Perjalanan kembali dari pelataran Masjid Al-Hikmah menuju mall terasa bagai siksaan neraka tanpa akhir. Taksi online reguler yang kutumpangi terjebak parah dalam kemacetan sore Jakarta yang mengular tak kenal ampun. Knalpot berteriak, klakson bersahutan membakar emosi, dan cuaca terik memanggang atap seng mobil ini. AC taksi yang setengah mati berembus lemah sama sekali tidak membantu mendinginkan peluh dingin yang sedari tadi membasahi leherku.
Di tengah kemacetan statis itu, suara sirene polisi tiba-tiba meraung kencang dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat ke arah taksiku. Darahku berdesir hebat. Jantungku serasa anjlok ke dasar perut. Apa Rama mengkhianatiku? Apa dia langsung mengirim unit patroli untuk mencegatku di jalan raya ini? Aku menunduk dalam, menyembunyikan wajahku di balik tas selempang sambil menggigit bibir bagian dalam, merapal sumpah serapah kotor pada setiap detik yang berjalan lambat. Mataku melirik panik melalui kaca spion tengah. Sebuah mobil patroli polisi dengan lampu rotator menyala terang menyerobot jalur darurat, melaju kencang melewati taksiku tanpa menoleh sedikit pun. Rupanya mereka sedang mengejar hal lain. Aku membuang napas kasar. Paranoiaku sendiri yang hampir membunuhku hari ini.
Kapan aku bisa pulang? Aku sudah muak di sini. Takut akan azab. Takut Panji bertindak gila dan memepercepat hukuman kami berdua.
Tepat pukul empat sore lewat lima menit, aku akhirnya tiba kembali ke titik penjemputan awal di pelataran Grand Indonesia. Sinar matahari senja sudah mulai condong ke barat, menciptakan bayangan-bayangan panjang dan melankolis di atas aspal jalanan.
Di sana, anak laki-laki tukang bakso itu sudah menungguku dengan setia di dekat pot tanaman hias beringin raksasa. Wajah mungilnya tampak cerah ceria tanpa beban, keringat menghiasi dahinya yang kusam. Senyumnya mengembang sangat lebar hingga memperlihatkan susunan giginya yang gingsul. Kedua tangan kecilnya memeluk erat kotak kado tipuanku dan sekantong plastik besar bertuliskan logo toko roti "Manisnya Pas".
"Misi selesai, Petualang tangguh," kataku menghampirinya. Aku memaksakan diri untuk tersenyum tulus di tengah kepanikan dan sisa adrenalin yang masih merayap liar di dadaku.
Aku membuka dompet, menarik napas dalam, lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal berisi uang tunai satu juta rupiah tepat ke tangannya yang sedikit kotor.
Bagi anak itu, lembaran uang bernominal besar di dalam amplop tersebut adalah rezeki nomplok jatuh dari langit yang mungkin setara dengan penghasilan kotor ayahnya berjualan bakso keliling selama sebulan penuh. Uang itu bisa membeli beras, lauk-pauk, dan melunasi tunggakan sekolahnya. Namun bagiku, segepok uang bernilai jutaan itu hanyalah biaya sewa alat yang sangat amat murah. Sebuah harga yang terlalu sepele untuk membeli beberapa jam kebebasan dari layar radar pelacak milik pembunuh berdarah dingin yang sialnya berstatus sebagai suamiku sendiri.
"Wah! Makasih banyak, Tante Cantik! Tante baik banget kayak bidadari dari surga!" serunya melengking kegirangan. Anak itu mencium tanganku sekilas, lalu langsung berbalik dan berjalan menjauh secepatnya tanpa menoleh lagi, takut aku akan berubah pikiran dan meminta uang itu kembali.