Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #3

Bab 2: Permainan Api dan Bayangan

Pagi mengetuk lewat tirai kamar ketika cahaya tipis membangunkanku dari tidur yang tidak terlalu nyenyak. Panji sudah pergi. Notifikasi di ponsel Kiara berbunyi.

Sayangku:

[Besok acaranya jam sepuluh. Pakai gamis serbaputih supaya kelihatan kalau kita tulus banget, Sayang!]

Aku menggeram, mengempaskan selimut ke lantai. Senyum? Aku hampir tertawa. Di dunia lamaku, senyum memang senjata andal. Kekuatanku. Namun di sini, senyumku harus menipu bukan hanya para korban, melainkan algojo yang mengancam nyawaku sendiri. Suamiku. 

Kepalaku langsung memutar kenangan tentang kelicikan demi kelicikan yang kususun hingga membuat orang mau transfer duit. Aku bahkan tidak salat, tetapi selalu pakai jilbab supaya terlihat suci tanpa dosa. Ya, ampun!

Aku menatap akun bank di ponsel. Dua koma tiga miliar. Angka yang bikin perutku mual karena takut. Takut kalau semua itu jadi alasan penulis naskah untuk memulai azab. Aku yakin, ini cuma tabungan aktif. Pasti Kiara punya tabungan rahasia dan benda-benda koleksi yang berharga yang nilainya jauh lebih banyak dari itu. Dalam cerita, uang haram punya cara sendiri untuk menarik bencana. Aku harus bergerak. Namun, jemariku gemetar. Jiwa yang dulu lihai menusuk siapa pun dari belakang, kini malah sekarang takut mati. Ah, bukan takut mati. Aku benci sakit. Benci terbakar hidup-hidup. Aku tidak percaya ada kehidupan setelah kematian. Namun, kalau harus hidup segan mati tak mau, aku memilih hidup saja!

Aku harus bergerak. Namun, aku belum punya apa-apa. Tidak ada alat rekam, tidak ada saksi, dan yang paling parah, sopir Panji selalu mengikuti. Mungkin dia dibayar sebagai bodyguard sekaligus menjagaku agar tidak berkhianat. Entahlah. 

Dengan segera aku berniat membuat akun bank digital baru. Tidak rumit. Kiara punya beberapa KTP palsu. Kalau sudah, aku bisa memesan gadget yang kubutuhkan. Hampir aku melakukan top up dari rekening utamaku ke rekening baru itu, tetapi aku teringat sesuatu.

Panji pasti memantau setiap transaksi. Dia pasti akan bertanya kenapa aku transfer ke rekening digital dengan nama baru. Atau mungkin dia punya kenalan yang memantau setiap KTP palsuku dipergunakan untuk apa. Bagaimana caraku membeli alat rekam tanpa ketahuan?  

Tiba-tiba, mataku tertumbuk pada notifikasi WhatsApp dari grup keluarga Kiara.

Mama : 

[Makan-makan minggu depan di rumah Mama. Jangan lupa bawa oleh-oleh gadget terbaru buat Mama!]

Gadget terbaru. 


Kuingat cerita Kiara di sinetron. Dia seorang shopaholic. Jika dirinya membeli gadget untuk ibunya, sekaligus membeli segala macam keperluan untuk mata-mata, Panji tidak akan curiga. Panji tidak pernah memeriksa paketnya. Hanya mengecek pengeluaran secara global saja ke toko apa saja.

Ya, ini aman. Aku pun mulai melakukan pembelian. CCTV mini, pulpen-rekam, kacamata pengawas, dan banyak lagi. Harganya mahal. Tak lupa gadget kekinian buat Mama. Luar biasa! Untung aku yatim piatu di dunia nyata hingga tidak perlu berbagi uang hasil kerja kerasku ke orang tua seperti benalu macam ibunya Kiara!

***

Pukul 09.15 pagi. Aku tiba di lokasi acara seremonial bantuan banjir dengan gamis dan jilbab putih, wajah flawless berkat makeup tebal, dan senyum yang kulatih di depan cermin selama satu jam. Aku takut senyumku dan senyum Kiara berbeda. Ternyata sama saja cantiknya. Bahkan Kiara jauh lebih cantik. Sialan! 

Panji sudah berdiri di panggung kayu dengan mikrofon di tangan dan suara menggelegar. "Dana ini 100% untuk korban! Transparan!"

Kamera mengarah padaku. Aku mengangkat tangan, melambai lembut seperti boneka. Di belakangku, tenda biru compang-camping dipenuhi warga yang lelah. Seorang nenek berkerudung lusuh menatapku, matanya berkilat harap. Dia pikir aku malaikat? Perutku kembali mulas. Kenapa? Padahal, dulu aku tidak pernah sakit perut tiap berbuat culas. 

Jangan percaya padaku, Nek. Aku bukan penyelamatmu. Aku cuma perempuan cerdas yang takut terbakar hidup-hidup. Namun, aku terpaksa … ya aku sangat terpaksa akan menolongmu, Nenek Tua!  

Lihat selengkapnya