Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #16

Bab 15 - Kemenangan Pahit

Suara derit rem yang melengking panjang, diikuti bunyi benturan logam dan teriakan dari layar televisi, memecah keheningan ruang tengah. Di layar beresolusi tinggi itu, stasiun berita nasional kembali menyiarkan tayangan langsung. Kali ini, bukan kerusuhan warga, melainkan penggerebekan terorganisir di tiga gerbang tol utama ke luar kota.

Hebat juga si Rendra mengerahkan banyak rekan-rekannya untuk meliput peristiwa yang menegangkan ini.

Truk-truk boks putih polos tanpa logo yang berjejer panjang di bahu jalan tampak dikepung oleh puluhan mobil patroli. Barikade polisi memblokir setiap akses pelarian. Kamera berita menyorot detik-detik ketika petugas berseragam membongkar paksa gembok pintu belakang truk bernomor polisi B 8721 KQ—salah satu nomor plat yang beberapa jam lalu kukirimkan kepada Rendra.

Begitu pintu besi itu terbuka, tumpukan kotak pendingin berisi daging ayam tiren yang sudah membiru dan sayuran busuk terekspos ke hadapan publik. Tidak ada kardus kosong. Tidak ada truk umpan. Rama dan Rendra berhasil memilah mana armada asli dan mana jebakan, lalu menebas kepala ular itu tepat sebelum ia sempat mematuk mangsanya.

Sabotase itu berhasil sempurna.

Dari lantai dua, raungan panjang yang diwarnai amarah terdengar menggema hingga membuat lampu kristal di ruang tengah seakan bergetar. Suara bantingan meja, pecahan kaca, dan rentetan umpatan kasar meledak tanpa henti dari dalam ruang kerja Panji. Suamiku itu sedang menghancurkan segala benda yang bisa dijangkau oleh tangannya. Kerugian triliunan rupiah dalam satu malam, ditambah hancurnya seluruh skema distribusi cadangan, telah mengubah pria arogan itu menjadi monster yang kehilangan kewarasan.

Namun, saat aku duduk terpaku di sofa, menatap layar televisi dengan tangan bertaut, aku tidak ikut tersenyum. Tidak ada sorak kemenangan di dalam hatiku. Perlahan, seiring dengan detak jantungku yang memburu, hawa dingin yang tak kasatmata merayap naik dari ujung kakiku, mencengkeram tengkukku dengan sangat kuat.

Senyumku yang sempat terbit kini luntur sepenuhnya. Otak penipuku yang terbiasa menganalisis skema penipuan tingkat tinggi baru saja menyadari satu lubang besar dalam narasi ini. Sebuah kepingan puzzle yang tadinya kuanggap sebagai kebodohan Panji, kini berbalik menjelma menjadi teror nyata.

Gudang Margomulyo.

Kerusuhan yang kupicu di kawasan industri itu terjadi karena Panji menyimpan barang busuk di sana. Namun... jika pagi ini Panji sudah menyiapkan armada decoy untuk mengecoh polisi, itu artinya dia sudah tahu bahwa akan ada pihak yang mencoba menyabotase distribusinya. Pembuatan puluhan truk umpan dan sistem desentralisasi tidak bisa disiapkan dalam waktu semalam. Itu butuh perencanaan berhari-hari.

Panji sudah curiga ada pengkhianat di lingkarannya jauh sebelum aku bergerak menyabotase gudang Margomulyo.

Napas kasarku berembus menabrak telapak tangan. Astaga. Gudang Margomulyo itu bukan kecerobohannya. Gudang itu adalah jebakan yang sengaja ia pasang. Sebuah umpan beracun untuk menguji loyalitas orang-orangnya, untuk melihat siapa tikus yang akan memakan umpan tersebut dan berlari ke arah polisi. Panji melepaskan sedikit asetnya agar diserang, semata-mata untuk mengonfirmasi bahwa ada mata-mata yang mengawasinya. Dia sudah tahu ada yang tidak beres, dia hanya belum tahu siapa pelakunya.

Dan aku, dengan segala keangkuhanku, telah menari tepat di atas panggung yang ia bangun. 

AKU TERJEBAK!

Aku harus segera mengubah strategi. Menjadi istri yang diam dan pasif justru akan membuatku terlihat bersalah saat Panji mulai mengeliminasi tersangka satu per satu. Aku harus mengambil langkah defensif. Aku harus memposisikan diriku sebagai pion yang terlalu polos untuk merencanakan makar, tetapi cukup peduli untuk memberikan peringatan yang tak disengaja.

Lihat selengkapnya