Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #10

Bab 9 - Tumbal Sang Penguasa

Panji yang masih terpengaruh alkohol menarik tanganku dengan kasar. Meneriakkan pertanyaan tuduhan kalau aku lah yang merupakan pelaku pencurian dokumen itu. 

Gawat!

Aku harus tetap tenang dan bersandiwara dengan baik. Aku tidak boleh mati di sini. Aku harus pulang. Aku tidak mau terus hidup dalam keluarga yang dipenuhi rasa ketidakpercayaan. Aku lebih baik hidup sendiri atau menipu lelaki-lelaki kaya tak berotak di dunia nyata untuk kujadikan suami!

"Mas ... sakit!" rengekku, membiarkan air mataku tumpah. "Kan aku seharian pergi ke mall, begitu pulang untuk merayakan keberhasilan Mas, aku malah sakit dan ke IGD Rumah Sakit Medika! Dokter Handoyo yang memeriksaku! Sempat dirawat inap pula. Parjo menungguku di lobi sampai akhirnya aku memaksa pulang. Mas bisa telepon rumah sakitnya sekarang juga kalau tidak percaya! Semalam Mas mengusirku saat aku sedang kesakitan, lalu sekarang Mas menuduhku?!"

Panji melepaskan cengkeramannya dengan kasar, mendorongku hingga aku terjatuh terduduk di sofa. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Alibiku terlalu kuat. Pak Parjo adalah saksi mata yang patuh, dan rekam medis di UGD tidak mungkin berbohong.

"Lalu siapa?! Siapa yang berani mengkhianatiku?!" teriak Panji.

"Mas, tenang," sela Sonya, suaranya berusaha terdengar rasional meski tangannya gemetar. "Tim hukum kita sudah bergerak. Aku sudah mengaktifkan protokol darurat. Media boleh saja mengantongi dokumen itu, institusi hukum boleh saja berteriak melihat tanda tanganmu. Tetapi, secara legalitas pidana, namamu sudah kubersihkan."

Panji menoleh, napasnya masih kasar. "Apa maksudmu? Tanda tanganku dan stempelmu jelas-jelas terpampang di kertas keparat itu, Sonya!"

Sonya menyalakan kembali televisi, mengganti saluran. "Kita pakai skema kambing hitam. Mas menandatangani dokumen itu berdasarkan asas kepercayaan pada bawahanmu, Mas. Lihat ini."

Di layar televisi, tayangan berubah menjadi konferensi pers dadakan di depan gedung kepolisian. Rama berdiri di sana dengan wajah lelah, tetapi terlihat sangat menahan amarah karena tangannya terikat oleh birokrasi. Di sebelahnya, seorang pria paruh baya mengenakan rompi oranye tahanan berjalan menunduk dengan tangan diborgol.

Lihat selengkapnya