setelan jas mahal. Kopiah hitam menghias kepala menambah kesan religius pada penampilan. Tangannya mengangkat mikrofon lalu mulai angkat suara dengan cukup menggelegar.
“Bantuan ini bukti komitmen kami! Kami akan relokasi korban, bangun permukiman baru! Jika ingin turut membantu, silakan transfer ke rekening yang muncul di layar. Kami pastikan dana Anda sampai ke tangan yang tepat!”
Senyum Panji begitu lebar, matanya berbinar seolah benar-benar peduli. Namun, aku tahu. Aku tahu, di balik senyum itu, ada dokumen palsu yang akan menggusur mereka semua. Kalaupun tidak pakai dokumen, aku yakin lelaki itu bisa mengupah preman-preman haus darah untuk mengusir mereka dari tanahnya.
Kalau di duniaku, aku akan senang jika suamiku melakukan tindakan selicik itu. Aku akan mendukungnya sepenuh hati. Siapa yang tidak mau hidup penuh harta seperti Kiara? Lihat perhiasan emas yang bergelantungan di tubuhku? Belum lagi batu permata cukup besar di dua cincin di jari manis kedua tanganku. Masalahnya, kalau ini dibiarkan, aku bisa kena azab!
Kalau habis kena azab aku kembali ke duniaku, sih, enak. Kalau aku sampai kejebak di tubuh Kiara yang terbakar dan lumpuh? Seram sekali membayangkannya!
Tidak!
Aku nggak akan membiarkan diriku kena azab. Panji harus dihentikan!
Perutku mulas karena jijik pada wajah-wajah itu yang masih percaya pada sandiwara Panji. Masa bodoh mereka kelaparan atau kebanjiran. Yang penting, jangan sampai rencana Panji sukses lalu aku yang kena imbasnya!
Amit-amit!
Dua minggu lalu, sebelum jiwaku terjebak di tubuh Kiara, aku masih penipu kelas kakap yang hidup dari merampok harapan orang. Bahkan setelah menguras tabungan seorang nenek untuk “investasi bodong”, aku tertidur dengan tawa puas. Semua terasa mudah dan menyenangkan. Aku tidak percaya azab. Buktinya, aku mendapatkan pasangan yang sempurna. Suamiku lancar-lancar saja membohongi semuanya. Menggunakan kekuasaannya secara semena-mena. Namun, harus kuakui, suamiku tidak separah Panji. Suamiku masih takut ketahuan polisi. Kami bermain cerdas dan hati-hati.
Akan tetapi, sekarang berbeda. Entah setan mana yang berani bermain-main denganku! Setiap aku melihat perbuatan zalim Panji, rasanya mual. Bayangan wajah Kiara yang diperban disisakan mata dan mulut membuatku ingin muntah. Suara alat pendeteksi detak jantung terdengar berdenging di telinga. Mulut yang dipaksa memakai alat bantu napas terasa menyesakkan. Seperti ada kekuatan tak kasatmata yang mencekik tenggorokan. Semua seolah memberiku peringatan, Kalau kau tak menghentikan Panji, kau akan mengalami nasib serupa dengan Kiara.
Aku tahu kalau Panji tidak segan menghabisi semua penghalangnya. Aku yakin dia juga tidak akan segan menghabisiku.
Kugenggam cangkir kopi. Hangatnya mengalir ke telapak tangan, tetapi tidak ke hati. “Kalau kamu bisa jadi pahlawan palsu di depan kamera, aku akan jadi istri sempurna di balik layar,” bisikku.