[POV 1 - Nada]
Lima menit yang baru saja berlalu terasa seperti tarikan napas terakhir sebelum tali tiang gantungan ditarik. Ruangan kamar utama ini dipenuhi oleh kekosongan yang mencekik. Panji tidak membanting barang. Ia tidak memecahkan cermin wastafel atau mencekik leherku hingga aku kehabisan napas. Pria itu hanya duduk diam di tepi ranjang, menyerap setiap kata, setiap laporan, dan setiap instruksi sabotase yang tertera di layar ponsel murahan milikku.
Bagi orang awam, kemarahan yang meledak-ledak adalah bentuk teror yang paling menakutkan. Namun bagiku, seorang penipu yang telah menghabiskan separuh hidup membaca gestur dan psikologi manusia, keheningan seorang sosiopat yang baru saja menyadari kekalahannya adalah bentuk ancaman paling murni dari kematian itu sendiri. Panji sedang tidak meratapi nasibnya. Otaknya yang dingin sedang menyusun kalkulasi untuk mengeksekusi.
Dengan gerakan yang terlampau pelan, Panji mematikan layar ponsel rahasiaku, lalu memasukkannya ke dalam saku dalam jasnya. Ia tidak menatapku saat tangannya yang lain merogoh saku celana untuk mengambil ponsel utamanya sendiri.
Jari-jarinya menekan layar dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Mata kosongnya menatap lurus ke arah dinding, menembus ruang dan waktu.
"Pak Sardi," ucap Panji. Suaranya begitu dingin. "Bawa mobil ke pintu belakang. Sekarang."
Panji memutus sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban.
Mendengar nama itu disebut, hawa dingin yang jauh lebih pekat merayap naik di sepanjang tulang belakangku. Jantungku yang semula berpacu kencang kini seolah diinjak oleh sepatu bot berlapis baja. Sardi.
Dari sekian banyak orang di rumah ini, Panji memilih menghubungi bodyguard paling senior itu. Bukan Pak Parjo si penjaga pintu utama, apalagi Darmo yang mungkin sekarang sudah meregang nyawa. Panji memanggil Sardi. Satu-satunya orang lama yang belum pernah kusentuh, belum pernah kuajak bicara panjang lebar, dan belum pernah kumanipulasi. Sardi seperti hantu di rumah ini. Dia adalah tangan tak terlihat milik Panji yang selalu bertugas di luar, mengurus hal-hal kotor yang tidak bisa disentuh oleh dokumen resmi, dan hanya kembali ke rumah ini saat diperintah. Karena presensinya yang nyaris tidak ada, aku mengabaikan keberadaannya dalam peta strategiku. Aku pernah melihatnya sekali di televisi saat nyaris menghabisi Rendra. Astaga! Bagaimana aku bisa melupakannya.
Panji tahu persis bahwa semua orang di dalam rumah ini sudah 'terkontaminasi' oleh kehadiranku. Ia membutuhkan eksekutor yang kesetiaannya tak tergoyahkan dan tak pernah berinteraksi denganku.
Panji perlahan menoleh, memusatkan manik matanya yang gelap gulita kepadaku. Aku masih terduduk di lantai dekat kusen pintu kamar mandi, memeluk lututku yang gemetar.
"Turun ke ruang tamu," perintah Panji. Suaranya terdengar terlalu tenang, terlalu halus, layaknya seorang malaikat maut yang sedang membacakan vonis. "Sekarang, Kiara."
Pria itu bangkit dari ranjang, merapikan kerah jasnya yang sedikit kusut akibat tarikan kasarnya padaku tadi, lalu berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi ke arahku. Dia sangat yakin aku tidak akan bisa lari. Dan dia benar.
Aku memaksa kedua kakiku yang terasa seperti agar-agar untuk menopang tubuhku. Punggungku berdenyut nyeri akibat benturan keras dengan kusen pintu tadi, tetapi rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan teror kematian yang menyelimutiku.
Aku melangkah keluar dari kamar utama. Rumah ini benar-benar telah berubah menjadi peti mati raksasa. Tidak ada suara pelayan. Tidak ada suara tukang kebun. Panji pasti sudah mensterilkan area bawah dan memerintahkan Parjo untuk mengunci setiap akses keluar.
Kutapaki anak tangga marmer itu satu demi satu. Kakiku terasa sangat berat, seolah dipasangi pemberat puluhan kilogram. Aku tahu apa yang menungguku di bawah sana. Ini bukanlah adegan sinetron di mana sang pahlawan akan mendobrak jendela di detik terakhir untuk menyelamatkanku. Di dunia nyata, kejahatan yang terorganisir bekerja dengan efisiensi yang sunyi.