Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #14

Bab 13 - Hukum Rimba

Hari berlalu dengan lambat, seakan waktu sengaja membeku untuk menyiksaku. Dua puluh empat jam menuju distribusi Program Piring Pintar (3P). Panji tampak lebih sibuk dari biasanya. Pria itu menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang kerja lantai dua, berteriak pada seseorang di telepon, mengatur armada truk yang akan menyebar ke ratusan sekolah di provinsi ini sebelum fajar menyingsing lusa nanti.

Di bawah pengawasan puluhan lensa CCTV yang tak pernah berkedip, aku memainkan peranku dengan baik. Aku menyiram aglonema di taman belakang, merapikan dasi Panji saat ia hendak berangkat sebentar ke dinas, dan menyajikan kopi hitamnya dengan takaran gula yang presisi. Tidak ada sedikitpun raut kepanikan di wajahku, meski di dalam kepalaku, sebuah skenario sabotase berdarah sedang dirakit dengan kecepatan penuh.

Tepat pukul sebelas siang, saat Panji sedang berada di kamar mandi utama, aku memanfaatkan waktu emas itu. Aku mengambil ponsel murahan rahasiaku dari dasar tumpukan pembalut cadangan yang sengaja kusimpan di sana. Layar menyala, menampilkan satu pesan masuk dari Rendra.

Koordinat didapat. Gudang sewaan di kawasan industri Margomulyo. Atas nama CV. Pangan Nusantara. Rama sudah memverifikasi, ada lebih dari tiga puluh truk boks terparkir di sana malam ini. Mereka dijadwalkan jalan jam empat pagi.

Aku menyeringai tipis. Kerja bagus, Rendra. Sekarang giliranku.

Aku mengetik balasan dengan cepat. 

Rendra, seberapa besar jaringan informan jalananmu? Preman pasar, ketua ormas, atau grup WhatsApp emak-emak kompleks di sekitar Margomulyo?

Balasan Rendra masuk beberapa detik kemudian. 

Cukup luas. Kenapa?

Kita tidak bisa memakai polisi, Rendra. Birokrasi terlalu lambat dan Panji terlalu licin. Jika hukum tertulis buta huruf, kita akan pakai hukum rimba. Aku ingin kamu membuat selebaran digital anonim siang ini juga. Sebarkan ke seluruh grup warga di sekitar kawasan Margomulyo.

Selebaran apa?

Teks balasannya seolah memancarkan kebingungan sang wartawan idealis dari seberang sana.

Tulis huruf kapital besar-besar: 

GUDANG CV PANGAN NUSANTARA MENIMBUN RATUSAN TON BERAS DAN MINYAK GORENG BANSOS YANG AKAN DIJUAL DIAM-DIAM KE LUAR NEGERI MALAM INI. SIAPA CEPAT DIA DAPAT, AMBIL HAK KALIAN SEBELUM TRUKNYA BERANGKAT JAM 3 PAGI. 

Bagikan lokasinya.


Dua menit berlalu tanpa balasan. Rendra pasti sedang mematung di suatu tempat, mencerna rencanaku yang sangat tidak bermoral ini.

Ibu Kiara, ini gila!

 Balasan Rendra akhirnya muncul. 

Anda menyuruh saya menyebar hoaks untuk memicu penjarahan massal?! Itu tindakan kriminal! Bisa jatuh korban jiwa!

Lihat selengkapnya