Udara malam terasa lengket, menempel di kulitku yang sudah bersimbah peluh. Aku merayap keluar dari area kolam renang, melompati pagar samping dengan sisa-sisa tenaga, dan mendarat di atas rumput basah. Kakiku yang telanjang tergores ranting kering. Rasa perih itu langsung kuabaikan. Adrenalin masih memompa darahku terlalu cepat, membuat telingaku berdengung keras.
Aku berlari menembus bayangan pepohonan cluster, kembali menuju klinik tempat mobilku terparkir. Pak Parjo tertidur di kursi kemudi dengan mulut sedikit terbuka. Mesin mobil masih menyala, mengembuskan udara AC yang dingin.
Aku memakai kembali sepatu hak tinggiku dengan asal, merapikan jilbab yang sedikit berantakan, lalu mengetuk kaca jendela dengan panik.
Pak Parjo tersentak bangun, mengusap wajahnya yang kusut. Aku segera membuka pintu belakang dan mengempaskan tubuh ke jok kulit.
"Jalan, Pak! Ke IGD RS Medika sekarang!" perintahku dengan suara bergetar, memegangi perut bawahku sambil meringis kesakitan. "Brand yang kupengin nggak ada, Pak! Sakit banget, nih. Buruan!"
Sopir tua itu mengangguk panik, langsung menginjak pedal gas membelah jalanan sepi.
Aku menyandarkan kepala ke jendela kaca, memejamkan mata. Tanganku mencengkeram erat tas plastik yang berisi dokumen rahasia. Tas ini terasa jauh lebih berat dari aslinya. Dokumen biru itu terasa membesar memenuhi setiap rongga tas. Aku baru saja merampok brankas utama pejabat korup di sarangnya sendiri, saat si empunya sedang sibuk berzina di ruangan sebelah. Adrenalin belum sepenuhnya menyingkir.
Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di lobi UGD Medika. Bau antiseptik menyergap hidungku. Aku turun dari mobil, mengabaikan kursi roda yang ditawarkan perawat jaga, dan langsung berjalan tertatih menuju lift.
"Saya mau ke toilet sebentar. Mual," potongku cepat menolak perawat yang mendekat.
Aku menekan tombol lantai dua. Lorong poliklinik sepi dan terasa mencekam walau terang benderang. Tepat di ujung lorong dekat toilet wanita, dua sosok lelaki berdiri menyandar pada dinding keramik. Rendra dengan kemeja kusamnya, dan Rama yang mengenakan jaket kulit kebesaran seperti biasa. Entah berasa minggu jaket itu tidak dicuci.
Aku berjalan cepat menghampiri mereka. Tanpa basa-basi, aku merogoh tas, menarik map biru tebal itu, dan menjejalkannya langsung ke dada Rendra.
"Buka," desisku pelan, mataku liar mengawasi ujung lorong.
Rendra membuka map tersebut. Rama menyalakan kamera di ponselnya, menyorot kertas-kertas di dalamnya siap memotret. Mata kedua pria idealis itu membelalak serempak. Napas Rama terdengar tertahan.