Panji menekan tombol merah di remote control hingga layar televisi yang sudah retak itu mati total. Ruang tengah seketika dilanda keheningan yang mencekam, hanya menyisakan suara napas suamiku yang berembus berat dan penuh perhitungan. Kepuasan di wajahnya usai menumbalkan Herman perlahan luntur, digantikan oleh awan gelap paranoia yang sangat kukenali. Pria ini predator, dan insting bertahannya sedang menyala dalam mode siaga penuh.
"Kita memang aman secara hukum berkat Herman," suara Panji memecah keheningan, matanya menatap tajam ke setiap sudut ruangan seolah mencari bayangan si pencuri. "Namun, fakta bahwa ada tikus yang berhasil menembus brankas utamaku tidak bisa ditoleransi. Rumah ini sudah tidak aman."
Panji berbalik, menatapku dan Sonya bergantian dengan tatapan elang yang siap menerkam.
"Mulai siang ini, aku akan menyewa tim teknisi keamanan. Rumah ini akan dipasangi CCTV di setiap sudut. Lorong, ruang tamu, dapur, taman, bahkan pintu depan kamar tidur. Tidak ada satu lalat pun yang boleh terbang di rumah ini tanpa pengawasanku."
Aku menelan ludah. CCTV? Ruang gerakku akan mati total.
Belum sempat aku memproses informasi itu, Panji melangkah mendekatiku. Dia menadahkan tangannya yang besar dan berbulu di depanku. "Berikan semua kartu kredit dan ATM-mu, Kiara. Ponselmu juga. Biar aku yang membelikan ponsel baru siang ini dengan nomor baru."
"Mas? Kenapa aku?" rengekku, sengaja membiarkan suaraku bergetar, memainkan peran istri manja yang kebingungan. "Aku kan butuh uang untuk ke salon, belanja bulanan, arisan...."
"Berikan!" bentaknya keras hingga bahuku melonjak kaget. "Rekeningmu akan kubekukan sementara. Pengeluaranmu akan kupantau sepenuhnya. Ini demi keamanan kita. Aku tidak mau ada aliran dana mencurigakan atau penyadapan dari pihak luar melalui barang-barangmu. Mulai detik ini, kamu dilarang keluar rumah tanpa pengawalan Parjo dan dua anak buahku yang lain."
Dengan tangan gemetar yang kubuat-buat, aku menyerahkan dompet mahalku dan ponsel utama Kiara kepadanya. Di dalam hati, aku bersorak lega karena ponsel rahasiaku yang kupakai untuk menghubungi Rendra dan Rama tersimpan aman di dasar kotak pembalut di kamar mandi atas. Tempat yang tidak akan pernah disentuh oleh lelaki arogan seperti Panji.
Panji mengambil barang-barangku, lalu menoleh pada selingkuhannya. "Sonya, pastikan semua dokumen proyek baru kita aman. Aku tidak mau ada kebocoran kedua. Aku akan memesan brankas baru dan kali ini, AKU SAJA YANG PEGANG KEDUA KUNCINYA!"
Walau nada Panji terdengar menusuk, Sonya mengangguk patuh dan senyum angkuh masih bertengger di wajah cantiknya. "Tenang saja, Mas. Semua akan kuurus dengan rapi."
Aku menunduk menatap lantai marmer yang dingin. Rencanaku harus berubah seratus delapan puluh derajat. Tanpa uang dan di bawah pengawasan puluhan mata lensa CCTV, aku tidak bisa lagi menyelinap atau menyuap anak kecil untuk mengelabui GPS. Kebebasan fisikku telah dirampas!
Sebagai penipu kelas atas di duniaku yang asli, aku tahu satu hukum pasti: saat otot dan ruang gerak dibatasi, bersilat lidah dan menyusup ke dalam kepala lawan adalah senjata paling mematikan. Aku akan membuat Panji dan Sonya menghancurkan satu sama lain. Mereka berdua adalah makhluk egois yang disatukan oleh keserakahan. Ikatan seperti itu sangat rapuh dan mudah diledakkan hanya dengan beberapa kalimat manipulatif.
---
Malam harinya, rumah ini benar-benar berubah menjadi penjara. Para teknisi berseragam sejak siang mengebor sudut-sudut plafon, memasang kamera pengawas berbentuk kubah kecil yang mengedipkan lampu merah berkedip-kedip. Aku duduk di sofa ruang keluarga, mengawasi mereka sambil menyulam, hobi baru yang sengaja kupilih agar terlihat seperti istri penurut yang tidak punya kegiatan mencurigakan.
Menjelang makan malam, Panji pulang membawa tumpukan map baru. Sonya ikut mengekor di belakangnya, tampak sangat percaya diri. Mereka duduk di meja makan panjang, sementara aku melayani mereka dengan menuangkan air putih, persis seperti pembantu tak dibayar. Aku terus menerus menyumpah serapahi keduanya dalam hati sembari memasang topeng perempuan lemah.
"Proyek reklamasi Limbung mungkin harus kita bekukan sementara waktu sampai media diam," kata Panji sambil memotong bistik dagingnya dengan kasar. "Kita butuh suntikan dana segar secepatnya untuk menutupi kerugian dari penarikan alat berat."
Sonya menyesap wine-nya pelan. "Tender proyek Program Piring Pintar untuk anak SD se-provinsi sudah kita menangkan, Mas. Anggarannya fantastis. Triliunan rupiah sebulan."
Telingaku langsung berdiri. Program Piring Pintar? Proyek 3P?