"Halo, Sayaaang? Ya ampun, maaf banget ya tadi di dalem mall sinyalnya hilang timbul nggak jelas gitu, terus ponselku tiba-tiba mati total gara-gara drop parah. Kayaknya baterainya udah bocor parah nih, Sayang. Maklum, HP-nya udah mau setahun umurnya, udah minta ganti yang seri paling baru kayaknya. Aku baru banget sempat ngecas di kabel mobil pas udah di jalan pulang ini. Kamu lagi apa, Sayangku?"
Aku langsung memberondongnya tanpa jeda dengan pernyataan manja bernada tinggi dan rentetan pertanyaan repetitif yang tidak penting. Ini adalah taktik psikologis standar: membanjiri fungsi kognitif otak lawan bicara dengan informasi sampah agar dia tidak memiliki jeda sepersekian detik pun untuk memikirkan celah dari kebohongan yang disajikan.
Namun, kali ini aku jelas-jelas salah melangkah. Aku lupa sedang berhadapan dengan siapa. Panji ternyata bukanlah tipikal pria hidung belang dungu yang semudah itu ditipu oleh ocehan rengekan perempuan. Pria ini adalah sang pemangsa puncak di rantai makanan para bedebah.
"Kiara," panggil Panji. Hanya satu kata pembuka.
Suara pria itu meluncur masuk ke telingaku. Terdengar sangat berat, sedingin bongkahan es, dan nyaris sama sekali tanpa emosi. Namun, getaran ancaman di dalamnya sukses menggetarkan gendang telingaku hingga menjalar ke saraf tulang belakang.
"Aku hampir saja memerintahkan puluhan anak buahku untuk memblokir pintu keluar dan menyisir seluruh lantai mall itu mencari jasadmu. Aku sudah menyuruh pakar IT-ku untuk meretas sistem cctv dan melacak koordinat titik terakhir GPS-mu tepat sedetik sebelum ponselmu mati. Jangan pernah biarkan ponselmu mati lagi. Mengerti?" ancamnya konstan. Nada bicaranya benar-benar datar, dan justru itulah yang membuatnya seratus kali jauh lebih mengerikan daripada sebuah bentakan amarah yang menggelegar.
"I-iya, Sayang. Maafkan istrimu yang pelupa dan kelewat ceroboh ini ya," rajukku merengek, memaksakan suara tawa kecil sambil mati-matian menahan gelombang rasa mual yang bergejolak hebat di dinding perutku. "Jangan marah dong, Sayang, nanti tensimu naik. Aku sengaja keliling lama karena borong banyak banget kue-kue enak dari toko favorit buat acara keluarga besar Mama besok. Ada rasa red velvet kesukaan kamu juga lho."
"Lupakan urusan tetek bengek soal kue untuk ibumu yang rakus harta itu," potong Panji kasar, nyaris meludah.
Detik berikutnya, nadanya mendadak berubah tajam. Kelam. Terasa dipenuhi oleh aura kemenangan yang teramat kejam dan memabukkan layaknya diktator yang baru saja menaklukkan sebuah negara. Pria iblis itu sedang berada di puncak euforianya.
"Aku punya kabar yang jauh lebih besar. Aku baru saja menerima telepon konfirmasi langsung dari pusat ibukota. Izin percepatan penggusuran mutlak untuk kawasan kumuh Limbung sudah disetujui sepenuhnya oleh para pejabat di atas sana. Turun hari ini juga. Semua pihak bangsat itu sudah setuju dan tutup mulut dengan nominal pelicin fantastis yang kita tawarkan. Besok pagi, puluhan alat berat kita akan masuk menyerbu dan meratakan semuanya dengan tanah. Warga-warga miskin keras kepala yang masih bertahan di tenda pengungsian menjijikkan itu harus angkat kaki besok pagi juga tanpa terkecuali, atau mereka akan membusuk dan terkubur hidup-hidup di bawah puing-puing beton rumah dan lumpur mereka sendiri."