Diazab Masuk Sinetron Azab

Shireishou
Chapter #22

Bab 21 — Pengkhianatan dari Wajah yang Dikenal

[POV 3 - Panji]


Pagi itu, udara di dalam rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Panji berdiri bersedekap di tengah ruang keluarga, matanya yang memerah karena kurang tidur menatap tajam ke arah dua orang teknisi berseragam biru. Selama dua jam terakhir, mereka telah membongkar panel listrik, memindai seluruh ruangan dengan detektor frekuensi radio, dan memeriksa log data pada server utama CCTV rumah tersebut.

"Semuanya bersih, Pak Panji," lapor teknisi senior itu, mengusap keringat di dahinya. "Tidak ada perangkat penyadap yang ditanam. Tidak ada anomali sinyal. Tidak ada kamera tersembunyi, dan CCTV Bapak tidak pernah mati sedetik pun. Sistem keamanan rumah ini seratus persen tidak tertembus dari luar."

Rahang Panji mengeras. Fakta bahwa mesin-mesin canggih itu tidak menemukan apa-apa justru membuatnya semakin murka. Jika tidak ada peretas dari luar, maka kebocoran informasi yang menghancurkan kerajaannya benar-benar berasal dari dalam. Dari orang yang tidur di bawah atap yang sama dengannya.

"Keluar kalian semua," usir Panji dingin.

Begitu para teknisi itu pergi, rumah kembali hening. Namun, keheningan itu segera terpecah oleh suara decit pelan langkah sandal kain di atas marmer.

Bi Ijah melangkah perlahan dari arah dapur pembantu. Tangannya yang keriput saling bertaut di depan apron seragamnya, bergetar hebat. Wajah wanita paruh baya itu pucat pasi, namun ada seberkas tekad yang keras di balik matanya yang sayu.

"Tuan Panji..." panggil Bi Ijah dengan suara parau.

Panji menoleh, menatap pelayan tua itu dengan sebelah alis terangkat. "Ada apa, Bi? Aku sedang tidak ingin diganggu."

"Ada yang... ada yang harus saya sampaikan, Tuan. Tentang Nyonya Kiara," ucap Bi Ijah terbata-bata, namun tidak mundur selangkah pun.

Panji memutar tubuhnya sepenuhnya. Nama istrinya selalu menjadi pemicu utamanya akhir-akhir ini. "Bicara."

Bi Ijah menelan ludah. Dia tidak membenci Nyonya Kiara. Sama sekali tidak. Selama lima belas tahun, dia telah merawat wanita itu, menyetrikakan bajunya, dan memasakkan makanan kesukaannya. Kiara juga tidak jarang membelinya hadiah-hadiah mahal. Baju-baju yang sudah dirasa bosan, diberikan ke dirinya.

Namun, apa yang merasuki tubuh nyonyanya saat ini bukanlah sosok yang ia kenal. Bi Ijah telah menyimpan rasa takut ini sendirian selama berhari-hari. Takut melihat rumah tangga yang menjadi sumber penghidupannya ini hancur berkeping-keping. Takut kehilangan satu-satunya kehidupan stabil yang ia kenal. Pada akhirnya, insting bertahan hidup menuntutnya untuk memilih. Dan Bi Ijah memilih kesetiaan pada apa yang ia kenal, daripada membiarkan hal yang tidak ia mengerti menghancurkan segalanya.

"Kemarin siang, saya tidak sengaja mendengar Nyonya Kiara mengobrol dengan Darmo di garasi," Bi Ijah memulai, suaranya kini lebih mantap. "Nyonya menanyakan tentang brankas rahasia Tuan di ruang kerja. Nyonya juga memancing Darmo sampai Darmo menyebut nama Pak Adiwarna... dan sebuah truk distribusi di kawasan timur."

Mata Panji melebar. Detak jantungnya seakan berhenti satu ketukan. Brankas. Adiwarna.

"Dan semalam..." Bi Ijah melanjutkan, suaranya sedikit bergetar lagi saat mengingat kejadian itu. "Saat saya mengantar cucian ke kamar utama tengah malam, pintu tidak terkunci rapat. Saya melihat Nyonya Kiara sedang duduk di ranjang. Beliau memegang sebuah HP yang lain, Tuan. Bukan ponsel baru yang Tuan berikan. Ponsel itu menyala. Nyonya langsung menyembunyikannya di bawah bantal saat melihat saya."

Keheningan yang justru terasa menyayat merajai ruangan itu. Panji tidak berteriak. Dia tidak membanting barang. Yang membongkar penyamaran istrinya ternyata bukanlah mesin pelacak canggih atau perangkat penyadap bernilai puluhan juta, melainkan sepasang mata tua dari seorang pelayan yang selama ini selalu ia anggap tak kasatmata.

"Panggil Darmo ke ruang kerjaku. Sekarang," desis Panji. Suaranya terdengar seperti bisikan malaikat maut.

Lihat selengkapnya