Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #13

Bab 12 - Tirai Kebisuan

Sudah sebulan aku terkurung di dalam rumah. Aku benar-benar diisolasi dari dunia luar. Pintu gerbang selalu digembok ganda, sementara Pak Parjo dan dua satpam berwajah beringas bergantian berpatroli di halaman. Panji memanggilku beberapa kali untuk melampiaskan nafsunya. Aku hanya bisa pasrah. Menolak keinginannya, sama dengan meletakkan pisau di leherku lebih cepat.

Setidaknya, aku belum melihat ada tanda-tanda azab akan turun. Semua berjalan lancar. Panji tampak semakin tenang dari hari ke hari. Dan bayangan wajah Kiara hangus pun baru muncul tadi pagi. Seolah memberi firasat sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

Aku kembali menusukkan jarum rajut ke gulungan benang wol di pangkuan, meneruskan hobi palsuku agar terlihat seperti istri tolol yang patuh. Di duniaku yang asli, kebebasan adalah oksigen. Aku bisa berpindah dari satu hotel bintang lima ke hotel lainnya, menguras rekening para hidung belang, lalu menghilang tanpa jejak. Terperangkap di tubuh lemah ini dan diawasi dua puluh empat jam benar-benar menguji batas kewarasanku. Apalagi aku tidak diizinkan menonton berita. Hanya diberi saluran film berlangganan tanpa ada berita kekinian. Aku benar-benar buta.

Suara deru mobil memasuki pekarangan menghentikan lamunanku. Pintu utama terbuka lebar, menampilkan sosok Panji yang melangkah masuk dengan aura kemenangan yang menyengat. Jas mahalnya disampirkan di lengan kiri, sementara tangan kanannya melonggarkan dasi sutranya. Pria itu menyeringai lebar, sebuah ekspresi yang selalu berhasil membuat isi perutku bergejolak jijik.

Aku segera meletakkan rajutanku, berdiri, dan menyambutnya dengan senyum lembut yang sudah kulatih ratusan kali di depan cermin. Topeng istri penurutku terpasang sempurna.

"Mas sudah pulang? Mau kubuatkan teh hangat atau air es?" tawarku seraya meraih jas dari tangannya.

"Tuangkan aku whiskey, Kiara. Malam ini kita merayakan kemenangan dan kecerdasanku," titahnya congkak. Pria itu mengempaskan tubuh besarnya ke sofa, merentangkan kedua tangan layaknya raja yang baru saja menaklukkan kerajaan tetangga.

Aku berjalan ke arah meja bar, menuangkan cairan keemasan itu ke dalam gelas kristal, lalu menyajikannya di hadapan suamiku. Aku duduk di sofa seberang, menundukkan pandangan, menunggu pria narsis ini menyombongkan kejahatan terbarunya. Dia sangat suka mendengar suaranya sendiri.

"Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku terlihat sangat santai hari ini," Panji membuka percakapan, menyesap minumannya perlahan. "Berita di luaran sana pasti sedang heboh membicarakan penangkapan Sonya. Publik mengira aparat akhirnya berhasil mencium bau busuk dari proyek-proyekku melalui pelacur bodoh itu."

Aku mengangguk pelan, meremas ujung dasterku dengan ekspresi cemas buatan. "Aku... aku sangat takut, Mas. Sonya tahu semua rahasia perusahaanmu. Dia memegang semua berkas aslinya. Bagaimana kalau dia menyebut namamu di ruang interogasi? Polisi bisa datang ke rumah ini kapan saja."

Panji tertawa terbahak-bahak. Tawanya menggema di ruang tengah yang luas, terdengar sangat sumbang dan mengerikan.

"Kamu pikir pelacur itu berani menyeret namaku di depan penyidik, Kiara? Jangan naif!" Panji meletakkan gelasnya dengan keras di atas meja. Matanya berkilat penuh kelicikan. "Semalam, pengacara utusanku sudah menjenguknya di sel tahanan sementara. Sonya punya dua pilihan yang sangat mudah untuk diputuskan oleh otak rasionalnya."

Panji mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku dengan intensitas yang membuat napasku tertahan. Dia ingin aku tahu persis seberapa besar kekuasaan yang dia genggam.

"Pilihan pertama," Panji mengangkat satu jarinya. "Dia bungkam seribu bahasa, menelan semua tuduhan manipulasi tender itu sendirian. Sebagai imbalannya, aku sudah mengatur agar dia dipindahkan ke blok sel istimewa. Ada pendingin ruangan, televisi, dan makanan dari luar. Ditambah lagi, aku sudah menyiapkan dana pensiun sebesar satu juta dolar di rekening anonim Cayman Island yang bisa dia nikmati saat bebas tiga tahun lagi. Hakim ketua di pengadilannya adalah teman main golfku."

Pria itu tersenyum miring, lalu mengangkat jari keduanya. "Pilihan kedua. Dia bernyanyi menyebut namaku. Pengacaraku langsung mengingatkannya tentang sebuah sertifikat tanah palsu di daerah pinggiran lima tahun lalu. Kasus penggelapan yang membuat seorang petani tua gantung diri di pohon mangga karena tanahnya dirampas. Sonya yang memalsukan tanda tangan petani itu. Jika dokumen itu kuserahkan ke pihak lawan politikku, Sonya akan membusuk di penjara seumur hidup."

Lihat selengkapnya