Ketegangan sore itu mengendap menjadi rutinitas baru yang mengiris paru-paru. Panji tidak memarahiku, tidak juga menuduhku melakukan apa pun. Sikap diamnya justru terasa seperti ujung mata pisau guillotine berkarat yang sengaja ditahan tepat satu sentimeter di atas leherku. Aku bisa sadar kalau lelaki itu mengawasiku lekat-lekat, membiarkan kabut paranoia di dalam kepalanya perlahan-lahan mengambil alih seluruh sistem keamanan rumah ini.
Aksesku ke dunia luar diputus dengan brutal. Ponsel murahan rahasiaku harus tetap terkubur di dasar kotak pembalut di kamar mandi tamu. Benda itu terlalu berisiko untuk disentuh, apalagi untuk dinyalakan, di saat Panji kini sering berkeliling rumah di tengah malam seperti predator insomnia yang sedang mengendus bau darah.
Sebagai gantinya, sore tadi Panji memberiku sebuah ponsel pintar keluaran terbaru.
"Agar kamu tidak bosan di rumah, Sayang," katanya dengan senyum kaku yang sama sekali tidak terlihat tulus.
Namun, mata penipuku tahu persis apa isi kotak pandora logam itu. Ponsel mahal tersebut terasa panas di genggamanku. Ia telah ditanami apk pelacak GPS militer yang tidak bisa dimatikan, aplikasi perekam layar otomatis, dan mikrofon yang bisa diaktifkan dari jarak jauh. Jika aku mengetik nama 'Rama' atau 'KPK' di mesin pencari, atau sekadar mencoba mengirim pesan kosong ke nomor asing, notifikasinya akan langsung masuk ke tablet Panji dalam hitungan detik.
Aku terisolasi. Untuk pertama kalinya sejak kesadaranku terlempar ke dalam tubuh istri malang di dunia sinetron ini, aku benar-benar buta dan tuli dari pergerakan dunia luar. Tidak ada laporan intelijen dari Rendra. Tidak ada bala bantuan dari Rama. Aku sendirian menghadapi monster yang tinggal satu atap denganku.
Rumahku benar-benar terasa bagai neraka.
Makan malam hari itu berlangsung dalam keheningan yang membuat telingaku berdengung sakit. Meja makan kayu mahoni berukuran panjang ini terasa seperti lapangan eksekusi. Aku duduk di ujung, Panji di ujung lainnya. Jarak kami hanya terpisah oleh beberapa piring keramik berisi hidangan mewah, namun secara psikologis, rasanya seperti dipisahkan oleh ladang ranjau darat yang siap meledak.
Suara denting pisau yang beradu dengan piring mendominasi ruangan. Panji memotong daging steak miliknya dengan gerakan yang terlampau rileks. Bahunya turun santai, otot rahangnya tidak menegang seperti malam saat proyeknya hancur. Dia mengunyah perlahan, menyesap anggur merahnya, lalu menatapku dengan sorot mata santai.
Terlalu santai hingga membuatku takut.
"Penyidik mulai mengendus pergerakan dana di perusahaan-perusahaan palsu yang dulu dikelola oleh Sonya," ucap Panji tiba-tiba. Suaranya mengalun pelan, memecah kesunyian seolah kami sedang membahas tentang turunnya hujan esok pagi.
Aku mengangkat wajahku dari piring, menghentikan kunyahanku seketika. Aku memaksakan otot wajahku untuk membentuk ekspresi seorang istri yang cemas dan pasif, menunggu kalimat suaminya.