Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #12

Bab 11 - Mata-Mata Manusia


Lampu merah kecil di sudut plafon kamar pribadiku berkedip lambat, seirama dengan detak jantungku. Benda bundar seukuran kepalan tangan bayi itu mengawasiku dari atas, tak pernah berkedip, tak pernah tidur. Panji benar-benar mewujudkan ancamannya. Rumah megah ini telah resmi bertransformasi menjadi penjara. Hanya kamar utama dan semua kamar mandi yang tidak diberi CCTV. Yah, setidaknya, aku masih punya tempat privasi. Kamar utama hanya akan kumasuki ketika sedang tidak haid atau pendarahan seperti sekarang. Panji tidak mau berdekatan denganku saat seperti ini. Baguslah. Aku jijik kalau harus melayaninya setiap hari.

Aku menggeliat pelan di atas kasur, memastikan wajahku menampilkan ekspresi istri yang kelelahan dan pasrah. Di duniaku yang asli, aku benci diawasi. Pekerjaanku sebagai penipu elit menuntut kebebasan absolut. Kini, aku terjebak di dalam tubuh karakter sinetron fiktif yang tak punya daya, diawasi dua puluh empat jam oleh suami sosiopat, rasanya benar-benar seperti di penjara. Rasanya azab sudah turun kepadaku perlahan-lahan.

Aku benci tempat ini. Aku ingin pulang. Aku merindukan apartemen mewah juga kebebasan untuk menipu siapa pun yang kuinginkan tanpa perlu dihantui bayang-bayang azab yang entah dari siapa. Namun, untuk mendapatkan tiket pulang itu, aku harus menyelesaikan naskah gila ini dengan caraku sendiri. 

Panji akhir-akhir ini bangun lebih pagi, wajahnya selalu ditekuk, matanya dihiasi kantung hitam. Paranoia telah merenggut jam tidurnya. Bagus. Semakin dia kurang tidur, semakin kacau fungsi kognitifnya, dan semakin mudah bagiku untuk menyetir emosinya.

Aku bangkit, berjalan gontai menuju kamar mandi. Inilah satu-satunya suaka yang kumiliki. Panji, betapapun gilanya dia, masih memiliki setitik kewarasan untuk tidak memasang kamera pengawas di dalam kamar mandi.

Kutarik gagang pintu, masuk ke dalam, dan langsung menyalakan shower air panas hingga volume maksimal. Suara gemuruh air yang menghantam lantai marmer akan meredam suara apa pun dari dalam sini. Aku berjongkok di depan kabinet wastafel, menarik laci paling bawah tempat penyimpanan pembalut wanita. Dari dasar tumpukan kapas steril itu, aku mengeluarkan ponsel murahan bungkusan plastik yang tidak akan pernah terlacak oleh sistem Panji.

Jari-jariku bergerak cepat di atas layar, mengetik pesan ke nomor Rendra dan Rama dalam satu grup obrolan dadakan yang kubuat.

Proyek 3P (Program Piring Pintar) untuk anak SD akan segera berjalan. Anggarannya triliunan. Panji menggunakan vendor milik kerabat Sonya. Mereka berencana menggunakan bahan makanan sisa, beras kutu, dan ayam tiren. Target distribusi pertama adalah minggu depan. Cari gudang vendor mereka, kemungkinan besar atas nama kerabat Sonya. Sidak gudang itu sebelum makanannya didistribusikan. Bawa BPOM dan media. Hancurkan proyek ini di hulu sebelum dimulai!

Aku menatap layar, menunggu dengan napas tertahan. Kurang dari semenit, balasan dari Rama masuk.

Diterima. Kami sudah mengendus vendor palsu itu. PT. Tunas Pangan Sejahtera. Kami akan bergerak secepatnya. Ibu pastikan posisi Ibu aman.

Aku menghela napas panjang, lalu segera menghapus riwayat pesan tersebut, mematikan daya ponsel, dan menyembunyikannya kembali ke dasar kotak pembalut.

Aku bukan pahlawan kesiangan yang peduli pada gizi anak-anak bangsa di dunia fiksi ini. Masa bodoh dengan apa yang mereka makan. Namun, hukum alam di semesta sinetron ini sangat absolut: jika proyek itu berjalan dan ada anak tak berdosa yang mati keracunan, dosa itu akan terakumulasi. Langit akan murka, dan azab mengerikan itu akan langsung menyambar tanpa ampun. Tubuh Kiara ini akan hangus terbakar dan lumpuh total. Aku tidak akan membiarkan kulit mulusku melepuh hanya karena keserakahan dua pezina di luar sana!

Aku tertawa. Setidaknya di sini yang mencanangkan 3P cuma selevel politikus. Bayangkan jika presiden dan semua antek korupnya. Aku tidak terbayang apa yang bisa kulakukan sebagai istri seorang politikus yang jelas berposisi jauh lebih lemah dari pemegang tampuk kekuasaan terbesar negara.

Selesai mandi dan berpura-pura berdandan dengan murung, aku turun ke ruang makan.

Di meja makan panjang itu, suasana terasa sangat dingin hingga nyaris membekukan tulang. Panji sedang duduk memegang tabletnya, menyeruput kopi hitam tanpa gula. Di seberangnya, Sonya duduk kaku. Makanan di piring wanita itu sama sekali belum tersentuh. Aku heran perempuan ini sekarang semakin sering berada di rumahku. Semakin tidak tahu malu!

Yah, biarlah. Dengan begini jadi lebih mudah untuk menjerat keduanya sekaligus.

"Aku minta semua rincian audit internal PT. Tunas Pangan Sejahtera pagi ini juga, Sonya. Semuanya. Laporan laba rugi, daftar supplier bahan baku, sampai mutasi rekening mereka," suara Panji memecah keheningan, memotong udara seperti pisau jagal.

Sonya mendongak, raut wajahnya campur aduk antara terkejut dan tersinggung. "Mas? Kenapa tiba-tiba? Vendor itu milik sepupuku, aku sendiri yang menjamin kredibilitasnya di atas kertas. Semuanya sudah kuatur dengan sempurna agar tidak terlacak ke namamu."

"Itu sebelum ada tikus yang membobol brankasku dan membocorkan dokumen Limbung ke media!" bentak Panji. Dia meletakkan cangkir kopinya dengan keras hingga cairan hitam itu tumpah ke taplak meja putih. "Aku tidak peduli itu sepupumu atau ibumu sekalipun! Kunci brankas itu ada padamu semalaman, Sonya. Dan keesokan paginya, dokumen itu sudah ada di tangan polisi. Kamu pikir aku idiot?!"

Aku melangkah pelan mendekati meja makan, menarik kursi di ujung meja sambil menundukkan kepala. Aku menyembunyikan senyum simpulku di balik poni rambut yang jatuh menutupi wajah. Racunku bekerja dengan sangat sempurna. Benih paranoia yang kutanamkan semalam kini telah tumbuh menjadi pohon berduri di kepala Panji.

Lihat selengkapnya