Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #5

Bab 4 - Kecurigaan dan Hitungan Mundur Kematian

Kecurigaan Rendra sedikit mereda, perlahan memudar seiring dengan embusan angin sore yang menyapu pilar-pilar masjid. Perasaan skeptis itu tergantikan oleh rasa lapar tak terpuaskan dari seorang jurnalis berinsting tajam yang baru saja mencium bau darah segar dari jarak sangat dekat. Rendra mungkin memegang teguh idealismenya, kulihat dari sepatu pantofelnya yang mulai mengelupas dan kemeja katun murahnya yang kusut. Pria itu memperbaiki letak kacamatanya yang melorot di pangkal hidung yang berkeringat, lalu menatap lekat-lekat ke arahku seolah aku adalah sebuah bom waktu bernyawa yang sangat berbahaya untuk disentuh, apalagi kalau sampai meledak. Matanya membedah pertahananku, mencari celah kebohongan di antara riasan mahalku.

"Dari mana Ibu tahu detail tentang yayasan fiktif itu?" cecar Rendra. Suaranya tertahan di tenggorokan, teredam oleh tempat yang dianggap suci ini. Dia menuntut kejujuran di rumah ibadah yang agung ini, bertingkah seolah kejujuran adalah mata uang yang masih laku dan memiliki nilai tukar bagi orang-orang kotor sepertiku.

"Saya berbagi ranjang dengan monster itu setiap malam," aku berdusta dengan sangat meyakinkan, merajut kebohongan demi kebohongan senatural mungkin hingga aku sendiri nyaris memercayai skenario ini. Aku mencondongkan tubuh, merendahkan intonasi suaraku. "Bapak pikir menjadi istri pejabat korup itu mudah? Dia sering mengigaukan deretan angka miliaran saat tidur lelap, mendengkur puas tepat setelah memastikan rekening luar negerinya menggendut dari hasil memeras darah rakyat. Dokumen aslinya tersimpan sangat rapi di dalam brankas ruang kerja pribadinya di rumah. Sebuah brankas baja tahan api mutakhir yang disembunyikan di balik lukisan pemandangan norak koleksinya."

Aku menjeda kalimatku, membiarkan informasi itu meresap ke dalam otak mereka. "Saya menjanjikan dokumen itu pada Bapak berdua malam ini juga. Dokumen fisik. Lengkap dengan stempel dan tanda tangan basah. Sebagai imbalannya, saya menuntut sesuatu yang mutlak sepadan. Sebuah transaksi take-and-give, Pak Rendra. Murni bisnis berdarah demi keselamatan nyawa."

"Perlindungan saksi?" Rama, sang perwira polisi yang sejak tadi duduk kaku layaknya patung, langsung tanggap. Mata elangnya yang setajam silet menatapku tanpa ampun. Rahangnya menegang, seakan siap mengulitiku hidup-hidup jika aku memberikan satu saja jawaban yang salah atau mencoba mempermainkan seragam kepolisiannya.

"Perlindungan total," ralatku cepat, memberikan penekanan luar biasa tebal pada kata total. Aku tidak sudi berurusan dengan birokrasi perlindungan saksi negara yang gampang disusupi. "Identitas baru kelas VIP yang tidak bisa dilacak oleh anjing pelacak Panji sekalipun. Paspor bersih, dokumen kependudukan tanpa cacat, tiket penerbangan ke negara tanpa perjanjian ekstradisi. 

Uang tunai dalam jumlah sangat cukup yang bersih dari radar pusat pelaporan transaksi keuangan. Dan yang paling penting, jaminan mutlak bahwa saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di ruang sidang mana pun, apalagi menghirup udara busuk penjara. Saya butuh jalur keluar yang steril. Tiket satu arah keluar dari neraka dunia ini sebelum semuanya meledak."

Rendra menyandarkan punggungnya ke tiang marmer masjid, menghela napas panjang hingga bahunya yang kurus itu merosot lelah. Pria itu tampak sangat muak dengan negosiasi ini, terlihat jelas dari raut wajahnya yang seolah baru saja menelan empedu.

Lihat selengkapnya