Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #8

Bab 7 - Pendarahan Palsu dan Brankas dari Neraka

Di jalan, tanganku merogoh ke dalam saku, mengeluarkan ponsel baruku yang tidak terlacak oleh sistem Panji. Aku membuka aplikasi pengawas yang terhubung dengan CCTV mini seukuran kancing baju. Kamera mungil itu sudah kujahit diam-diam di mata boneka pajangan di rak buku kemarin siang. Benda ini harus bisa menyelamatkan nyawaku hari ini.

Aku memutar ulang rekaman video beberapa jam yang lalu. Aku mempercepat durasinya hingga menemukan Panji masuk ke ruangan kerja sendirian untuk mengambil beberapa berkas. Di layar ponselku yang beresolusi tinggi, terlihat jelas jari telunjuk Panji menekan kombinasi angka dengan sangat cepat di panel brankas. Aku memperbesar layarnya semaksimal mungkin, memicingkan mata, dan membaca gerakan jarinya satu per satu.

Satu... delapan... nol... empat... sembilan... delapan.

180498.

Itu bukan tanggal lahirnya. Aku memutar memori, lalu teringat sebuah detail kecil. Itu adalah tanggal rilis surat keputusan dari kementerian yang memberinya proyek korupsi skala besar perdananya di masa lalu. Pria psikopat ini sangat terobsesi dengan sejarah uang haram pertamanya.

Mobil mewah yang kutumpangi merayap mulus memasuki pelataran rumah megah berarsitektur Eropa klasik ini. Pintu ganda kayu jati yang kokoh menyambutku layaknya gerbang neraka. Aku heran dengan selera Panji. Padahal rumah minimalis, tapi besar dan modern jauh lebih menyenangkan. Tidak perlu melihat ukiran-ukiran tidak penting yang belum tentu bisa bersih sempurna oleh para pembantu di sini.

Aku melangkah turun, menarik napas, lalu merapikan ekspresi wajahku di pantulan kaca mobil. Topeng Kiara yang manja dan penurut harus kembali terpasang sempurna tanpa cela.

Begitu kakiku menginjak lantai marmer ruang utama, aroma menyengat dari cerutu mahal bercampur dengan parfum terlalu menyengat hidung langsung menusuk penciumanku. Di sofa ruang tengah, Panji sedang duduk bersandar dengan kemeja yang dua kancing teratasnya sudah terbuka. Di seberangnya, duduk sang tamu tak kuharapkan, Sonya.

Wanita ular itu mengenakan gaun ketat berwarna hitam yang menonjolkan lekuk tubuhnya, duduk menyilangkan kaki dengan segelas sampanye di tangan. Tawa renyahnya menggema, membelai ego Panji yang sedang melambung tinggi ke angkasa. Dua predator ini benar-benar sedang merayakan kehancuran ribuan nyawa besok pagi.

"Ah, Nyonya Rumah sudah pulang," sapa Sonya. Nadanya diayunkan, penuh dengan racun berbalut keakraban palsu. Matanya menelanjangi penampilanku, seolah mencari tanda-tanda kelemahan yang bisa dia eksploitasi. 

"Kau lama sekali, Kiara," geram Panji. Lelaki itu meletakkan gelas kristalnya dengan kasar ke atas meja. "Aku sudah menyuruhmu bersiap-siap. Kita punya perayaan besar malam ini. Sonya datang untuk mengantarkan salinan draf hukum terakhir yang akan mengamankan posisi kita jika terjadi kerusuhan besok."

Aku berjalan mendekat. Di titik ini, rencana asliku adalah mencari alasan untuk menyingkir. Namun, menyerahkan suamiku secara terang-terangan pada wanita lain jelas akan memancing kecurigaan. Ego pria itu terlalu besar, jika aku menolaknya di ranjang. Namun, insting paranoia-nya jauh lebih tajam. Kiara yang asli sangat memuja suaminya dan pasti akan mengamuk melihat Sonya senyaman ini. Aku harus memainkan skenario yang jauh lebih meyakinkan. Sebuah kondisi darurat medis yang tidak bisa ditunda.

Tepat saat aku berdiri berjarak satu meter dari meja kaca, aku sengaja menjatuhkan tas selempangku ke lantai marmer hingga menimbulkan bunyi keras. Kedua tanganku refleks mencengkeram perut bagian bawah. Aku menekuk lutut, meringis kesakitan, dan membiarkan napasku tersengal-sengal putus asa.

"Aw... Aduh... Mas...," rintihku pelan, wajahku kubuat sepucat mungkin dengan menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga terasa kebas. 

Panji mendengkus kesal, alisnya menukik tajam. Pria itu benci rencananya diganggu. "Ada apa lagi denganmu, Kiara? Jangan mulai drama murahan. Naik ke atas dan ganti bajumu sekarang juga."

"Sakit sekali, Mas," bisikku parau, sengaja membiarkan air mata buatan menggenang di pelupuk mataku. "Perutku kram hebat. Sepertinya kistaku bermasalah lagi. Darahnya keluar banyak sekali dari tadi sore. Aku sampai harus ganti pembalut berkali-kali di mall. Rasanya... rasanya seperti mau pingsan."

Mendengar kata 'darah' dan 'kista', ekspresi Panji langsung berubah drastis dari penuh gairah menjadi jijik yang tak tertutupi. Pria arogan itu paling benci hal-hal yang merepotkan, apalagi yang berhubungan dengan siklus biologis berdarah yang menurutnya kotor dan merusak mood perayaannya. Yah, walau harusnya dia tahu kalau tidak boleh bersenggama saat kondisi datang bulan dalam segi agama yang ada di KTP-nya dan kesehatan.

"Astaga, kamu ini selalu saja bikin masalah pas sakit!" rutuk Panji marah. Pria itu mengibaskan tangannya mengusirku seolah aku adalah lalat pembawa wabah. "Panggil Parjo! Suruh sopir sialan itu anter ke UGD Rumah Sakit Medika sekarang juga. Jangan pulang sebelum dokter memberimu obat pereda nyeri sialan itu! Kamu merusak suasana hatiku malam ini!"

Lihat selengkapnya