Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #15

Bab 14 - Skakmat dan Serangan Balik

Cengkeraman Panji di rahangku menguat hingga aku bisa merasakan tulangku bergesekan. Sakitnya bukan main. Napas pria itu memburu, beraroma alkohol dan keputusasaan yang busuk. Matanya yang merah menatapku seakan ingin menguliti wajahku hidup-hidup.

"Siapa yang bekerja sama denganmu, Kiara?!" bentaknya lagi, air liurnya sedikit memercik ke wajahku. "Bicara atau kupatahkan lehermu malam ini juga!"

Insting bertahanku sebagai penipu jalanan seketika mengambil alih. Di saat aku terpojok di ujung jurang, jangan pernah menunjukkan kelemahan yang nyata. Lawan balik dengan logika yang paling tak terbantahkan, lalu serang balik egonya.

"Sakit, Mas! Lepas!" Aku meronta, memukul dadanya dengan kedua kepalan tanganku, membiarkan air mataku tumpah ruah akibat rasa nyeri yang kutransmutasikan menjadi kemarahan seorang istri yang difitnah.

Aku meronta sekuat tenaga hingga Panji terpaksa melepaskan cengkeramannya karena tak ingin kehilangan keseimbangan. Aku jatuh tersungkur di atas kasur, memegangi leherku yang berdenyut panas, lalu menatapnya dengan nyalang.

"Pikir pakai otakmu, Mas! Pikir!" teriakku histeris, menunjuk wajahnya dengan jari gemetar. "Mas sita semua ATM dan kartu kreditku! Mas rampas ponselku dan menggantinya dengan ponsel baru yang ada pelacaknya! Mas pasang puluhan lensa CCTV laknat di seluruh penjuru rumah ini! Parjo dan satpam-satpam berengsekmu itu membuntutiku bahkan saat aku hanya menyiram bunga di halaman belakang!"

Napasku tersengal-sengal, dadaku naik turun dengan dramatis.

"Lalu dengan cara apa aku menyewa ribuan preman untuk menjarah gudang di tempat yang namanya saja baru dengar dari mulutmu malam ini?! Pakai daun?! Pakai telepati?!" raungku memekakkan telinga. "Mas pikir aku, Kiara, istrimu yang cuma peduli bagaimana bisa pergi ke salon ini, punya kekuatan untuk merakit kerusuhan massal di kawasan industri pada jam tiga pagi?!"

Kalimatku menabrak wajah Panji layaknya batu bata. Pria itu terdiam kaku. Matanya yang liar mulai berkedip cepat, memproses setiap kata yang kulontarkan. Logika kasarnya mulai bekerja menembus kabut alkohol dan paranoia. Secara teknis, fisik, dan finansial, Kiara memang tidak punya kemampuan untuk melakukan sabotase sekelas itu.

Melihat pertahanannya goyah, aku langsung memasukkan racun utamaku.

"Kamu terlalu sibuk menuduhku sampai kamu buta pada musuh aslimu, Mas," bisikku tajam, menurunkan nada suaraku menjadi desisan penuh cibiran. "Siapa satu-satunya orang di luar sana yang tahu persis detail proyek 3P-mu? Siapa yang marah besar karena kamu membatalkan vendor sepupunya? Sonya!"

"Sonya ada di sel isolasi!" bantah Panji, meski suaranya tak lagi seyakin tadi.

"Tapi dia tidak mati!" balasku cepat. "Mas sendiri yang bilang dia punya jaringan, punya uang di luar negeri, punya pengacara! Mas pikir ancaman foto ibunya itu cukup untuk membuat wanita selicik Sonya diam membeku? Dia membalas dendam, Mas! Dia membocorkan lokasi gudang barumu ke preman bayarannya atau lawan politikmu untuk menghancurkanmu, persis seperti yang Mas lakukan padanya!"

Panji mematung. Ada desisan keluar dari sela-sela giginya. Di dalam kepalanya, skenario pengkhianatan Sonya jauh lebih masuk akal dibandingkan konspirasi absurd yang melibatkan istrinya yang terkurung.

"Sialan..." umpat Panji pelan. Matanya beralih dari wajahku, menatap kosong ke arah pintu kamar. "Wanita jalang itu benar-benar menantangku."

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Panji berbalik dan melangkah keluar dari kamar. Dia menutup pintu kayu jati itu dan sedetik kemudian, aku mendengar bunyi klik yang berat dari luar. Pintu dikunci dari luar.

Aku terperangkap di dalam kamar utama.

Namun, napas lega yang luar biasa panjang meluncur dari bibirku. Aku menjatuhkan diri ke atas kasur, menatap langit-langit dengan tubuh gemetar. Aku berhasil. Mulut manisku kembali menyelamatkan nyawaku dari maut yang berjarak hanya satu sentimeter.

Lebih dari itu, proyek Program Piring Pintar telah hancur lebur di jalanan malam ini. Jutaan porsi makanan beracun itu gagal masuk ke perut anak-anak miskin. Karma buruk batal terakumulasi. Azab mengerikan itu batal turun. Tiket pulangku ke duniaku yang asli masih aman di genggaman.

---

Lihat selengkapnya