Panji adalah manifestasi dari semua mimpi buruk yang dibungkus setelan jas desainer dan aroma parfum mahal yang memuakkan. Lelaki itu memetakan setiap inci keberadaanku dalam grid koordinat GPS di ponselku. Leherku terasa gatal, seolah-olah ada kalung anjing tak kasatmata yang dipasang pria itu dengan penuh kesombongan.
Cinta, bagi orang seperti Panji, adalah pengawasan total dua puluh empat jam. Tentu hal itu sangat romantis bagi seorang masokis yang merindukan penjara. Sayangnya, aku adalah Nada, penipu elit yang memiliki alergi akut terhadap jeruji besi.
Pagi ini, mimpi buruk itu ternyata datang berpasangan.
Aku baru saja menuruni tangga marmer rumah kami ketika melihat seorang wanita duduk anggun di sofa ruang tamu. Sonya. Notaris pribadi Panji sekaligus arsitek utama dari semua dokumen bodong, perusahaan cangkang, dan legalitas palsu milik suamiku. Wanita itu menyesap teh kamomil dari cangkir porselen favoritku dengan kelingking terangkat. Sepatu stiletto merah darahnya tampak mengintimidasi karpet Persia di bawahnya. Aku mengumpat dalam hati.
Kiara yang asli mungkin menganggap Sonya sebagai kolega kerja suami yang membosankan. Melalui insting penipuku yang sudah terasah puluhan tahun, aku bisa mencium niat busuknya dari jarak sepuluh meter. Wanita ini menginginkan posisiku. Dia mendambakan gelar istri sah Panji demi memegang kendali penuh atas kerajaan korup tersebut.
"Ah, Kiara Sayang. Wajahmu terlihat sedikit pucat hari ini," sapa Sonya dengan senyum yang lebih tajam dari silet. Matanya yang dilapisi eyeliner sempurna memindai penampilanku dari atas ke bawah. "Kau pasti kelelahan mendampingi Mas Panji kemarin. Aku membawakan suplemen herbal khusus dari Swiss. Sangat bagus untuk wanita yang rahimnya... ah, maksudku, untuk menjaga stamina."
Bangsat! Dia menyindir Kiara yang belum juga memberikan keturunan, sekaligus mungkin saja mencoba meracuniku pelan-pelan.
"Terima kasih, Sonya," balasku dengan senyum manja yang tak kalah memuakkan. "Aku memang butuh banyak tenaga. Melayani Mas Panji setiap malam sungguh menguras energi."
Aku bisa melihat rahang Sonya mengeras sepersekian detik sebelum senyum plastiknya kembali terpasang. Skakmat! Aku mungkin terperangkap di tubuh ini, tetapi kelihaianku menyayat harga diri perempuan lain masih utuh.
Panji keluar dari ruang kerjanya, membawa setumpuk map. Dia sama sekali tidak menyadari aura pembunuh di antara istri dan selingkuhan intelektualnya. Setelah berpamitan singkat, aku langsung melesat pergi. Aku memiliki jadwal belanja palsu yang harus kujalankan demi mempertahankan nyawaku sendiri.
Pukul dua siang, aku berdiri di depan Grand Indonesia. Sinar matahari Jakarta yang terik berusaha keras menembus lapisan foundation mahalku. Aku membawa beban di dalam tas selempang berlapis anti-sinyal. Di dalamnya ada peralatan mata-mata yang baru kupesan, kugenggam bersama nyali yang mulai terasa menipis. Ketakutan adalah penyebab utama keringat dingin di punggungku. Aku takut Panji tahu lalu menghabisiku atau lebih buruk, membuangku ke tempat antah berantah tanpa uang sepeser pun.