Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #20

Bab 19 - Berburu Orang, Bukan Data

[POV 1 - Nada]


Di duniaku yang asli, ada satu aturan emas yang selalu kupegang teguh setiap kali harus membongkar sebuah rahasia besar, jangan pernah mencari di mana rahasia disimpan, tetapi seranglah pembuatnya.

Panji adalah seorang sosiopat paranoid yang mengagungkan kontrol. Dia menyimpan seluruh data kejahatannya di dalam sebuah Solid State Drive (SSD) yang pastinya sudah sangat terenkripsi. Dia tidak mungkin mengunggahnya ke cloud karena rawan di-crack. Aku juga bisa paham kalau untuk generasi Xenial seperti dirinya, menyimpan data di cloud masih belum umum. 

Aku tahu betul kemampuanku. Aku ini penipu jalanan, manipulator ulung, pencerita kebohongan. Aku bukan peretas jenius yang bisa mengetikkan ribuan baris kode di depan layar komputer untuk menjebol kata sandi 25 karakter. Jika aku memaksa mencari tahu kata sandi itu, aku hanya akan membuang waktu dan berisiko memicu sistem penghancur data otomatis yang mungkin sudah dipasang Panji.

Lagipula, untuk apa aku repot-repot mencuri datanya? Yang kubutuhkan saat ini bukanlah isi dari brankas itu. Yang kubutuhkan hanyalah bukti bahwa brankas itu ada dan di mana letaknya. Jika aku bisa memberikan lokasi pasti dan bukti keberadaan brankas rahasia itu kepada Rama, sang polisi lurus itu akan memiliki dasar yang sangat kuat untuk meminta surat penggeledahan resmi dari pengadilan. Begitu polisi merangsek masuk dengan surat resmi, Panji tidak akan bisa berkutik, dan Rama bisa menyita brankas itu beserta isinya secara legal.

Jadi, aku memutuskan untuk bergerak sendiri. Aku tidak akan memburu data, aku akan memburu manusia.

Sebuah brankas dinding rahasia seberat ratusan kilogram, apalagi yang disembunyikan di balik panel baja atau di bawah lantai marmer, tidak mungkin dipasang oleh Panji sendirian. Dia pasti menyewa jasa profesional. Seorang spesialis. Dan orang itu pasti masih hidup di luar sana, membawa pengetahuan tentang tata letak rumah ini di dalam kepalanya.

Pertanyaannya, dari mana aku bisa mendapatkan nama tukang tersebut?

Aku tidak mungkin bertanya pada Pak Parjo. Sopir senior itu adalah anjing penjaga Panji yang paling setia. Jangankan memancing informasi, sekadar bertanya tentang cuaca saja Parjo pasti akan melaporkannya pada Panji. Aku juga tidak mungkin memancing Bi Ijah. Pelayan tua itu sudah mencurigaiku, tatapan matanya selalu menyiratkan analisis yang tajam setiap kali aku melintas.

Pilihanku jatuh pada satu-satunya mata rantai terlemah dalam hierarki rumah tangga ini, Pak Darmo.

Darmo adalah sopir muda yang baru bekerja di rumah ini selama satu tahun. Dia menggantikan sopir cadangan yang lama. Darmo belum sepenuhnya terkontaminasi oleh kebusukan Panji. Dia masih naif, sering tersenyum, dan belum sepenuhnya paham demarkasi loyalitas di rumah ini. Bagi Darmo, nyonya rumah adalah majikan yang harus dihormati dan dilayani pertanyaannya.

***

Siang itu, matahari bersinar terik, memanggang atap garasi yang terbuka setengah. Panji sedang pergi entah ke mana, diantar oleh Parjo menggunakan mobil SUV utamanya. Rumah terasa lengang. Aku melangkah ke area paviliun belakang, membawa nampan berisi dua gelas es jeruk dan sepiring pisang goreng hangat yang baru saja diangkat dari wajan oleh koki.

Lihat selengkapnya