Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #19

Bab 18 - Sekutu yang Goyah

[POV 3 - Rendra]


Asap rokok mengepul pelan, menari di bawah pendar lampu meja yang remang. Di ruang kerjanya yang berantakan, Rendra duduk mematung. Suasana ruangan itu terasa pekat, mencekam layaknya sebuah adegan dari film thriller di bioskop. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap lekat pada sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim yang baru saja diselipkan oleh seseorang ke bawah pintu rumah kontrakannya sekitar satu jam yang lalu.

Isi amplop itu berserakan di atas mejanya. Salinan mutasi rekening, foto-foto buram, dan sebuah dokumen berisi kronologi naratif yang diketik rapi.

Dokumen itu tidak dikirim oleh Panji, apalagi Kiara. Rendra tahu insting jurnalistiknya sedang membunyikan alarm bahaya. Surat anonim ini adalah sebuah serangan mematikan dari pihak ketiga. Pesan di dalamnya sangat jelas dan menghantam narasi yang selama ini ia bangun bersama Rama: Kiara ternyata dalang di balik semua hal ini!

Menurut dokumen itu, Kiara ikut menikmati miliaran rupiah dari dana korupsi proyek Limbung. Ia membiarkan Sonya mengambil risiko di garis depan, lalu sengaja membocorkan borok Sonya kepada pihak berwajib agar selingkuhan suaminya itu tersingkir. Tujuannya? Kekuasaan tunggal. Kiara ingin menjadi ratu tunggal di atas tumpukan harta haram Panji.

Rendra menghela napas kasar, mengusap wajahnya yang kasar oleh cambang. Sebagai jurnalis investigasi, ia terbiasa menerima dokumen fitnah yang dibuat untuk memecah belah fokus penyelidikan. Awalnya, ia berniat melempar kertas itu ke tempat sampah.

Namun, ada sesuatu yang sangat berbahaya dari dokumen ini, beberapa detailnya terlalu akurat dan seolah berasal dari orang dalam.

Surat itu menyebutkan bahwa pada bulan November tahun lalu, Kiara hadir di sebuah pertemuan tertutup dengan vendor penyedia material proyek Limbung di sebuah hotel berbintang. Dokumen itu melampirkan foto Kiara yang sedang duduk di lobi hotel tersebut, menandatangani sebuah berkas. Itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Si pengirim rahasia, yang Rendra yakini kuat adalah orang suruhan Sonya di luar penjara, menggunakan serpihan fakta nyata di masa lalu untuk membungkus sebuah kebohongan besar hari ini.

Mereka telah saling serang!

Rendra menggeser tetikusnya, membuka layar laptop. Ia menggali arsip digital lamanya, membuka folder profil keluarga Panji yang ia kumpulkan beberapa bulan lalu sebelum ia bersekutu dengan istri pejabat itu.

Layar laptop menampilkan foto-foto lama Kiara saat menghadiri acara amal dan peresmian proyek bersama Panji. Rendra memperbesar gambar tersebut. Di foto setahun yang lalu itu, Kiara tampak berambut panjang lurus. Wajahnya jarang tersenyum lebar, selalu menunduk sedikit, dan tubuhnya memancarkan aura seorang perempuan yang lebih suka diam dan selalu berlindung di balik bayang-bayang suaminya yang dominan.

Lalu, Rendra membuka tab baru. Ia memutar rekaman video amatir yang ia ambil sendiri saat Kiara berdiri di balkon rumah beberapa hari yang lalu.


Rendra menekan tombol pause, mengamati wajah Kiara di layar. Rambutnya masih lurus, tapi lebih tertata. Daster putihnya robek, tetapi matanya... mata itu sama sekali berbeda. Tatapan Kiara saat ini tajam, menusuk, dan penuh perhitungan. Meskipun ia sedang menangis histeris di balkon waktu itu, gerakan tubuhnya sangat efisien. Cara ia berbicara, mengambil keputusan seketika, dan mengarahkan opini publik, semuanya bergerak dengan ritme seseorang yang memiliki keahlian memanipulasi keadaan tingkat tinggi.

Perbedaan ini membuat bulu kuduk Rendra meremang. Kiara yang lama bagaikan kelinci peliharaan yang ketakutan. Sementara Kiara yang sekarang? Rendra seperti sedang melihat sosok yang sama sekali baru,  makhluk pemangsa berdarah dingin yang memiliki insting mematikan, menyembunyikan bisa dan taringnya di balik topeng istri yang teraniaya.

Lihat selengkapnya