Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #21

Bab 20 - Kepercayaan yang Dibeli dengan Bukti

[POV 3 - Bi Ijah]

Di balik bayangan pilar pualam yang memisahkan area dapur bersih dan lorong menuju garasi, Bi Ijah mematung. Tangan tuanya yang keriput mencengkeram gagang pel dengan buku-buku jari yang memutih. Napasnya tertahan di kerongkongan, sebisa mungkin ia meredam suara tarikan napasnya agar tak terdengar hingga ke pekarangan.

Tidak ada yang memperhatikannya. Nyonya Kiara, dengan langkah ringan dan senyum yang terasa begitu asing, baru saja berjalan di depannya lalu masuk ke dalam rumah.

Telinga Bi Ijah yang masih sangat tajam telah menangkap setiap kata yang meluncur dari percakapan majikannya dengan Darmo di garasi tadi. Sebuah percakapan yang di telinga orang awam terdengar seperti basa-basi seorang nyonya rumah yang peduli, tetapi di telinga Bi Ijah, itu adalah sebuah interogasi yang mematikan. 

Nyonya Kiara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia hanya mengomel kalau kuteknya mengelupas, atau ujung bajunya tersangkut bebatuan di taman. Dia perempuan manja, cengeng, dan hanya tahu cara membuka kaki lebar-lebar demi memuaskan Panji.

Kiara yang sekarang terlihat berbeda. Dia cerdas, penuh perhitungan, dan jauh lebih punya wibawa.

Adiwarna. Tiga tahun lalu. Brankas.

Mata Bi Ijah membelalak pelan dalam keremangan lorong. Ingatannya yang tersusun rapi selama lima belas tahun bekerja di rumah ini seketika menarik sebuah memori dari malam yang diguyur hujan lebat tiga tahun silam.

Malam itu, Tuan Panji memerintahkannya dengan nada mengancam untuk membukakan pintu samping bagi seorang pria berjaket kulit yang membawa tas perkakas berat. Lelaki itu adalah Pak Adiwarna. Tuan Panji menyuruh semua pelayan tutup mulut dengan bayaran yang cukup untuk merenovasi rumah di kampung.

Namun, bagian terpenting dari memori itu bukanlah kedatangan sang teknisi, melainkan fakta absolut bahwa Nyonya Kiara yang asli saat itu sedang tidur pulas di kamarnya. Kiara tidak tahu apa-apa dan pastinya tidak peduli tentang brankas itu. Jangankan bertanya kepada sopir baru, Nyonya Kiara yang lama selalu gemetar ketakutan jika Tuan Panji sudah mengunci pintu ruang kerjanya.

Lalu, siapa perempuan berdaster yang baru saja berlalu ini?

Bi Ijah merasakan hawa dingin merayap naik di sepanjang tulang belakangnya. Kepingan teka-teki yang selama ini mengganggu pikirannya akhirnya menyatu. Sorot mata yang tajam bak pemangsa, postur tubuh yang tidak lagi melengkung ketakutan, dan kini... kelihaiannya menggali rahasia suaminya sendiri dari seorang sopir yang polos.

Perempuan ini bukan Kiara. Bi Ijah tidak mengerti ilmu gaib atau semacamnya, tetapi insting yang dilatih puluhan tahun mengatakan bahwa ada sesuatu yang sangat berbahaya sedang bersarang di dalam tubuh nyonyanya. Sesuatu yang sedang merakit bom waktu dari dalam rumah ini. Bi Ijah mundur selangkah, menelan ludah yang terasa pahit. Dia harus memutuskan di pihak mana ia akan berdiri, sebelum rumah megah ini runtuh menimpa semua orang di dalamnya.

[POV 1 - Nada]


Malam beringsut semakin larut, menenggelamkan rumah ini ke dalam keheningan yang menyesakkan. Hujan rintik-rintik mulai turun, mengetuk kaca jendela kamarku dengan ritme yang monoton. Aku duduk bersila di atas karpet, mendengarkan dengan saksama suara derit lantai kayu dari lorong luar. Panji sudah masuk ke kamar tamu di ujung timur, tempat ia biasa tidur jika paranoianya sedang memuncak dan ia menolak tidur satu ranjang denganku.

Ini adalah saatnya.

Aku merangkak ke arah kamar mandi, memastikan pintu tertutup rapat sebelum menghidupkan exhaust fan untuk meredam suara apa pun. Dari dasar kotak pembalut yang menjadi brankas pribadiku, aku menarik keluar gawai murahan itu. Tanganku sedikit berkeringat. Menyalakan ponsel ini di saat Panji mungkin sedang memantau detektor sinyal di rumah adalah sebuah perjudian gila, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku butuh Rama dan Rendra.

Lihat selengkapnya